ZAHRANA

ZAHRANA
sudah berakhir


__ADS_3

Devan memandangi surat pengunduran diri dari Zahra di atas brankar, ada perasaan sedih yang menyelimuti hatinya.


ia heran mengapa Zahra Setega ini meninggalkannya tanpa kabar juga tanpa alasan yang begitu jelas sekali.


Devan menghubungi Abi, memintanya untuk membantu selesaikan tugasnya di kantor, selama beberapa hari ketika Devan sedang dirawat di rumah sakit.


Devan:Bi, tolong bantu saya sekarang juga


Abi:bantu apa ya pak? saya siap membantu


Devan: bantu saya selesaikan pekerjaan saya


Abi: gak salah pak, saya kan sekertaris pak,


Devan:saya tau, tapi kan Zahra sudah resign


Abi:( celingukan) pak, ada yang mau saya ceritakan ke bapak soal Zahra pak...,


Devan:soal Zahra? emang nya kenapa dia?


Abi:Zahra pergi tanpa kabar karna Dita pak,


Devan:Apa? karna Dita gimana maksudnya?


Abi:Jadi gini pak, sebenarnya kecelakaan itu_,


Dita merebut ponsel Abi dan memutus sambungan telponnya, ia sangat geram dan kesal pada Abi, di cekiknya leher Abi dengan sangat kuat, amarahnya tidak bisa di kontrol lagi.


"Berani- beraninya kamu bongkar ini semua di depan Devan! " bentak Dita terus mencekik leher Abi, tatapannya nyalang sekali, namun itu sudah tidak membuat Abi takut lagi kepadanya.


"Saya tidak peduli, saya bukan pria bodoh yang bisa terus anda manfaatkan! " ketus Abi, dirinya muak dengan kejahatan Dita yang begitu sadis hingga hampir membuat Devan celaka.


Abi melakukan perlawanan, di tendangnya kaki Dita hingga cekikannya terlepas "Awas kamu bi, tunggu pembalasan saya! " ancam Dita


"Silahkan saja, saya tunggu, " tukas Abi, tidak ada takut-takutnya sama sekali kelada Dita.


...----------------...


Abi keluar ruangannya dan bergegas ke ruangan Devan untuk membantu Devan selesaikan tugas kantornya, ponsel Abi berdering kembali, Devan menelfon Abi kembali karena masih penasaran sekali yang di maksud Abi barusan.


Abi menekan tombol hijau di layar, Abi yakin, Devan pasti ingin menanyakan maksud dari perkataannya tadi.


Devan:Hallo Bi, yang kamu tadi serius kan?

__ADS_1


Abi: serius pak, Bapak kecelakaan karna Dita


Devan: ini maksud kamu gimana sih bi?


Abi:iya pak, Dita yang sabotase mobil bapak


Devan:kok kamu bisa kenal sama Dita bi?


Abi:saya adik bang Alex pak, bapak ingat?


Devan:iya, Alex selingkuhannya Dita itu?


Abi: iya, Zahra pergi karna dia di ancam pak,


Devan: di ancam gimana maksud kamu?


Abi: Dita akan celakai anda, kalau Zahra tidak pergi pak,


Devan: , kamu tahu dimana Zahra sekarang?


Abi: kurang tau pak , ini bukan Zahra yang mau


Devan: terima kasih bi, saya akan cari Zahra


Ia sangat merindukan kehadiran Zahra, Devan mengingat momen bahagianya bersama Zahra, Devan tidak menyangka Zahra menjauh demi keselamatannya, begitu mulia hati Zahra, rela berkorban demi cinta.


Setelah di perbolehkan pulang, Devan terus mencari Zahra di bantu Abi, dia juga mengerahkan anak buah suruhannya untuk mencari Zahra, namun tidak kunjung ketemu. "Pak, lebih baik kita istirahat disana dulu, nanti kita cari Zahra lagi, saya sudah lapar pak, muter-muter dari tadi, " celetuk Abi menunjuk ke kafe seberang jalan, Devan mengamati kafe itu, cacing di perutnya dari juga meraung-raung minta diisi.


