ZAHRANA

ZAHRANA
Bertemu Lia


__ADS_3

     Bayi mungil itu kini beranjak tumbuh menjadi anak yang tampan dan lucu. Semakin hari semakin mirip papanya.


    "Devan... jangan lari-lari nak, nanti jatuh. "


  Tegur Zahra, pasalnya putranya itu sangat aktif dan selalu ingin sesuatu yang baru.


     "Tidak mau Mama... Epan mau main pecawat ini, " celoteh Devan dengan tingkah lucunya terus berlari menerbangkan pesawatnya.


      Zahra hanya menggelengkan kepalanya, dia hanya mengawasi Devan dari kejauhan.


    Baru saja Zahra mengalihkan pandangannya, Devan sudah membawa kucing, "Ya ampun Devan, ngapain kamu bawa kucing kesini sayang.... "


   Zahra sedikit menghindar dari putranya, dari dulu memang ia pobia sekali dengan kucing.


    Devan malah tertawa, "Mama tacut ya cama kucing? " tanya Devan menjahili mendekatkan kucing itu pada Zahra.


      Zahra ngibrit lari menjauhi Devan tapi Devan malah mengejarnya.


    "Devaaaaan! stop jangan kejar Mama nak, mama takut sama kucing itu, " teriak Zahra sembari terus berlari menghampiri Devan.


    "Epan cape Ma, lapel... " ucap Devan memegangi perutnya, dia melepaskan seekor kucing yang di bawanya tadi.


Devan mendekati mamanya, tatapannya memelas, mata coklatnya sedikit berkaca-kaca membuat Zahra sejenak teringat suaminya.


"Ma.. Maapin epan ya... epan salah, Epan janji tidak nakal lagi. " Bocah itu terus memohon membuat Zahra semakin gemas melihatnya.


Zahra menggendong Devan, "Nak... Mama tidak marah kok sama Devan, justru Mama sayaaaang banget sama Devan, " ucap Zahra membelai lembut pipi putra semata wayangnya itu.


Zahra menyuapi Devan, bocah mungil itu malah merebut piring yang di pegang Zahra.


"Sini, Epan bisa makan cendiyi! " tukasnya menyendok makanan yang ada di piring lalu di masukkan ke mulutnya.


"Dia seperti papanya, yang tidak suka merepotkan orang lain. "


Suara itu membuat Zahra terhenyak kaget, "Eh Gino, sejak kapan kamu ada disini? " tanya Zahra menyeka air matanya.


"Sedari tadi, " jawab Gino duduk di sebelah Zahra.



"Andai Devan masih di beri kesempatan hidup, mungkin dia akan bahagia melihat putranya sudah tumbuh sebesar ini, " gumam Gino.



"Iya Gin... sampai-sampai putraku sendiri mirip papanya, " sahut Zahra menatap Devan dengan sendu.


"Papa? Epan punya papa? "


Devan nyeletuk begitu saja, spontan Gino dan Zahra saling pandang, bingung harus menjawab apa.



"Sayang, jangan makan sambil bicara Nak, " tegur Zahra mengalihkan rasa penasaran sang putra.



"Hey jagoan! makan yang banyak ya! nanti om belikan es krim! " teriak Gino turut membantu Zahra mengalihkan perhatian Devan.



"Hoyeee! Epan makan es cim! " sorak Devan.

__ADS_1



Devan melahap makanannya dengan cepat, tidak sabar untuk segera ikut omnya beli ice cream.


"Mama.. om, Epan udah makannya jadi beli es cim kan? " tanya Devan menagih janji Gino.


Gino membungkuk, menatap Devan dari dekat, "Izin sama Mama dulu ya... " pungkasnya.



"Tidak mau! kita pelgi aja om... kebuyu sama mama tidak di bolehin, " tolaknya, Zahra hanya tersenyum kekeh, orang yang di bicarakan padahal ada di sebelahnya.



"Ya... boleh beli ice cream, tapi jangan banyak-banyak okay!. " ujar Zahra.


Devan mengacungkan jempolnya kepada Zahra, dia tersenyum manis sama seperti ayahnya bagai pinang di belah dua.


Mungkin, ini cara tuhan mengingatkan Zahra agar tidak melupakan suaminya.


"Mas... Kau sudah tiada, tapi semenjak kelahiran putra kita, aku merasa kau masih hidup dan akan selalu hidup selamanya. di hatiku... Tunggulah aku di syurga mas... " batin Zahra sejenak teringat Devan.


