
Devan uring-uringan keluar dari ruangan Abi. "Dasar! Nggak punya etika! " gerutu Devan 'Bruuggh!' saking kesalnya, Devan sampai tidak sengaja menabrak seorang gadis di depannya.
"Aduh! sakit! " rintih gadis itu, memegangi lututnya.
I. ba melihat gadis tersebut, Devan inisiatif membantu gadis itu berdiri."Maaf mbak, saya gak sengaja, " ucap Devan.Gadis itu menoleh ke arah Devan.
"Dita_" tukas Devan, terkejut melihat Dita di depannya.
"Devan_" ucap Dita, tak pernah menyangka jika Devan menolongnya.
Keduanya sama-sama saling terperangah dan kaget.Tanpa aba-aba, Dita langsung memeluk Devan sangat erat sekali.Devan tidak berkutik ketika di peluk Dita, sang mantan kekasih yang sudah ia lupakan itu.
"Van ..., aku kangen banget sama kamu ,apa kamu nggak mau kasih satu kesempatan lagi untukku memperbaiki semuanya? " tanya Dita mencoba cari perhatian Devan lagi, syukur jika Devan mau balikan dengannya lagi.
"Dit, lepas dit, jangan sampai karyawan disini salah kaprah tentang kita Dit, " tukas Devan, dia berusaha menepis pelukan Dita namun tidak bisa.
"Nggak Van, jujur aku masih sayang sama kamu ... Izinkan aku untuk memperbaiki dari awal lagi Van, aku janji gak bakalan ulangi kesalahanku lagi Van .... "Dita terus saja memohon pada Devan, berharap Devan bisa memaafkannya dan kembali kepadanya lagi.
Devan melepas pelukan Dita. "Cukup! buang jauh-jauh janji manismu itu! wanita sepertimu tidak pantas di maafkan lagi! " bentak Devan.
"Tapi Van_ " ucapan Dita terjeda, suaranya seperti tercekat di tenggorokannya, tak mampu berkata apa-apa lagi kepada Devan.
"Cukup! jangan membuang air mata palsu hanya untuk mendapat cintaku lagi! " Devan menyela ucapan Dita, ia menatap nyalang dan sangat tajam mantan kekasihnya itu, dia sudah tidak Sudi lagi untuk kembali kepada Dita.
"Kamu salah faham waktu itu Van .... " Sanggah Dita dengan berbagai alasan, agar Devan tetap luluh dengannya lagi, tapi Devan malah membuang muka.
Devan semakin muak dengan sikap Dita, ia pergi meninggalkan Dita sendirian.Abi yang mengintai mereka sedari tadi, tersenyum dan menghampiri Dita dengan langkah gontai.
"Waww! Aktingnya bagus sekali bos, salut saya, " gumam Abi kagum dengan sandiwara Dita tadi.
". Diam kamu! jangan sampai Devan tau kita saling mengenal! " tukas Dita lirih, ia lalu segera mengejar devan.
__ADS_1
Abi tersenyum lebar, dirinya penasaran, siasat apalagi yang akan Dita lakukan untuk mendapat cinta Devan, bagi seorang Dita, cinta dan harta sangatlah berbeda tipis
Abi kembali menuju ruangan, tak sabar menanti keributan apa lagi yang akan di buat Dita, wanita obsesi harta itu tidak akan berhenti mengejar Devan sampai hartanya habis.
...****************...
Dita mengikuti Devan sampai ruangannya. "Kamu ngapain lagi sih Dit, ngikutin aku? " tanya Devan sebal dengan kelakuan Dita, dulu begitu tega mengkhianati, sekarang malah kembali mengejarnya mati-matian tanpa henti.
". Kasih aku kesempatan Van ... aku mohon, "mohon Dita mengatupkan kedua tangannya.
"Nggak! " tolak Devan,ia masuk dan mengunci ruangannya.Devan mengusap wajahnya kasar, dia tak mengerti apa mau Dita muncul kembali ke hadapannya? bukankah dia hanya mencintai Alex seorang? Devan memijit pelipisnya, pening memikirkan Dita yang masih saja terobsesi padanya.