"Kamu benar bi, kita mampir kesana, " ujar Devan, dia juga sudah merasa lelah.Devan mengajak Abi Duduk di bangku paling pojok, itu memang sudah kebiasaannya sejak masa sekolah, suka tempat yang paling pojok, bak seperti hantu.


"Mau pesan apa mas? " tanya seorang pelayan, suara pelayan itu sangat tak asing Devan, ia yakin mengenal sang pemilik suara itu.


"Saya pesan_, " Devan kaget melihat pelayan itu, wanita yang dia cari ternyata bekerja di kafe itu.


". Pak devan_ " pelayan itu terperanjat melihat Devan, dia bingung sekali, bagaimana Devan bisa sampai disini, padahal disini sudah jauh dari tempat tinggal dan kantor Devan.


"Zahra! "Devan tersenyum girang, ia ingin sekali memeluk kekasihnya itu, saking terlalu rindunya pada Zahra.


Zahra malah mundur selangkah "Stop! " teriak Zahra rentangkan kedua tangan ke depan menjauh dari Devan, agar tidak terlalu dekat dengan Devan.Bisa-bisa, nanti dia terbawa perasaan lagi pada Devan.


Devan mengernyitkan dahinya "Ada apa Ra? kenapa saya tidak boleh dekat-dekat sama kamu? apa salah saya Ra? " tanya Devan, keheranan melihat Zahra seolah menjauh darinya.


"Pak, saya sudah tidak ada urusan lagi dengan anda, tolong jangan ganggu saya lagi Pak, " jawab Zahra, mengatupkan kedua tangannya di depan Zahra.

__ADS_1


"Hubungan kita yang belum selesai Ra, kamu tega ninggalin saya," kata Devan, dia sedih karena Zahra bukan hanya pergi dari hidupnya, tapi juga menghindarinya.


Zahra menghela nafas panjang "Saya sudah anggap semuanya berakhir seiring dengan kepergian saya pak, " ucap Zahra, terpaksa mengatakan itu agar Devan mau mengerti.


Sungguh berat hatinya ungkap semua ini, namun harus ia ungkapkan demi orang yang ia cintai itu selamat, Zahra lebih baik mengorbankan cintanya sendiri daripada mengorbankan nyawa Devan.


Devan memegang kedua tangan Zahra "Saya tidak ingin kehilangan kamu lagi Ra, " kata Devan, Zahra berusaha sekuat mungkin agar tidak menangis di depan Devan.


"Lebih baik aku kehilangan cintamu daripada harus kehilangan dirimu untuk selamanya, " batin Zahra, ia tidak ingin membuat Devan celaka lagi karena dia, sudah cukup kemarin dita membuat Devan celaka karenanya, dia tidak ingin membuat Devan lebih menderita lagi.


"Lepaskan saya pak, jangan ganggu saya lagi pak, saya mohon, " pekik Zahra mengatupkan kedua tangan di depan dada.


"Tidak Ra, saya akan terus memperjuangkan cinta kita sampai kapanpun, saya benar-benar mencintai kamu Ra, tanpa kamu rasanya hidup saya seperti orang tidak waras, " ucap Zahra.


"Tapi saya sudah tidak mencintai anda lagi pak, tolong mengerti! " Zahra terpaksa membentak Devan, karena Devan terlalu keras kepala.


"Bukannya tersinggung, Devan malah tidak malu mendekat dengan Zahra "Benarkah? yang kamu katakan itu dari hatimu? " tanya Devan.


Tak ingin terus di dekati Devan, Zahra meninggalkan Devan untuk melayani konsumen lain, dia mencoba mengabaikan Devan.



Seolah tak ingin menyerah, Devan ikut melayani seorang konsumen di cafe itu dan terus mengikuti Zahra.



"*Kenapa sih, dia tidak mau mengerti juga*," batin Zahra, sebal karna terus di ikuti Devan.



Zahra membiarkan Devan melayani konsumen hingga nanti lelah sendiri.



Bukannya berhenti, Devan malah terus melayani konsumen di cafe itu, Zahra memegang pergelangan tangan Devan dan menarik tangannya keluar cafe


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


"Kenapa sih! bapak tidak mau mengerti juga, " kata Zahra, Devan senang karena Zahra akhirnya menghentikan dirinya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2