
"Friska! " teriak Zahra setelah mengetahui semua sudah di rencanakan oleh Friska.
Zahra segera pergi keluar dari ruangan itu dan mengunci kembali, Zahra tergesa-gesa keluar dari kantor, dia memberikan kuncinya kembali ke pak satpam di pos penjaga "Ini kuncinya Pak, terima kasih, " ucap Zahra, sambil memberikan kuncinya.
Zahra sudah tak tahan lagi, dia tidak bisa menunggu lama untuk menyeret Miko ke penjara, dia bergegas pergi ke kantor Miko menggunakan motornya.
Di tengah perjalanan, Zahra menghentikan motornya dan menelfon Abi, Zahra merogoh saku jasnya mencari ponsel, dia mencari nomor Abi di kontaknya.
Abi:Hallo Zahra, ada apa?
Zahra: Bi, tolong kamu cek flashdisk aku
Abi :Siap Ra, ada apa emangnya?
Zahra:disitu ada video rekaman CCTV Papaku kecelakaan nggak?
Abi:sebentar, aku lihat dulu ya,
Zahra: cepat sedikit Bi...,
Abi: nggak ada deh kayaknya Ra
Zahra: masak sih?
Abi: iya, udah aku cek, nggak ada
Zahra: Ya udah kalau gitu.
Zahra memutus sambungan telfonnya, dugaannya benar, Friska bukan hanya cari informasi tentang klien, tapi juga menghapus File rekaman yang sudah di copy di flashdisk Zahra.
Zahra meneruskan perjalanannya ke kantor Miko.
...----------------...
Sesampai di kantor Miko, Zahra langsung masuk ke dalam tampak Miko sedang berbincang dengan Friska.
"Kamu memang hebat Fris, dengan masuknya Devan ke penjara, aku jadi semakin mudah hancurkan dia, " puji Miko, kepada Friska yang mampu di andalkan.
"Iya dong, kamu fikir aku bisa diam saja melihat mereka bahagia, tidak! kita berdua sama Miko, kamu menginginkan Zahra, aku menginginkan Devan, "tukas Friska.
Mereka tidak sadar, jika di pintu ada sepasang mata sedang berdiri dan merekam pembicaraan mereka. "walau aku kehilangan bukti, tapi aku akan menjadikan rekaman suara kalian menjadi bukti baru, " batin Zahra, dia menghampiri Miko dan Friska
'Prok-prok-prok' Zahra bertepuk tangan tiga kali mengejutkan mereka "Wah, hebat ya kalian, bisa-bisanya melakukan ini di belakangku, " gertak Zahra, dia masih berusaha kendalikan emosi.
__ADS_1
"Miko berdiri menghampiri Zahra. "Mbul, ini tidak seperti_, " ucapan Miko terhenti
"Seperti apa! apa seperti kamu membunuh papaku! " bentak Zahra, menepis pegangan tangan Miko.
"Mbul, aku minta maaf..., aku melakukan ini demi kamu, aku cinta sama kamu Mbul! " ucap Miko suara Miko terekam ponsel Zahra yang di sembunyikan dalam sakunya.
"Cukup Miko! aku sudah muak semuanya! lagipula, kamu sudah tau kan rencanaku kepadamu apa! ini saatnya Miko.., " kata Zahra.
"Silahkan saja! tapi apakah kamu punya bukti! polisi akan mengabaikanmu jika laporanmu tanpa bukti Zahra! " bentak Miko dengan suara meninggi.
Zahra tersenyum simpul, dia mengeluarkan ponselnya dan mesave rekaman suara Miko tadi. "Pengakuanmu terekam dalam ponsel ini, kamu pikir aku bodoh, bisa lepasin kamu gitu aja! " ujar Zahra.
Zahra bergegas pergi dari kantor Miko. "Miko! Kejar dia! hancurkan ponselnya! kalau kamu masuk penjara, akupun masuk penjara!" gertak Friska menyenggol lengan tangan Miko.
Miko menuruti perkataan Friska, dia mengejar Zahra, Miko segera mendekap tubuh Zahra dari belakang dan merebut ponselnya. "Miko! kembalikan ponselku! " teriak Zahra menatap Miko nyalang.
"Tidak! diam! kamu pikir semudah itu membawaku ke dalam penjara? tidak Zahra! Sekuat apapun dirimu, tidak akan pernah mampumembuatku berurusan dengan polisi, " ucap Miko menghapus rekaman suaranya di ponsel Zahra.
