ZAHRANA

ZAHRANA
Ancaman


__ADS_3

Devan mengumpulkan semua karyawan di lobby kantor, ia ingin memperkenalkan seseorang pada seluruh staf dan karyawan yang sedang bekerja di kantor itu.


"Ada apa ya, pak bos ngumpulin kita disini? " tanya Ara,


"Nggak tau juga aku Ar,"jawab Zahra, mengerdikkan kedua bahunya


"Pagi semuanya, saya meminta kalian semua berkumpul disini, ingin memperkenalkan sekertaris baru kita, Abidzar ...saya mohon, kalian bisa bekerja sama ke depannya, " kata Devan, kepada seluruh jajaran staf dan karyawan disana.


"Oh, dia sekertaris baru pengganti Gino, " celetuk Friska, memandang Abidzar dari ujung rambut sampai ujung kak.


"Iya nih, kok tampangnya nyebelin, " timpal Mbak Ella membicarakan pria yang sedang ada di depan.


"His, ngawur kamu mbak! sembarangan aja kalo bicara, " Tegur Friska, mengibaskan tangannya ke depan muka Mbak Ella.


"Ra, kamu lihat deh sekertaris baru itu, kok sepertinya dia gak suka sama si bos, lihat dari tatapannya kayak serem gitu ke bos Ra." kata Ara juga sempat mencurigai gelagat Abi, jangan-jangan Abi memang ada tujuan lain masuk kantor ini.


"Ar, jangan suudzon dulu, " timpal zahra.


"Ya udah deh, terserah kalo gak percaya, " tukas Ara, ia malas berdebat dengan Zahra. Ara tergelitik ingin berusaha menyelidikinya sendiri.


Abi fokus menatap Zahra dari kejauhan tersenyum menyeringai bagai harimau yang sudah siap menerkam mangsanya, setelah perkenalan, mereka membubarkan diri dan kembali ke ruangannya masing-masing.


"Mbak, tunggu, " panggil Abi memanggil Zahra.


Zahra menoleh sejenak dan berhenti. "Saya boleh minta tolong antar saya ke ruang sekertaris? " tanya Abi, cari perhatian Zahra.


"Boleh." Zahra tak keberatan jika harus antar Abi ke ruang kerjanya.Sesampai di ruangan Abi, Zahra meninggalkannya sendirian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara dering telfon terdengar keras dari tas Abi, ia merogoh tasnya mencari benda pipih yang biasa di bawa kemana-mana.Abi cek ponselnya, tertera nama ber inisial 'D' di layar ponsel. Abi sumringah sudah lama dia menunggu telvon dari orang itu.


Abi mengangkat kakinya ke meja, ia tertawa girang mendapat telvon dari seseorang yang dia tunggu .Di tekannya tombol hijau hingga menyambung satu dengan yang lain


D:Hallo, gimana? kamu berhasil masuk?


Abi:iya dong, Abi gitu loh!


D:bagus, lakukan yang saya suruh

__ADS_1


Abi:Beres, semua bisa di atur kok!


Sambungan telvonpun terputus.Devan yang sedari tadi ingin masuk ruangan, ia urungkan karna mendengar Abi sedang berbicara lewat telfon sambil meletakkan kaki di atas meja.


"Lancang sekali dia, baru masuk kantor ini sudah berani meletakkan kakinya di atas meja! " batin Devan, ia masuk begitu saja ke ruangan Abi tanpa ketuk pintu.


"Abi," panggil Devan, dia langsung masuk saja tanpa membahas sikap Abi yang kurang sopan menurutnya.


Abi yang fokus pada ponselnya tersentak kaget melihat Devan, ia segera menurunkan kakinya dari atas meja. "Ada apa pak? "tanya Abi, berharap Devan tidak mengetahui sikapnya yang lancang tadi.


"Saya minta kamu buatkan proposal data keuangan bulan ini, semua catatan berkasnya ada disini! " bentak Devan melempar berkas yang di bawanya ke muka Abi hingga berkas tersebut berserakan, Abi terkejut, baru masuk kantor sudah di perlakukan seperti itu.


Abi memungut kertas yang berserakan tersebut.Ia menatap mata Devan dengan sangat nyalang, kesal bercampur amarah yang sudah membara di dalam hatinya.