"Kenapa kamu harus datang di hadapanku dit, disaat aku sudah menata hatiku kembali, " batin Devan, dirinya juga tak menyangka Dita bisa nekad dan berani menemui dirinya lagi disaat hatinya sudah di miliki orang lain.
Sesak, hancur, sakit itulah yang di rasakan Devan saat ini, luka yang Dita goreskan di masa lalu sangat terlalu dalam dan begitu menyakitkan Devan, dia berusaha mengubur rasa sakit hatinya pada Dita dalam-dalam, kini rasa sakit hati itu muncul kembali ke permukaan.
...----------------...
Zahra berpapasan dengan Dita di depan ruaangan Devan, Zahra juga melihat gelagat aneh Dita, seperti habis menangis, entah tulus menangis sungguhan atau sandiwara belaka.
"Silahkan saja Mbak, saya nggak takut karna memang saya tidak salah, " ujar Zahra, sama sekali tidak takut apapun yang di lakukan oleh Dita kepadanya, toh dia juga tidak bersalah.
Ara yang mendengarnya segera menghampiri. "Ra, ini siapa? " tanya Ara penasaran dengan orang yang baru di temuinya itu, sepertinya Zahra sudah mengenal wanita itu.
"Ikut aku ke ruanganku, nanti ku ceritakan, " jawab Zahra lirih. Ara mengikuti langkah Zahra pergi.Zahra menceritakan semuanya pada Ara, mulai dari awal Zahra mengenal Dita hingga semua kesalah pahaman ini terjadi.
"Apa! tuh cewek yang selingkuh malah dia nyalahin kamu Ra, gak bisa di biarin! " Ara terbawa emosi mendengar cerita Zahra, ingin rasanya mencabik muka Dita saat itu juga, sudah dia sendiri selingkuh yang salahkan orang lain membocorkan rahasianya, sungguh manipulatif sekali!
"Aku juga gak tau Ar, Devan tau darimana kok bisa pergokin dia selingkuh, " ucap Zahra, mengusap wajahnya dengan kasar
"Seharusnya kalau dia selingkuh, dia juga harus terima resikonya Ra, sepandai-pandai kita menyembunyikan sampah, baunya pasti akan tercium juga, " timpal Ara.
__ADS_1
"Tumben tuh bener ucapanmu Ar, " sahut Zahra.
"Hehe, jiwanya lagi waras Ra, " tukas Zahra sembari nyengir kuda.
Zahra memutar kedua bola matanya jengah "Pantesan kadang-kadang juga konslet, " timpal Zahra, Ara hanya tersenyum simpul
"Kalo dia tau Devan pacaran sama kamu, bisa gawat Ra, " celetuk Ara, tiba-tiba saja dia kepikiran bagaimana jika nanti Dita tau jika Devan dan Zahra memiliki hubungan, tidak bisa di bayangkan apa yang akan di lakukan Dita.
"Maksudmu?" tanya Zahra, masih ngelag tak mengerti maksud ucapan Ara barusan.
"Ya bisa aja kan ... kalo sampai dia tau Devan cinta sama kamu, bisa jadi boomerang bagi hubungan kamu dan Devan, dia kan gak bakal biarin Devan sama kamu bersatu Ra, " jawab Ara, mencoba membuat sahabatnya itu mengerti.
"Benar juga kamu Ar, " timpal Zahra, perkataan Ara ada benarnya juga.
"Pokoknya, mulai sekarang kamu harus hati-hati.., setiap hubungan gak selamanya berjalan lurus " Ara mewanti- wanti.
Zahra mengangguk setuju dengan ucapan Ara, siap mencintai berarti juga siap terima resiko kehilangan juga.
"Ya udah, aku keluar dulu, masih numpuk nih kerjaan, " pamit Ara.
"Ya, " jawab Zahra singkat.
Mata Ara berbinar ketika melihat secangkir kopi di meja Zahra. "Kopi kamu nggak di minum tuh? " tanya Ara.
"Ya, ntar lagi aku minum kok, kamu mau? " tanya balik Zahra menawarkan kopi pada Ara.
"Ya.., boleh sih, kalau mau berbagi, " jawab Ara.
"Ya udah nih minum, sedotannya ada dua," kata Zahra.
__ADS_1
Ara meminum kopi itu dan berlalu pergi dari ruangan Zahra.
_Bersambung_