Miko melempar ponsel itu ke arah Zahra. "Andai saja kamu mau tuk kembali padaku, mungkin masalahnya tidak akan serumit ini, " ucap Miko.
Friska tersenyum lebar, Miko berhasil menghancurkan bukti itu. "Zahra-Zahra, kurang baik apa sih Miko sama kamu, dia sudah menyanyangimu, kenapa tidak menikah saja dengannya, " kata Friska menimpali ucapan Miko.
Zahra menyela air matanya dan berlalu pergi dari kantor Miko dengan penuh kekecewaan karena gagal memenjarakan Miko.
Abi mondar-mandir menunggu kabar dari Zahra, melihat Zahra kembali, Abi begitu senang "Gimana Ra? kamu berhasil? " tanya Abi.
Zahra menggelengkan kepalanya "Tidak Bi, aku gagal, aku berhasil merekam suara Miko tadi, tapi Miko berhasil menghapus suara itu, " jawab Zahra.
Abi menepuk pundak Zahra. "Sudahlah, nanti kita berusaha lagi..., " ucap Abi, Zahra masih menunduk sedih.
"Sebagai Asisten, aku merasa tidak berguna tidak bisa menyelamatkan pak Devan, " tukas Zahra merutuki kesalahannya.
"Jangan bicara seperti itu, ini kesalahan kita bersama, pak Devan juga pasti sedih jika kamu terus menyalahkan dirimu sendiri, " timpal Abi, berusaha menenangkan Zahra.
Zahra memilih kembali ke ruangannya.
...----------------...
Zahra masih saja termenung memikirkan kejadian tadi "*Bodohnya aku, kenapa aku bisa gegabah memberitahu Miko jika aku sudah merekam pembicaraan nya! andai aku bisa menunggu sedikit lagi, mungkin bukti itu sudah ada di tanganku dan Miko..., Ya, pria itu mungkin sudah masuk penjara menggantikan Devan tapi ah! sudahlah, percuma aku menyesali, bukti itu tidak akan kembali*, " batin Zahra.
__ADS_1
Zahra mengusap wajahnya kasar, dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
'Deeert-deert ' ponsel Zahra bergetar sedari tadi, ada pesan masuk dari nomor tidak di kenal.
[Aku bisa membantumu menjerumuskan Miko ke penjara, asal setelah Devan bebas, kamu batalkan pertunangan mu dengannya]
"Nomor siapa ini? kenapa dia tahu sekali masalahku? " gumam Zahra.
Zahra memberitahu Abi soal ini. "Ra, sebaiknya kamu berhati-hati saja, bisa saja dia manfaatkan momen ini untuk mengambil kesempatan, " ucap Abi.
"Kamu benar bi, lebih baik aku abaikan saja pesan ini.., tapi aku begitu penasaran dengan pengirimnya, " kata Zahra.
"Terserah kamu saja Ra, aku hanya mengingatkan jangan terlalu gegabah ambil keputusan, pikirkan dulu baik-baik " timpal Abi, mewanti-wanti Zahra.
Perkataan Abi ada benarnya juga, lagipula, mungkin itu hanya nomor iseng yang ingin mengelabuhinya saja.
Zahra tak membalas pesan itu, dia fokus pada pekerjaannya agar tidak terganggu, Zahra teringat Devan, perusahaan ini tidak bisa maju tanpa Devan, Zahra akhirnya terketuk untuk membalas pesan itu.
[Baiklah, asal kamu bisa membebaskan Devan, aku siap tinggalkan dia, ]
Keputusan Zahra sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat, semua ini karena kesalahannya telah menuduh Devan sembarangan, jadi dia yang akan menanggung resiko ini.
Zahra Rela kehilangan Devan, agar perusahaan tidak bangkrut, Zahra sadar, memenjarakan Devan adalah keputusan yang salah, maka dia akan memperbaiki semua.
[ tunggu dia kembali ke kantor sebentar lagi]
Zahra membaca pesan yang ada di ponselnya, dia bersyukur Devan bisa di bebaskan. "Maafkan aku mas, aku lakukan ini semua demi perusahaan " ujar Zahra,
Zahra berencana pergi jauh meninggalkan kota ini, dia akan melanjutkan bisnis almarhum ayahnya.Kebetulan, setelah pak Ardi tiada, bisnis ayahnya terhenti.
Zahra juga menyiapkan surat pengunduran diri dari kantor itu, Zahra pasti bisa hidup tanpa Devan.
_Bersambung_
__ADS_1