ZAHRANA

ZAHRANA
Fakta sebenarnya


__ADS_3

       Devan tidak pernah lengah mencari tau tentang Dita, dia sungguh tidak ingin Dita menyakiti Zahra kembali, "Bagaimana bi, apa ada informasi terbaru tentang Dita? " tanya Devan mengernyit.


"Tidak ada Pak..., hanya itu yang saya dapatkan, " jawab Abi memberikan laporan hasil rekap data keuangan kepada Devan.


  Devan memeriksa keseluruhan laporan yang di berikan Abi kepadanya, "Jika kamu bertemu Dita suruh dia ke kantor saya, " titah Devan pandangannya tidak beralih sedikit saja dari kertas putih yang di bacanya.


  "Baik Pak..pesan Bapak akan saya sampaikan, " tukas Abi tetap berdiri di hadapan Devan.


  Devan merapikan kembali berkas laporan itu menumpuknya di atas mejanya, "Baiklah, kamu boleh kembali, " ucap Devan.


  Abi mengangguk, dia berlalu dari ruangan Devan.


             \=\=\=oooOooo\=\=\=


      Abi terkesiap kaget melihat Zahra sudah berada di depan ruangan Devan, "Zahra, kamu ngapain disini? " tanya Abi berkeringat dingin, takut bila Zahra mendengar percakapannya dengan Devan.


     Zahra menatap Abi dengan tatapan yang sangat nyalang sekali, "Seharusnya aku yang tanya...apa yang kamu rencanakan dengan Pak Devan? " tanya Zahra mengintrogasi Abi.


    "Nggak kok.. aku nggak ngerencanain apapun dengan Pak Devan, " jawab Abi gugup raut mukanya menandakan jika dia sedang berbohong.


 Zahra terus menatap Abi lekat-lekat, "Yakin? " tanya Devan tanya Zahra mencoba pastikan jika Abi tidak berbohong kepadanya.


 "Ya Ra...aku beneran, " jawab Abi tangannya masih saja bergetar.


 "Ada apa Ra? " tanya Devan yang baru saja keluar dari ruangannya.


   Zahra berbalik menghampiri Devan, mendekatkan wajahnya dengan wajah pujaan hatinya itu.


 "Bapak menyimpan rahasia lagi di belakang saya? " tanya Zahra tatapannya sedikit tajam menusuk ke dalam hati Devan.


  "Ra-rahasia apa Ra?. "Devan bertanya balik, langkahnya perlahan beringsut mundur jika tidak, bisa bertabrakan dahinya dengan dahi Zahra.


 "Jika Bapak kali ini sampai ketahuan bohong...saya beneran akan meninggalkan Bapak..bapak pikir saya suka di bohongi, bukankah pasangan itu harus terbuka satu sama lain..." ujar Zahra dengan penuh ancaman.


     Devan menjadi tidak berkutik, takut jika Zahra benar-benar meninggalkannya.Apalagi Miko adalah mantan kekasih Zahra.


    " Miko sebenarnya adik kandung Dita, dia hanya di besarkan oleh keluarga angkatnya, " celetuk Devan perkataan itu lolos begitu saja dari mulutnya.


 Langkah Zahra terhenti, jantungnya serasa di hantam mendengar ini semua, "Ja-jadi mungkin saja dia terlibat penculikanku? " tanya Devan.


Devan mengangguk "Aku kan sudah bilang...jangan kamu percaya padanya," jawab Devan, mencoba menasihati Zahra untuk ke sekian kalinya.


    Sulit bagi Zahra percaya semua ini, orang yang selama ini di anggapnya baik, sudah berubah ternyata menyimpan udang di balik batu.


 Zahra sangat merasa tertipu dengan topeng kebaikan Dita selama ini, dia menyesali perbuatannya yang tidak mempercayai Devan.


 "Aku sudah memperingatkanmu...Tapi bagai menaruh air di daun talas, kamu malah tidak mau mendengarkan ku, " tukas Devan.


Sebenarnya Devan sungguh kasihan pada Zahra karena terlalu mudah di tipu dan memaafkan.


  "Jadikan semua ini pelajaran yang berharga Zahra...agar dirimu tidak mudah lagi untuk di tipu begitu saja, jadilah wanita yang tegas, " pesan Devan benar-benar merasuk ke hati Zahra.

__ADS_1


  Orang cerdik bukanlah orang yang pintar dalam segala hal, tapi orang cerdik adalah orang yang mau belajar dari kesalahannya.


