ZAHRANA

ZAHRANA
ikhlas


__ADS_3

l Zahra datang ke kantor bersama Alex.Zahra tau Alex masih terikat kontrak kerjasama dengan perusahaan Arprana, jadi begitu mudah bagi Zahra memanasi Devan.


Sebuah mobil Alphard berwarna coklat muda milik Devan melintas di depan mereka berdua, Zahra mengapit lengan Alex agar terlihat mesra.


Apa yang Zahra fikirkan ternyata di luar dugaan, Devan tak datang sendiri melainkan dengan tunangan palsunya, yaitu Viola, belum apa-apa Zahra sepertinya sudah kepanasan.



Devan dan Viola terhenti di depan Zahra. "Rupanya kamu sudah punya pacar baru ya Ra, " sindir Devan, dirinya juga merasa panas melihat kedekatan Zahra dengan Alex, namun tak ingin memperlihatkan ekspresinya itu.



"Iya Pak, ini calon suami saya..., nggak kayak mantan saya itu Pak, pergi tanpa kejelasan,ngomongnya mau berkomitmen dengan saya, tapi nyatanya ninggalin gak gentle banget tau gak Pak dianya, " Zahra berbalik membalas sindiran Devan.



"Mantan? mantan kamu yang mana? " tanya Devan, penasaran siapa lagi mantan Zahra selain dirinya.


"Itu loh Pak, orangnya nyebelin! maunya cuma sama yang good looking doang Pak! mentang-mentang ganteng, nyakitin orang sembarangan! sampai muak nih muka ngelihat orangnya, bucinnya kebangetan! " jawab Zahra mendetail, agar Devan peka jika sedang disindir.


Devan menjadi kikuk mendengar sindiran Zahra, dia tak mampu berucap apa-apa lagi.


"Ya udah sayang, ayo kita masuk, mantanku orangnya suka banget kepo, " ajak Zahra tersenyum menatap Alex.


Alex membalasnya dengan anggukan kepala, Zahra mengaitkan tangannya ke tangan Alex membuat Alex tersentak seketika.



Zahra mengedipkan matanya pada Alex memberi kode padanya jika dia harus diam saja dan mengikuti permainannya.Alex dan Zahra berjalan melewati Devan dan Viola masuk ke kantor.


"Kamu manggil dia sayang? " tanya Devan lantang, membuat langkah Zahra dan Alex terhenti begitu saja.


Zahra tersenyum simpul, rencananya untuk membuat Devan cemburu ternyata berhasil juga. "Iya Pak, emang ada yang salah? Alex kan calon suami saya, iya kan sayang? " tanya Zahra menyenggol lengan Alex.



"Iya sayangku, kamu lupa ya..., Minggu depan kan kita nikah, " jawab Alex, mengelus bahu Zahra perlahan, Zahra sebenarnya risih di perlakukan seperti itu oleh Alex.Namun, demi membuat Devan cemburu, Zahra tak menepisnya.


Mendengar Alex memanggil Zahra dengan panggilan sayang, Devan semakin panas, ingin sekali melayangkan bogem pada Alex saat itu juga.Namun, dia tetap berusaha mengontrol emosinya agar tidak terlihat jika dirinya benar-benar sedang cemburu.

__ADS_1


Zahra dan Alex melanjutkan langkah masuk ke dalam kantor bersamaan.


Devan mengepal tangannya dengan erat, dia menepis apitan tangan Viola. "Lepaskan aku! " bentak Devan lampiaskan kemarahannya pada Viola.


Viola sadar, Devan tak akan mencintainya lagi seperti dulu, hatinya Devan kini hanya untuk Zahra, Viola seperti menjadi orang ketiga dalam hubungan Devan dan Zahra.



Devan pergi begitu saja masuk dalam kantor meninggalkan Viola sendirian.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Memang, Devan yang melakukan ini agar perusahaannya tidak mengalami bangkrut. Tapi, bukan berarti Zahra seenaknya sendiri bermesraan di depan matanya sendiri


Devan memijat pelipisnya, pening sekali memikirkan Zahra. "Ada apa pak? sepertinya bapak sedang ada masalah? " tanya Abi yang tiba-tiba masuk ruangan Devan karena pintu tidak di tutup.



"Saya kepanasan, " jawab Devan, Abi segera mengambil remot AC untuk menghidupkan AC nya.




