
Mendengar perkataan Gino, membuat bu Nita bergeming, tampak penyesalan dari raut mukanya telah memisahkan dua orang yang begitu saling mencintai, bibirnya tidak akan sanggup mengatakan sepatah katapun.
"Zahra! Zahra!. "
Teriakan bu Alika yang bergema hingga ke seluruh ruangan sontak membuat seluruh tamu undangan kaget
suasana yang semula khidmat kini menjadi ramai, tamu undangan yang hadir tentunya bertanya-tanya, apa yang terjadi.
Wanita bergaun putih motif bunga yang tidak terlalu mencolok itu dengan riasan yang masih utuh itu muncul menghampiri Bu Nita.
"Ada apa Ma? " tanya Zahra penuh keheranan.
"Devan drop Ra, sekarang dia lagi membutuhkanmu, pergilah! " titah Bu Nita tanpa berbasa-basi lagi.
Mata Zahra nyaris membulat sempurna, tanpa melepas gaun pengantinnya, Zahra bergegas pergi mengekor di belakang Gino.
Bu Nita meminta maaf pada khanif dan keluarganya harus membatalkan pernikahan ini.
Tak hanya keluarga khanif yang pergi, tetapi juga seluruh tamu undangan ikut beranjak meninggalkan rumah.
\=\=\=\=oooOooo\=\=\=
Sesampai di rumah sakit, Zahra turun dari mobil, di ikutinya gino hingga sampailah ke sebuah ruangan IGD.
Disana sudah banyak karyawan kantor yang ikut mengantar Devan ke rumah sakit.
Ara terkesiap kaget melihat Zahra datang dengan pakaian pengantin, dengan hati yang berapi-api Ara menghampiri Zahra, tatapannya tampak nyalang dan menakutkan.
'Plak!' satu tamparan Ara melayang di pipi Zahra, meninggalkan bekas kemerahan.
"Tega sekali kamu! pak Devan sakit malah kamu menikah dengan pria lain waw Zahra! Inikah yang katamu cinta sejati wah! " cibir Ara, kemarahannya sudah memuncak.
"Aku gak ada maksud..., "
"Cukup! perbuatanmu kali ini di luar batas Ra, bukankah pak Devan rela berkorban nyawa untukmu, inikah balasanmu Ra! "
'Jleb' perkataan yang terlontar dari mulut Ada merasuk ke hati Zahra yang paling dalam. Zahra sama sekali tidak menyalahkan Ara, memang benar, cinta sejati itu tidak harus meninggalkan.
Zahra memaksa masuk ke dalam untuk melihat kondisi Devan, mengabaikan Ara yang berasumsi buruk tentang dirinya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Zahra termangu melihat Devan yang terbaring lemah tidak berdaya di brankar dengan selang oksigen yang terpasang di rongga hidungnya.
Deraian air mata perlahan menetes membasahi pipi Zahra, dengan langkah gemulai dia duduk di kursi dekat brankar.
Tangan Zahra menjamah jari-jari tangan Devan perlahan, hatinya benar-benar rapuh saat ini.
"Bangunlah, bukankah kamu berjanji untuk hidup bersamaku... bukankah kamu berjanji untuk menjagaku hingga akhir nanti, bukalah matamu sedikit saja hanya untukku...."
Suara Zahra terdengar parau, tidak sanggup lagi menahan kesedihan dalam hatinya.
Suara decitan pintu terbuka, tampak dokter dan beberapa perawat kembali memeriksa kondisi Devan.
"Bagaimana Dok keadaannya? " tanya Zahra yang juga ingin tahu keadaan Devan.
__ADS_1
"Belum ada perkembangan, berdoa saja semoga cepat sadar, " jawab sang Dokter
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu, " imbuh sang Dokter, berlalu meninggalkan ruangan.
"Terima kasih Dok, " ucap Zahra sedikit membungkuk segan
Zahra menyeka air matanya dan ikut keluar ruangan.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Ara masih diam saja melihat Zahra keluar ruangan, rupanya masih kesal.
Zahra spontan duduk di samping Ara berniat menjelaskan semuanya kepada sahabatnya itu.
Tak ingin mendengar apapun dari Zahra, gegas Ar beranjak berdiri dari duduknya, ia berusaha menghindar dari Zahra.
"Kalian kenapa sih! ribut melulu dari tadi! tidak kasihan ap sama pak Devan! dia pasti sedih jika melihat karyawannya pada ribut begini!. "
Gertak Lia. Lama-lama dia juga tidak tahan melihat tingkah Ara dan Zahra bertengkar terus.
