ZAHRANA

ZAHRANA
Kalian pacaran?


__ADS_3

Friska akan mengantar berkas ke ruangan Abi, ia melewati ruang kerja Zahra. "Kok pintu ruangan Zahra terbuka ya " batin Friska, ia tak sengaja melihat Devan dan Zahra berpelukan, Friska melongo kaget melihatnya.


"Astaghfirullah, mataku ternodai! " teriak Friska menutup kedua matanya , Devan melepas pelukannya.Zahra menghampiri Friska "Fris, ini_," bibir Zahra di bungkam Friska dengan jari telunjuknya.


"Kalian pacaran? " pertanyaan yang lepas begitu saja dari mulut Friska.Zahra menatap Devan.


"Nggak Fris, saya tadi terbawa senang saja bisa mendapat proyek besar jadi nggak sengaja meluk Zahra " Devan berkilah, untuk menyelematka Zahra dari serangan beribu pertanyaan dari teman-teman kantornya.


"Iya fris, yang di katakan pak Devan benar, aku juga kaget kenapa pak bos main peluk aja, " Zahra ikut menimpali, dia masih berkeringat dingin takut Friska masih curiga kepadanya.


"Yakin? " tanya Friska, ia belum percaya seratus persen pada Zahra dan Devan, pelukan itu sepertinya pelukan itu pelukan penuh kasih sayang, bukan ketidak sengajaan.


"Iya fris, " kata Zahra dan Devan kompak menjawab bersamaan.


Friska menautkan kedua alisnya "Ya udah, kalau gitu aku pergi dulu " pamit Friska, membuang rasa curiganya yang tak jelas, dia hanya berharap semoga kecurigaannya tidak terjadi.


 Devan dan Zahra bernafas lega. "Untung aja, si Friska nggak curiga sama kita, lagian sih! main meluk aja gak tau tempat, " omel Zahra, merucutkan bibirnya kesal, karena Devan main peluk saja dengan keadaan pintu terbuka.


   "Lah, kok jadi saya yang di salahin? " tanya Devan, tak terima di salahkan oleh Zahra.


"Ya karna ulah bapak sih, main peluk saya, jadi ketahuan Friska kan " jawab Zahra masih mengerucutkan bibirnya, tadi hanya satu centi, sekarang jadi nambah dua centi.


"Ya maaf, saya terbawa suasana, " ucap Devan, mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan memasang muka memelas.


"Tolong maafkan saya, jangan ngambek begitu , nanti pulang kerja saya janji akan belikan balon buat kamu " bujuk Devan, jangankan balon, membeli bunga se taman-tamannya pun dia mau asal Zahra tidak ngambek lagi kepadanya.


"Saya bukan anak kecil pak, "celetuk Zahra, kesal sekali, Dikiranya dia anak kecil yang meminta balon. Untung Zahra sayang, kalo nggak udah Zahra tarik hidung Devan yang mancung itu.


 . "Senyum dong, biar gak ilang tuh cantiknya " rayu Devan.Zahra hanya tersenyum simpul.


   "Nah.., kalo gitu kan jadi makin sayang aja saya, " celetuk Devan, mengundang gelak tawa dari Zahra.


  


"Bapak bisa aja, "tukas Zahra tersipu malu.

__ADS_1


"Ya udah pak, saya mau lanjut kerja lagi, " ujar Zahra.


Devan mendekatkan bibirnya ke telinga Zahra "Semangat sayang, " bisik Devan lirih, Zahra tersenyum lebar di goda Devan, Zahra tersenyum bahagia, moodnya untuk bekerja jadi semakin bertambah.


...----------------...


.


-


    Jarum jam menunjuk ke angka dua belas, semua karyawan kantor berkumpul di kantin "Hay semuanya, " sapa Ara ikutan nimbrung tak lupa, Lia juga selalu ada di belakang Ara.


"Makanan udah habis baru nongol tuh si Ara, " celetuk Hilda, sang manager kantor.


 . "Maaf banget, kerjaan lagi numpuk, " ucap Ara, ikut duduk bersebelahan dengan Lia.


  Semua pandangan tertuju ke Friska, tak biasanya dia diam dan anteng seperti ini Friska orangnya ceria, cerewet dan bawel berubah menjadi kalem, adem dan anteng.