"Kenapa! kamu gak terima?memangnya siapa kamu disini berani letakkan kaki kamu di atas meja! " pekik Devan matanya melotot dan menarik kerah baju Abi dengan brutal, Abi pun tidak bisa melakukan perlawanan apapun


"Saya tidak akan segan-segan pecat kamu dari sini jika kamu tidak menjaga atitude kamu! " ancam Devan, Abi mengepalkan tangannya geram dan ingin melawannya. Devan hempas tubuh Abi hingga tersungkur.


Devan meninggalkan Abi begitu saja di ruangannya, ia cukup puas memberi Abi pelajaran.Abi sangat kesal dan mengusap wajahnya kasar, baru kali ini ada orang yang berani melakukan itu kepadanya.


"Aaargh! awas aja kamu Devan! selama ada aku, hidupmu tidak akan pernah bisa bahagia! "racaunya, Abi mengatur strategi rencana apa yang akan di buat membalaskan dendamnya pada Devan agar hancur-sehancurnya, dia begitu membenci Devan karna dialah yang membuat pacar kakaknya berani selingkuh.


Ara datang ke ruangan Zahra. "Ra pokoknya kamu harus hati-hati dengan yang namanya Abi, dia gak ada positive vibesnya sama sekali sejak masuk sini, " ucap Ara mewanti-wanti Zahra.


"Udahlah Ar! Mungkin tampangnya aja emang kayak gitu, " ujar Zahra tidak percaya dengan perkataan Ara.



"Ya, mungkin aku belum kenal dia siapa, tapi aku takut kedatangan dia berimbas ke hubungan kamu dengan pak Devan, " tukas Ara.


"Udah ya Ar, aku mau kerja..., tolong jangan pernah membahas itu lagi, " ujar Zahra.


Ara tak bisa berkata apa-apa lagi, susah memang meyakinkan Zahra bila tidak ada bukti sama sekali, Ara masih berdiri tercengang di ruangan Zahra.


"Ada apa sih ini? " tanya Lia yang ikut menghampiri mereka.



"Tau nih sih Ara, su'udzon Mulu sama Abi, padahal kenal juga nggak tuh, " jawab Zahra.

__ADS_1


"Udah Ra, nggak usah di pikirin juga kali, Ara orangnya memang gitu, " timpal Lia.


"Tapi benar kak, tadi aku lewat ruangan Abi, dia udah berani meletakkan kakinya di meja, aku nggak berani menegur dia karena disitu ada pak Devan, tau deh, terciduk apa nggak sama pak Devan, " jawab Ara.


Zahra dan Lia saling bertatapan, mereka masih tidak percaya dengan perkataan Ara.



"Kamu jangan ngada-ngada ih, kalau ngomong, " kata Lia.


"Tau tuh! nanti ujungnya jadi fitnah loh," timpal Zahra, menepis pikiran buruknya tentang Abi.


"Mana ada fitnah, orang aku lihat sendiri kok, " ujar Ara, sebal karena tidak di percaya oleh kakaknya dan juga Zahra, dia berlalu dari ruangan Zahra.


"Dih, ngambek dia, aku mau kejar dia dulu ya Ra, " pamit Lia.


Zahra menganggukkan kepala, dia juga kepikiran dengan perkataan Ara, apa benar, Abi seberani itu, padahal dia baru saja masuk kerja di kantor ini.


"Woy ngelamun aja, ngopi dulu nih, " kata Friska memberikan kopi pada Zahra.


Zahra menyeret cangkir kopi itu. "Tau aja kamu kalau aku lagi pening, " tukas Zahra menyesap kopi itu, sedikit menghilangkan pening di pikiran Zahra.



"Ada apa sih? " tanya Friska, menatap ke arah Zahra sedari tadi memijit pelipisnya.



"Kata Ara, dia ngeliat Abi meletakkan kakinya di atas meja, " jawab Zahra


Ahra


Friska menggebrak meja membuat Zahra yang menyesap kopi tersedak hingga berhamburan ke lantai. "Apa! " teriak Friska.


"Apa-apa ! pelan-pelan dong! tersedak kan jadinya, " protes Zahra mengusap mulutnya.


"Iya maaf, ya udah deh takut kamu ngamuk aku pergi dulu ya..., " pamit Friska ngibrit keluar ruangan Zahra.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2