"Pak Devan sadar! "
Suara lantang Abi memecah keheningan, satu persatu masuk ke ruang IGD untuk melihat kondisi Devan.
\=\=\=\=oooOooo\=\=\=
Refleks, tangan Devan yang bergerak itu menggenggam erat tangan Zahra, dokter datang untuk memeriksa kondisi Devan.
"Sudah mulai menunjukkan pergerakan, ajak bicara agar cepat sadar, " kata Dokter usai memeriksa kondisi Devan.
Zahra membelai lembut rambut Devan perlahan "Mas Devan... Mas mendengar suaraku kan, lihatlah, semua yang ada disini menunggu agar Mas cepat sadar, " ucapnya lirih.
Pergerakan jari tangan Devan semakin kencang, matanya sudah sedikit terbuka beberapa saat setelah Zahra bicara.
Selang beberapa menit, mata Devan sudah terbuka lebar, kepalanya sangar pusing sekali.
"Aku dimana? "
Devan berbicara dengan terbata-bata, pandangannya menyapu seisi ruangan, senyum Devan merekah melihat Zahra memakai gaun pengantin.
"Kamu cantik sekali memakai itu, semoga kamu bahagia dengan suamimu..., "
Zahra menghalau pembicaraan Devan dengan jari telunjuknya.
"Aku tidak menikah dengan siapapun, hatiku hanya untuk Mas, aku hanya di paksa menuruti kemauan mama, " kata Zahra menjelaskan semuanya di depan Devan.
__ADS_1
Ara menjadi luluh mendengar ucapan yang keluar dari mulut Zahra, dirinya menyesal menuding Zahra yang tidak-tidak.
Tiga hari kemudian...
Sang mentari muncul dari ufuk timur, cahayanya terang benderang menerangi gelapnya langit sehabis di terpa sunyinya malam.
Percikan air sisa hujan tadi malam Lomasih membasahi jalanan yang ramai akibat lalu lalang kendaraan.
Pagi ini Zahra menjemput Devan di rumah sakit bersama Gino, dokter juga sudah memperbolehkan Devan pulang.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Sesampainya di rumah sakit, Zahra bergegas menuju ruang rawat inap Devan. Entah ada angin apa, Devan malah tersenyum sumringah di ruangannya.
"Ada apa?. " Zahra keheranan melihat Devan tersenyum sendiri.
Devan memberikan secarik kertas pada Zahra. Di bukanya kertas itu oleh Zahra dan membacanya dengan seksama.
"Kamu dinyatakan sembuh dari kanker?. "
Zahra menganga tidak percaya kabar bahagia ini, berharap semuanya bukanlah sebuah mimpi belaka.
Devan membalasnya dengan anggukan, "Ya, dokter menyarankan aku untuk kemoterapi tiga hari ini, walaupun... sedikit demi sedikit rambutku rontok terkikis efek obat kemoterapi itu. "
Devan menjawab sambil membuka topinya memperlihatkan rambutnya yang sudah botak.
Zahra menarik bibirnya, tersenyum ke arah Devan, "Bagaimanapun penampilan kamu sekarang, tidak akan mampu menghapus cintaku kepadamu, " rayunya.
Devan memeluk Zahra, "Terima kasih sudah menemaniku sampai saat ini, maaf jika aku terlalu banyak menyakitimu, "
Zahra hanyut dalam pelukan Devan, seakan tidak ingin melepaskannya.
"Woy! udah dong pelukannya, jadi nyamuk nih! " protes Gino memonyongkan bibirnya.
Zahra dan Devan sama-sama nyengir kuda, mereka lupa jika ada Gino di ruangan itu.
"Yee! bodo amat, peluk Lia aja sana! " timpal Devan menanggapi Gino dengan candaan.
"Lia siapa? lia tembok? "
Gino merasa jengkel Devan selalu saja menyebut nama mantan kekasihnya itu, dia memaklumi semua itu karena belum sempat cerita pada Devan jika sudah putus dengan Lia.
"Ada-ada aja kamu ini! " sahut Devan tidak terlalu menanggapi perkataan Gino dengan serius.
Gino dan Zahra membantu membawakan barang-barang Devan, mereka bertiga bergegas meninggalkan rumah sakit.
**Apakah impian Zahra menikah dengan Devan terwujud? Ikuti terus ya! Terima kasih 😊🙏**
__ADS_1
"