"Loh, tadi katanya bapak kepanasan, " jawab Abi, masih belum peka perkataan Devan.


Devan memukul jidatnya, hati saya bi, yang panas bukan badan saya yang kepanasan, " timpal Devan menggelengkan kepala melihat tingkah konyol Abi.


Abi duduk di sofa ruangan Devan. "Emang kenapa Pak? kok bisa panas hatinya? lagi sakit bukan Pak? sakit apa? " tanya Abi mengundang gelak tawa dari Devan.


"Iya sakit banget bi, sakitnya tak berdarah, ketika melihat orang yang begitu kita cintai akan menikah dengan orang lain, " jawab Devan,


Abi menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung dengan maksud Devan. "To the point aja Pak, maaf saya bingung, " celetuk Abi nyengir kuda.


"Zahra akan menikah dengan Alex Minggu depan, bagaimana hati saya tidak panas bi, " timpal Devan.


Mata Abi membulat sempurna, tidak menyangka abangnya yang selama ini mengajarkannya berbuat baik ternyata menduakan istrinya tanpa alasan.


"Kenapa bi? " tanya Devan menatap Abi yang sepertinya sedang kebingungan.

__ADS_1



"Oh, tidak apa-apa kok Pak, saya kasihan saja sama bapak, " jawab Abi, Devan hanya tersenyum simpul, Abi bukan hanya sebagai Sekertaris bagi Devan, tapi dia teman curhat yang baik saat Devan membutuhkannya.



"Sebenarnya ini juga kesalahan saya sendiri bi, menjalin kesepakatan dengan abangmu tanpa memikirkan bagaimana perasaan Zahra, " ujar Devan mengakui kesalahannya.



"Kesepakatan? kesepakatan apa pak? " tanya Abi,


"Saya setuju kerjasama dengan Alex asal saya tinggalkan Zahra, setelah kerjasama ini selesai, Alex berjanji akan menceraikannya " jawab Devan.


Abi semakin terkejut pula mendengar pengakuan Devan. "Astaga Pak! bapak kira Zahra itu barang, yang bisa bapak buang dan ambil seenaknya, pantes aja Zahra marah, " tukas Abi.


"Saya tidak punya pilihan lagi bi, saya harus menjaga amanah terakhir dari almarhum Papa untuk menjaga perusahaan ini tidak bangkrut, " kata Devan mengusap wajahnya kasar.


"**Aku nggak menduga bang, kamu terobsesi memiliki tunangan orang, padahal kamu sendiri sudah memiliki seorang istri**," batin Abi.


Setelah puas berbincang dengan Devan, Abi kembali ke ruangannya, dia bermaksud untuk memikirkan solusi untuk Devan dan Zahra.


...----------------...


"Apa? Kamu yakin Ra, mau nikah sama si Alex? " tanya Ara tak percaya jika sahabatnya itu mengambil keputusan yang salah.


"Iya Ar, lagipula dia sudah bersama Viola kan, apalagi yang aku harapkan..., cinta itu tak harus saling memiliki Ar, asalkan orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain, lantas kenapa aku harus egois untuk menginginkan dirinya kembali, belum tentu dia akan bahagia bersamaku, " jawab Zahra, diapun rela jika bersama Viola Devan bisa bahagia.Lagian, dulu Viola yang paling di inginkan Devan.


Ara mengelus bahu Zahra, dia tak bisa bantu apa-apa untuk sahabatnya itu, dia berharap Zahra bisa bahagia dengan pilihannya.


Zahra hanya tersenyum menatap Ara, dia tahu Aralah sahabat yang paling mengerti tentang dirinya, sejak dulu semasa SMP, Ara menjadi sahabat yang selalu ada ketika Zahra butuh teman untuk curhat.



"Ya udah, aku duluan ya..., mumpung masih belum terlanjur menikah, kamu lebih baik pikir matang-matang dulu, agar tidak menyesal nantinya," usul Ara, Zahra hanya mengangguk.



Devan tiba-tiba menarik tangan Zahra, "Pak, lepaskan! Nanti jika Alex tahu bagaimana? " kata Zahra, memberontak minta Devan lepas tangannya

__ADS_1


Devan menoleh ke arah Zahra dengan tatapan begitu nyalang sekali "Saya tidak peduli lagi, " ketus Devan


__ADS_2