
Setelah Friska dan Hilda di pecat, Zahra mulai bekerja kembali di kantor Devan, Zahra tersenyum sendiri melihat seisi ruangan nya "*Aku sungguh rindu sekali ruangan ini*, " batin Zahra,
Seseorang masuk ke ruangan Zahra tanpa mengetuk pintu "Selamat datang kembali ke kantor ini Ra," ucapnya. Ya, wanita itu adalah Ara.
Zahra menoleh dan tersenyum manis ke arah Ara, ia juga begitu merindukan sekali sahabat sejatinya itu "Terima kasih Ar, yang lain kemana? " tanya Zahra, dia sedari pagi tak melihat semua teman-teman kantornya.
Ara menarik tangan Zahra, ia membawanya ke sebuah tempat "Ar, kamu mau culik aku kemana? " tanya Zahra, tak seperti biasanya Ara menariknya dengan cara seperti itu.
Ara berbalik menoleh ke belakang, "Eits! iya, aku mau menculik kamu, pakai ini dulu ya, biar kelihatan kayak penculik beneran, " kata Ara memakaikan sebuah kain p hitam untuk menutupi kedua mata Zahra.
Zahra memutar keduabola matanya jengah, ada-ada saja kelakuan sahabatnya itu, "Menyebalkan saja! kenapa si tutup? "tanya Zahra, kesal sekali tidak bisa melihat kemana Ara membawanya
Ara trus menarik tangan Zahra menuju ke sebuah Danau yang tak jauh dari kantor, ini semua ide dari teman-temannya agar Zahra mau memaafkan Devan.
Devan berdiri menggantikan posisi Ara menarik tangan Zahra, "Ar, kamu bawa aku kemana sih? " tanya Zahra, tak ada jawaban sama sekali dari Ara. Zahra hany mengikuti tangan yang menariknya entah kemana.
__ADS_1
Devan menghentikan langkah Zahra. tepat di sebuah pohon "Ar, ini kamu kan? "tanya Zahra lagi.Untuk memastikan, Zahra meraba muka orang yang sedang berada di depannya
Zahra merasa geli saat meraba muka Devan. "Astaga Ara! sejak kapan dirimu berkumis! " tukas Zahra, semua yang ada disitu menahan tawa agar tidak terdengar.
Devan membuka kain penutup mata Zahra, aangkah terkejutnya zahra yang di depannya bukanlah Ara "Pak Devan,dimana Ara? dia tadi membawa saya kesini? " Zahra celingukan mencari Ara.
Devan memegang kedua tangan Zahra membuat Zahra semakin tercengang "Saya meminta maaf atas apa yang sudah saya lakukan ke kamu, " ucap Devan dengan tatapan memelas
Zahra masih terdiam dengan wajah yang begitu datar, salut dengan perjuangan Devan yang tak pernah menyerah untuk mendapat maaf darinya. "Saya sudah memaafkan bapak, saya hanya berharap agar bapak tidak ulangi lagi," jawab Zahra
Devan tersenyum dan memeluk Zahra, hatinya senang sekali Zahra memaafkan dirinya "Terima kasih sayang, aku berjanji tidak akan mengulangi lagi, "ucap Devan.
Semua teman-teman kantor muncul dan membunyikan petasan "Cieee baikan! harus ada traktirannya dong, kan berkat bantuan kita! " teriak Ara membunyikan petasan membuat suasana danau menjadi Ramai.
__ADS_1
Devan dan Zahra tersenyum "Baiklah! sekarang waktunya bekerja! " pinta Devan Semua yang berada di danau kembali ke kantor.
" kenapa kak? " tanya Ara, melirik kakaknya yang melamun terus sedari tadi, tampak raut kesedihan dari muka Lia.Entah, apa penyebab Lia menekuk muka sedari tadi, membuat Ara penasaran.
"Kangen, " jawab Lia singkat, ia begitu sangat merindukan sosok yang selama ini selalu hadir menemani di sampingnya.
Ara mengangguk mengerti, siapa yang di rindukan Lia sat ini "Apa kakak merindukan Gino? " tanya Ara sambil nyengir kuda ke arah Lia.
Lia mendelik kaget, bagaimana adiknya bisa tau, "kok kamu tau dek? " tanya Lia. Ara seperti peramal saja yang tau isi hati orang.
Ara hanya tersenyum simpul, Ia berharap hubungan kakaknya dengan Gino langgeng sampai pelaminan agar kakaknya tak sakit hati lagi "Tenang saja, nanti pati akan aku pertemukan kakak dengan Gino, " jawab Ara, berjalan mendahului Lia.
__ADS_1
\_Bersambung\_