ZAHRANA

ZAHRANA
drop


__ADS_3

Devan menghentikan Zahra sampai di rumahnya, " Terima kasih ya... Sudah mengantarku sampai sini, " ucap Zahra.


"Ya, sama-sama makasih juga kamu udah menemani aku kemoterapi hari ini, " pungkas Devan.


Zahra segera turun dari mobil Devan, dia berdiri menunggu sampai mobil Devan melaju, barulah masuk rumah.



Zahra terpaku menatap mobil Devan yang melaju semakin jauh dari pandangannya.



Zahra segera masuk rumah membersihkan dirinya yang sudah berkeringat setelah seharian bekerja.



"Tumben kamu pulang sesore ini Ra? darimana kamu? "


Baru saja masuk rumah, Zahra sudah di cerca berbagai pertanyaan oleh mamanya.


"Mama ih, bikin aku kaget aja, "


Zahra terhenyak kaget, mamanya sudah berada di sofa menunggunya sedari tadi.


"Jawab Mama! darimana kamu! " gertak Bu Nita menatap Zahra nyalang



Bu Nita memang akan marah pada Zahra jika sampai putrinya itu pulang terlambat, bu Nita prosessif sekali pada Zahra semenjak kematian suaminya, dia tidak ingin jika harus kehilangan putri semata wayangnya.



Kejadian yang menimpa suaminya akan selalu di jadikan pelajaran agar lebih perhatian lagi kepada kesehatan Zahra.


"Aku menemani Devan ke rumah sakit Ma... dia ada jadwal kemoterapi hari ini, " jawab Zahra perlahan.


Bu Nita menyilang kedua tangannya, "Kemoterapi, memangnya dia sakit apa? " tanyanya.


Zahra menunduk, "Dia sakit kanker otak Ma... "



Mulut Zahra tiba-tiba bergetar mengatakan itu pada mamanya, hatinya sesak dan perih mengingat penyakit yang di derita Devan.



Berbeda dengan putrinya, Bu Nita malah terkesan tidak peduli sama sekali.


"Jadi, dia tidak bisa bersamamu? "


Pertanyaan Bu Nita membuat Zahra sedikit tersinggung mendengarnya, bagaimana mamanya berfikir jika Devan tidak akan bisa bersatu dengannya



"Ma, apaan sih! Zahra yakin Devan pasti akan sembuh! "



Zahra sedikit membantah perkataan mamanya,hatinya memiliki keyakinan penuh Devan akan sembuh.



"Mau sampai kapan Zahra? Ini kamu sudah dua tahun loh tunangan dengan dia, kamu belum juga meresmikan hubunganmu dengan dia! "



Zahra hanya terdiam membisu. Mau bagaimana lagi, terlalu banyak cobaan dan halangan yang harus mereka hadapi.



"Baiklah Zahra, kamu tidak bisa terus menunggu dia, Mama juga semakin tua, tidak bisa selalu menjaga kamu... kamu terpaksa mama nikahkan dengan orang lain, "



Keputusan Bu Nita sudah bulat, dia juga ingin melihat sang putri bahagia.


"Apa! " teriak Zahra, matanya membelalak kaget dengan ucapan mamanya.


Hatinya tambah hancur, bulir bening menetes perlahan membasahi pipi Zahra, mamanya tega memaksa dirinya untuk menikahi pria yang sama sekali tidak ia cintai.

__ADS_1



"Mama jahat! Mama tidak pernah sama sekali mengerti perasaan Zahra!. " Zahra memaki mamanya habis-habisan meluapkan segala kekecewaannya.



'Plak' satu tamparan mendarat di pipi Zahra, Bu Nita menampar putrinya itu hingga kemerahan.



"*Apa aku terlalu keras pada putriku sendiri*... "



Bu Nita membatin, bukan hanya pipi Zahra yang merah, tapi tangannya juga panas. Baru kali ini dia menampar putri semata wayangnya.



Bu Nita pergi meninggalkan Zahra, dia kembali teringat permintaan Devan.


*FLASHBACK ON*


Setelah pulang dari rumah neneknya, Devan dan Gino mampir sejenak ke rumah Zahra, kebetulan saat itu Zahra sedang berada di kantor.



\=\=\=oooOoooo\=\=\=\=


Devan mengetuk pintu rumah Zahra, berharap Bu Nita segera membukakan pintu.


"Kamu yakin Zahra masih di kantor? " tanya Gino meragukan tindakan Devan ini.