Cukup kali ini Zahra tertipu oleh Dita, untuk ke depannya Devan berharap Zahra lebih cerdik membedakan mana yang tulus meminta maaf, mana yang hanya bersandiwara saja.


Devan menatap Zahra sejenak, tak lama devanpun berlalu meninggalkan Zahra menuju ruangan kerjanya.


     Zahra hanya terdiam menatap kepergian Devan, ada perasaan sesal di hatinya sudah curiga untuk kesekian kalinya kepada Devan.


                \=\=\=oooOooo\=\=\=


      Abi termangu di ruangannya,Berpikir keras agar bisa bertemu Dita, otaknya tiba-tiba saja menunjukkan sesuatu.


   Abi teringat Dita berkata restoran yang pernah di kunjunginya usai penculikan Zahra adalah restoran milik Dita.


  Sontak saja, tanpa membuang waktu lagi Abi gegas keluar meninggalkan ruangannya.


          \=\=\=oooOooo\=\=\=


      "Bi...kamu mau kemana?. "Devan menyapa Abi yang tidak sengaja berpapasan di lift.


    Abi menghentikan langkahnya merasa terpanggil oleh Devan.


    "Saya mau menemui Dita di restorannya Pak, " jawab Abi menatap Devan dengan penuh tatapan cemas.


"Kamu yakin dia ada di restoran itu?. " tanya Devan meminta Abi memikirkan kembali.Sia-sia saja jika nanti sesampai disana, yang di cari malah tidak ada.


Abi mengangguk, dia berlalu melanjutkan langkahnya tidak pernah menyerah untuk mencari Dita.


"Maafkan saya Lia, saya tidak sengaja menabrakmu, " ucap Abi meminta maaf.


"tidak apa-apa kok Bi, terima kasih sudah mau menolongku, " tukas Lia mengulum senyum ke arah Abi, tatapan mata Lia sedikit membuat Abi terkesima.



"Ya sudah.. kalo begitu aku duluan ya, ada urusan mendadak, " pamit Abi tidak bisa berlama-lama dengan Lia.



Lia mengangguk, gegas Abi berlalu meninggalkan kantor.



\=\=\=oooOooo\=\=\=



Abi sudah sampai di restoran Dita, hanya satu jam perjalanan dari kantor.Kemudian, Abi segera masuk ke restoran Dita.



Betapa terkejutnya Abi, Miko juga sudah berada di restoran itu mengobrol santai dengan Dita.

__ADS_1



Tak kunjung masuk, Abi mengintip di balik pintu.Abi menajamkan pendengarannya.



"Ko...kakak takut mereka curiga kakak menyimpan sesuatu di belakang mereka, " kata Dita menatap sang adik dengan raut muka gelisah.


Miko membakar rokoknya, menghisapnya perlahan dan menyembulkan ya ke udara.


"Kakak penakut banget sih, masak lawan Zahra aja tidak bisa! " gertak Miko sedikit kecewa pada kakaknya itu.


"Bagaimana jika Zahra tau kakak yang menyuruhmu untuk menabrak papanya Zahra hingga tewas? " tanya Dita khawatir rahasianya akan terbongkar.



Mata Abi membulat sempurna, dia tidak menduga jika Dita dalang di balik tewasnya papa Zahra, sedangkan Miko hanya sebatas wayang yang menjalankannya. Sungguh kejam sekali mereka!



Abi ingin berlalu pergi dari restoran itu mengurungkan niatnya untuk masuk. Dia ingin segera memberi tahu semuanya pada Devan.


'Krek' Abi tidak sengaja menginjak botol Aqua, hampir saja persembunyiannya di ketahui Miko dan Dita.


Miko dan juga Dita menoleh ke belakang, "Siapa itu Ko? apa ada yang mendengar pembicaraan kita? " tanya Dita celingukan kesana kemari mencari sumber suara.


Keringat Dingin mengucur di dahi Dita, rasa takutnya mengalahkan segalanya.



Dita selalu di bayangi ketakutan yang luar biasa sejak mengetahui papa Zahra tewas di tangan adiknya itu.



Memang dia sendiri yang meminta Miko mengambil jalan pintas, namun siapa sangka bila kecelakaan itu membuat papa Zahra tewas sia-sia di tangan Miko.



Miko gegas keluar mengecek siapa yang berada di balik pintu.



"Kak! Abi! " teriak Miko panik melihat Abi berlari menuju mobilnya.



"Kejar Ko! " jerit Dita.



**Mampukah Abi lolos dari kejaran Miko dan Dita? Ikuti terus Yaa terima kasih 😊🙏**

__ADS_1


__ADS_2