ZAHRANA

ZAHRANA
Melamar?


__ADS_3

Devan mengajak Zahra ke rumahnya tuk di kenalkan pada Mama dan papanya "Saya gugup pak, " tukas Zahra, dia masih insecure untuk bertemu kedua orang tua Devan.


"Udah, yakin saja , " Devan menenangkan Zahra yang grogi untuk bertemu kedua orang tua Devan malam ini, di gandeng nya tangan Zahra sedari sampai mobil.


 . Melihat rumahnya dari depan saja Zahra sudah minder. Apalagi.bertemu kedua orang tuanya Devan, sungguh makin tak karuan perasaannya.


  Jantung Zahra semakin lama makin kencang "Tunggu! " panggil Zahra menarik lengan Devan, tangannya di tarik Zahra yang sudah basah akibat keringat dingin.


  "Ada apa? " tanya Devan, langkahnya terhenti begitu saja.


  "Baju saya udah rapi belum pak, " jawab Zahra, Devan melihat kembali penampilan Zahra dari bawah sampai atas, ia justru begitu kagum dengan penampilan Zahra malam ini.


  Gamis warna merah hati di padukan dengan heels berwarna putih, begitu pas dengan balutan hijab berwarna pink yang nampak begitu serasi membuat Zahra terlihat cantik mempesona sekali.


"Kamu cantik," gumam Devan kagum sekali dengan penampilan Zahra yang agak beda dari biasanya.Tak lupa, Zahra retouch make up-nya agar tetap fresh di depan orang tua Devan, dia tidak boleh terlihat kusut nanti di depan calon mertua.


  Devan menggandeng tangan Zahra masuk ke dalam Rumah "Devan, kamu sudah pulang nak, siapa dia? " tanya Bu Alika melirik Zahra, senyumnya begitu merekah di bibir bu Alika.


   Devan tersenyum "Ma, ini Zahra, pacarnya Devan, " jawab Devan, ia mengenalkan Zahra pada mamanya, Alika membungkukkan sedikit punggungnya begitu sopan pada bu Alika.


  "Oh, saya Alika nak, mamanya Devan, " ujar Bu Alika, memberikan tangannya kepada Zahra, ingin berjabat tangan.


  "Saya Zahra Tante, " Zahra juga perkenalkan dirinya ke bu Alika, kedatangan Zahra di sambut baik oleh bu Alika maupun pak Jefri, mereka tidak memilih-milih soal menantu, semua tergantung pilihan Devan saja, sebagai orang tua, pak Jefri dan bu Alika hanya mengiyakan saja, terlalu di paksa takut akan membuat Devan jadi membangkang orang tua.


  "Ayo masuk, gak baik loh ngobrol di luar, "ajak Bu Alika, ia mempersilahkan Zahra duduk di sofa ruang tamu, "Pak, orang tua bapak baik juga ternyata, " tukas Zahra, Devan tersenyum, Zahra memang baru pertama kali mengenal kedua orang tua Devan.


  "Kamu pikir orang tua saya monster Ra, " celetuk Devan, Zahra tersipu malu sekali, karna salah paham terhadap orang tua Devan.


 "Bukan begitu, saya kira orang tua bapak punya pilihan sendiri soal menantu, " kata Zahra, sadar diri dia siapa, baginya.., dia tidak pantas jika bersanding dengan Devan, level Devan adalah level yang berkelas, bukan level rendahan seperti dirinya.


  Bu Alika datang membawa nampan berisi teh untuk Zahra, "Ini, di minum ya, tehnya, "tukas Bu Alika meletakkan tehdi atas meja, dia senang Devan membawa gadis yang begitu lembut dan sopan santun serta mengutamakan attitude, tanpa di tanya, sudah pasti akan memberikan restu untuk Devan dan gadis itu.

__ADS_1


  "Oh iya, sudah kenal berapa lama dengan Devan? "tanya Bu Alika, menggali informasi tentang Devan.


   "Sejak pertama kali masuk kantor Tante, " jawab Zahra, dia masih menunduk malu, dilihat oleh bu Alika, mamanya Devan.


   Devan tersenyum simpul "Sejak pertama kali di jalan saat di lempar sepatu, " batin Devan, masih teringat saja dia soal sepatu yang di lempar Zahra ke punggungnya.