  "Fris, lagi ada masalah apa kamu? " tanya Hilda, tak ada jawaban apapun dari Friska.


   


"Iya mungkin, " sahut Hilda membenarkan.


"Fris_ " Ara menepuk pundak Friska, seketika lamunan Friska menjadi buyar.


   "Ada apaan Ar? " tanya Friska.


  "Kamu loh, di panggil malah diem aja, " jawab Ara, sambil ngunyah gorengan.


  "Maaf, gak tau aku Ar, "ucap Friska, dia kembali menyantap makanannya.


  "lagi mikir apa sih, kok kita panggil diem aja, pak Doni belum nikah Fris, kamu gak perlu galau " Hilda terkekeh, Friska memutar bola matanya jengah, siapa juga yang lagi memikirkan Doni si bujang lapuk itu.


"Apaan sih Hil, siapa juga yang mikirin dia, " elak Friska, dia paling malas jika teman-temannya membahas tentang Doni di depannya.

__ADS_1


 . "Hati- hati Fris, kalo terlalu benci ntar jadi jodoh, " celetuk Lia, ikut menggoda Friska, Friska hanya termangu diam saja, dia sedang tidak mood bercanda hari ini, masih kepikiran hubungan Devan dan Zahra.


Dita mengendap diam- diam ke parkiran kantor, dirinya berdiri tepat di belakang mobil Devan membawa palu, ingin menyabotase mobil milik mantan kekasihnya itu


 "Kalau aku gak bisa mendapatkan Devan, Zahra juga tidak boleh milikin Devan untuk selamanya, " batin Dita, iapun mulai lakukan aksinya sebelum ada orang yang mengetahui aksi liciknya itu.


  "Ehem_, " seseorang berdehem di belakang Dita membuatnya terperanjat kaget, Dita menoleh ke sumber suara tersebut.


  "Abi_ " Tukas Dita, sedikit bernafas lega karna ternyata hanya Abi yang mengetahui aksinya.


  "Bos mau ngapain disini? " tanya Abi, penasaran karna bosnya sedang memegang obeng, mungkin mau menjadi tukang bengkel dadakan.


"Mau membunuh Devan " jawab Dita, terlalu jujur pada Abi, dia sudah kehabisan cara untukrmisahkan Devan dan Zahra.


 "Aduh, jangan nekad bos! bisa berurusan dengan polisi nanti " Abi panik, bisa- bisanya Dita berbuat senekad itu demi bisa kembali ke Devan, keputusan tepat bagi Devan jika memilih untuk meninggalkan Dita.


  "Saya gak peduli lagi! hanya ini cara untuk memisahkan Devan dari Zahra.


"Aduh bos..., tapi nggak gini juga sih, ini bos membahayakan diri sendiri namanya, " ujar Abi, Dita seperti orang kurang waras yang terobsesi cinta Devan, padahal banyak cinta lain yang bisa Dita cari selain Devan.


 "Asalkan Devan bisa bersamaku, apapun akan aku lakukan demi dia, kamu pikir saya diam saja melihat Devan bersama Zahra, tidak! saya tidak akan membiarkan itu semua terjadi, walaupun aku harus korbankan nyawa seseorang, demi Devan kembali, aku akan melakukannya! " tukas Dita, tersenyum menyeringai.


     Abi menggelengkan kepala melihat tingkah bosnya itu, Dita benar-benar terobsesi dengan harta Devan.Memang benar kata pepatah Harta bisa membutakan segalanya, itulah yang terjadi pada Dita, tidak memikirkan nyawa orang menjadi taruhannya.


     "Pokoknya, saya tidak mau ikut campur dengan semua ini! " ketus Abi, tidak ingin ikut campur urusan Dita lagi.


    Dita menyilangkan tangannya di depan dada. "Memangnya saya butuh bantuanmu? " tanya Dita dengan angkuh, seolah-olah di tidak membutuhkan Abi lagi.


"Baiklah kalo gitu terserah saja! aku tidak mau membantu bos lagi, jika bos masuk penjara, aku tidak mau tanggung jawab ngeluarkan bos dari penjara! " ketus Abi, membalas kesombongan Dita.



"Baiklah, pergi saja Abi! aku sama sekali tidak akan pernah butuh bantuanmu lagi! " cetus Dita tersenyum simpul, tanpa Abi, ia yakin rencananya akan berhasil


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2