"Ya, hari ini aku menyuruhnya lembur untuk mengerjakan tugasku di kantor, aku dengar percakapanmu di telepon, dari situlah aku mengikutimu... " jawab Devan dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Kamu... "


"Iya, mana mungkin aku membiarkan kamu sendirian menanggung beban dalam hidupmu, " sela Devan


Decitan pintu terbuka menghentikan pembicaraan mereka sejenak.




"Sebelumnya Devan minta maaf Ma, Devan tidak bisa terus bersama Zahra, " jawab Devan tertunduk lesu.


"Maksud kamu apa? kamu mau batalkan pertunangan mu dengan anak saya? "


Bu Nita sedikit tersinggung dengan perkataan Devan, berani sekali berkata begitu di depannya.



"Devan menderita kanker otak Ma, cepat atau lambat Zahra pasti akan tau dengan sendirinya penyakit ini, Devan takut jika Zahra tidak mau meninggalkan Devan... dia layak bahagia bersama pria lain yang bisa menjaganya, " tukas Devan panjang lebar



Hati Bu Nita menjadi luluh seketika mendengar jawaban dari Devan,tapi Bu Nita juga tidak bisa merusak kebahagiaan sang putri.



"Apa kamu masih mencintai Zahra? "


Bu Nita menanyakan sekali lagi, agar keputusan Devan tidak menimbulkan penyesalan di belakang.


"Saya sangat mencintai Zahra Ma, tapi jika saya menikahinya saya takut Zahra hanya menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk merawat saya, "



Devan sudah memantapkan hati untuk melepaskan Zahra bersama orang lain, biarlah dia yang terluka sendiri, asalkan wanita yang di cintainya bisa bahagia.



"Baiklah, jika begitu... saya akan izinkan Zahra menikah dengan orang lain, " ucap Bu Nita dengan berat hati.



Ada benarnya juga perkataan Devan, Zahra berhak bahagia, bu Nita juga tidak mau sisa hidup sang putri hanya di habiskan hanya untuk merawat Devan.

__ADS_1



Bukan karena tidak kasihan, tapi kebahagiaan Zahra haruslah di pikirkan juga.


*Flashback Off*


\=\=\=\=oooOoooo\=\=\=



Bu Nita menangis di dalam kamar, ada sedikit penyesalan dalam benaknya karena telah menampar anaknya dengan sarkas, tapi itu semua di lakukan demi kebaikan Zahra.



Jujur memang tidak ada niat menghalangi kebahagiaan putri semata wayangnya, bila ini yang terbaik untuk mereka berdua untuk apa lagi mempersatukan Devan dan Zahra lagi



"Maafkan aku pa... aku bukanlah ibu yang baik untuk Zahra, "



Suara Bu Nita memekik sembari menatap foto pak Ardi, suaminya, ibu mana yang tega menampar putrinya dengan sarkas, dirinya menyadari itu



\=\=\=\=\=ooooOoooo\=\=\=



Zahra menangis tidak berdaya di sofa, darah mengucur di pipinya tidak lagi ia pedulikan, hatinya begitu sakit bagaikan tertusuk belati yang sangat tajam.



Zahra tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan sang ibu yang telah melahirkannya.



Devan yang berada di balik pintu, ikut sedih melihat Zahra, tapi apalah daya, dia tidak bisa memutar waktu kembali.



Merelakan orang yang di cintai memang sangatlah berat, tapi Devan akan memikul semuanya sendiri, hidupnya tidak akan lama lagi di dunia ini, tapi cintanya kepada Zahra akan selalu ada di dalam hatinya.



Dua Minggu kemudian...



Hari pernikahan Zahra telah tiba, dia sudah mempersiapkan hati untuk menerima pernikahan ini, mungkin ini jalan terbaik yang di inginkan tuhan untuknya, mau tidak mau Zahra harus menerimanya.



Mempelai pria sudah duduk di depan penghulu, dia adalah Khanif, seorang pengusaha sukses anak teman almarhum pak Ardi.



"Saya terima nikah dan kawinnya Zahrana..."



"Tunggu!. "



Kedatangan Gino menciptakan suasana hening. Bu Nita berdiri menghampiri Gino yang terlihat panik



"Ada apa gin? " tanya Bu Nita



"Devan drop Tante, dia butuh Zahra sekarang, " jawab Gino tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya.



**Apakah Zahra akan bersatu kembali dengan Devan? Ikuti terus ya! Terima kasih 😊🙏**

__ADS_1


"Kamu yakin Dia tidak ada di


__ADS_2