  "Oh, kalian satu kantor ...,bagian apa? " tanya Bu Alika lagi, "Saya Asisten pribadi pak Devan," jawab Zahra


"Pantesan Devan betah di kantor, naksir Asistennya rupanya, " sindir Bu Alika, pipi Devan memerah seperti udang rebus.


"ih, Apaan sih Ma, " timpal Devan, bu Alika terkekeh.


   "kamu ngapain senyum-senyum sendiri kayak orang gila? " tanya Bu Alika, merasa aneh dengan tingkah Devan.


     "Di lempar sepatu Ma, " jawab Devan keceplosan.


      "Apa!! siapa yang di lempar sepatu? " tanya Bu Alika, merasa bingung sekali dengan tingkah sang putra semata wayangnya itu.


     " Nggak Ma, tadi ada anak kecil di lempar sepatu Ma, sama temannya saat main ponsel, " jawab Devan berkilah, sekaligus menyindir Zahra.


    "Kamu nih, ada-ada aja, Mama kira kenapa, malu tuh, sama pacar kamu, di kantor galak, di rumah haha hihi seperti anak kecil, " tukas Bu Alika.


   "Ih, mama apaan sih, main nyindir aja, kan Devan malu jadinya, " ucap Devan, pipinya merah merona.


"Bercanda Van, " sahut Bu Alika, tertawa terbahak-bahak.


  "Oh iya Ma, Devan boleh gak minta tolong untuk melamar kan Zahra? "tanya Devan. Bu Alika terkejut Devan tiba-tiba bicara seperti itu, begitu juga dengan Zahra, ingin melompat saja dari gedung tinggi mendengar Devan akan melamarnya.


"Apa? melamar? yakin kamu Van? setau Mama, kamu paling dingin dan anti bahas perempuan? Ini kok tiba-tiba mau melamar perempuan? " tanya Bu Alika secara detail, meminta Devan memikirkan dulu secara matang sebelum mengambil keputusan melamar, pernikahan hanya sekali seumur hidup, kedua orang tuanya, tidak ingin Devan sampai menyesal nantinya.


"Iya, Devan yakin Ma, " jawab Devan, dia menatap Zahra dengan senyuman di bibirnya.

__ADS_1


"Nanti Mama bicarakan lagi dengan papamu, " ujar Bu Alika tersenyum. Zahra juga sekalian di ajak makan malam di rumahnya Devan.


Zahra begitu senang di sambut baik oleh keluarga Devan.Zahra berharap, semoga hubungannya dengan Devan tetap baik-baik saja. "Tante, Om, saya pulang dulu ya, " pamit Zahra, dia berjanji pada ibunya untuk tidak pulang terlalu larut.


Ia bersalaman dengan kedua orang tua Devan "Hati-hati di jalan ya, "ucap Bu Alika, Zahra membalasnya dengan anggukan, Devan mengantar Zahra sampai di rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Makasih pak, udah nganterin saya, "ucap Zahra "Tunggu, kamu dari tadi manggil saya pak? " tanya Devan, baru ngeh jika dia di panggil pak.


"Iya," jawab Zahra singkat.


"Kok pak lagi, mas dong, " protes Devan, Zahra terkekeh, dirinya memang senang menggoda Zahra.


"Iya deh makasih mas Devan Arprana," kata Zahra Devan mengelus bahu Zahra dan bergegas kemudikan motornya pulang.


Zahra menatap Mobil Devan yang semakin lama semakin berlalu dari pandangannya.


"Gimana di kenalin ke keluarga Devan? Mereka baik kan sama kamu Ra? " tanya Bu Nita.


Zahra terkesiap kaget melihat mamanya, "Haduh Mama, bikin aku jantungan aja tau gak, " ucap Bu Nita.


Bu Nita hanya tersenyum. "Makanya jangan ngelamun terus, " tegur Bu Nita.



"Iya Ma, keluarga Devan baik semua kok, mereka tidak memilih-milih soal menantu, " jawab Zahra.


Bu Nita senang dengan ucapan Zahra, setidaknya, jika menikah nanti, Zahra memiliki keluarga yang baik, itulah harapan besarnya sebagai ibu.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2