"Om ayo om! lama banget cih! Epan Mayu macan es cim nih! " teriak Devan sedikit tidak sabar menunggu omnya itu.


"Ra, aku mau ngajak Devan jalan-jalan dulu ya, " pamit Gino kepada Zahra.


"Iya hati-hati, " ujar Zahra.


Gino segera menggendong Devan menuju mobil dan berlalu menuju toko ice cream terdekat.


"Zahra! " panggil seseorang dari belakang.


"Eh kalian, tumben kesini... ada apa? " tanya Zahra.


"Kita kesini pengen bertemu Devan kecil Ra, " jawab Lia tampak senyum merekah di ujung bibirnya.


"Iya Ra, sekaligus kita mau Ziarah ke makam pak Devan, " tambah Abi.


"Yah, si Devan baru aja pergi di ajak Gino jalan-jalan... " kata Zahra.


"Ya udah deh, kita tunggu sini ya Mas. " Lia duduk di samping Zahra.


Abipun ikut duduk berhadapan dengan mereka.


Suara motor Gino kembali terdengar, dia mengantar Devan kembali pada Zahra.


Gino merasa gugup karena ada Lia, ada rasa sesak menyelimuti hatinya, melihat Lia kesini tidak sendiri melainkan dengan Abi, suaminya.


"Hay... apa kabar, " sapa Gino memberanikan diri mengapa mantan kekasihnya itu.



"Kabar baik Gin, kamu sendiri apa kabar? " tanya Lia, sebenarnya masih ada perasaan menggebu di hati Lia melihat Gino, tapi Lia berusaha sekeras mungkin untuk menjaga hati suaminya.



"Baik juga Li, maaf ya... saat pernikahanmu aku tidak datang, lagi sibuk ngurusin proyek yang ada di luar negeri, " ucap Gino.



Sebenarnya itu hanyalah alasan Gino saja, dia sungguh tidak sanggup melihat wanita yang di cintainya menikah dengan orang lain selain dirinya.

__ADS_1


Gino menyesal telah menyakiti Lia dahulu. Pasalnya, dia tidak ingin dekat-dekat baik dengan sahabat Devan maupun Zahra, karena Gino dahulu sangat membenci Devan akibat hasutan ibu tirinya.


Andai saja Lia tahu alasan Gino selingkuh dulu, pasti saat ini wanita itu menjadi miliknya. Tapi nasi sudah terlanjur menjadi bubur, waktu tidak bisa Gino ulang kembali.


Gino hanya bisa legowo menerima keputusan Lia untuk menikah dengan Abi.


Abi menggendong Devan kecil, senyuman anak itu mengingatkan Abi pada sang bos, yaitu pak Devan.


"Hay boy! siapa namamu sayang? " tanya Abi mengacak rambut Devan.



"Namaku Epan aljuna om, om capa?. "



Dengan gemasnya, Devan menanyakan siapa nama orang yang menggendongnya tersebut tanpa takut dan malu.



"Nama om Abidzar... Om biasa di panggil Abi, " jawab Abi tangannya masih terus mengacak rambut Devan.



"Om! jangan acak rambut Epan terus om, nanti belantakan, Epan jadi tidak ganteng lagi deh, " tegur Devan memegangi rambutnya.


Di terur Devan kecil, membuat Abi tertawa cekikikan.


"Ih om! mau aku pukul! " ancam Devan menggenggam tangannya, bersiap menuju pria yang di hadapannya itu.



"Iya deh... om minta maaf ya boy... " ujar Abi menarik hidungnya.



"Di tayik telus om! capa tahu jadi kayak Pinokio, " ledeknya membuat Lia dan Zahra tergelak tawa.



"Jangan deh om! beyiin epan gulali yang ada di cana, Epan tadi liat Olang jual gulali, mau beli tacut mama tidak boyehj " curhat Devan kepada Abi.



"Kamu mau gulali boy? " tanya Abi.


Devan tentu saja mengangguk kegirangan.


Devan... " panggil Zahra membuat Devan ketar-ketir.


"Cekali ini ma ya... cekali Epan mohon... Epan mohon mama epan yang cantik... " mohon Devan mengatupkan kedua tangannya.


"Baiklah, cium mama dulu, " pinta Zahra.


Tanpa basa-basi Devan kecil mencium pipi kanan dan kiri Zahra.



Zahra hanya tersenyum manis menatap Abi menggendong Devan membeli gulali.


.

__ADS_1


__ADS_2