ZAHRANA

ZAHRANA
Jawaban zahra


__ADS_3

"Ra, ayo cepet jawab ... pak Doni udah siap menunggu tuh Ra. " ujar Mbak Ella, tidak sabar mendengar jawaban dari Zahra.


"Iya, jawab dong.... " timpal Lia, semua juga ikut serta menunggu jawaban zahra, Zahra hanya diam di liriknya sekali lagi ke arah kekasihnya itu, takut menyinggung hatinya.


Maaf pak, dari awal saya anggap bapak senior saya, gak ada perasaan apapun, saya harap kedepannya kita bisa seperti biasa pak, tanpa mengingat hari ini. " jawab Zahra.


Doni yang semula berlutut menegakkan tubuhnya, dia memasukkan cincinnya kembali, ada sedikit rasa gemuruh dalam dadanya.


"Tidak apa-apa Ra, saya mengerti gimana perasaan kamu ... kedepannya, saya akan lebih professional lagi bekerja dan tidak lagi mengingat hari ini. " ungkap Doni.


Devan tersenyum lebar, ia senang dengan jawaban zahra, percaya jika Zahra tidak akan mengkhianati seperti yang di lakukan Dita.


"Udah selesai kan? Cepat masuk ruangan masing-masing! " Devan meminta semua karyawannya masuk ruang kerja kembali.


"Ra, kamu kenapa sih nolak lamarannya pak Doni? udah tau pak Doni ada niat serius sama kamu malah di tolak! " ujar Ara, gemas pada sahabatnya itu.


"Aku gak mau maksain apa yang tidak bisa aku lakukan, " tukas zahra


Ara menggaruk kepalanya yang tak gatal "Maksud kamu? " tanya Ara, tak habis fikir dengan penolakan Zahra.


"Jika wanita lain berada di posisiku, bisa saja mereka menerima, tapi tidak denganku Ar ... aku tidak bisa memaksakan hatiku tuk mencintai pria lain yang tidak aku cintai, walaupun ada niatan serius sekalipun, " ujar Zahra.


Memang, wanita butuh kepastian dari seorang pria, namun jika pria itu bukanlah orang yang di cintai, maka semuanya tidak akan sejalan seperti yang di harapkan dan inginkan, apapun yang terjadi, hati Zahra tidak akan pernah berpaling dari Devan.


Devan masuk ke ruangan Zahra tanpa mengetuk pintu. "Ra, terima kasih .... "Ucap Devan, mengulum senyum ke arah Zahra


"Terima kasih untuk apa pak? " tanya Zahra, kebingungan dengan maksud Devan


"Karna kamu telah memilih saya,"jawab Devan, membuat Zahra tersipu malu.


"Saya berkomitmen pada diri sendiri untuk menjaga hati dan perasaan saya pak, tapi untuk kedepannya saya bersama bapak atau tidak, itu urusan tuhan yang maha kuasa.., kita hanya bisa berencana Pak, selebihnya, Tuhanlah yang menentukan " Tukasnya.


Untuk saat ini Zahra tak ingin pusing memikirkan masa depannya, ia ingin mensyukuri nikmat yang ada saat ini, ia tidaklah berharap pada siapapun untuk saat ini.Karna prinsip Zahra, dimana berani mengharap , disitu harus siap menanggung segala kekecewaan yang begitu berat.


...----------------...


Siang hari, Gino menerima telvon dari adik iparnya, mengabarkan bahwa ayahnya telah tiada, Gino merasa sangat terpukul tidak bisa menemani ayahnya di sisa akhir hidupnya.

__ADS_1


"Ra, izinin aku sama pak Devan ya, aku mau pulang duluan. "Pamit Gino, terburu-buru.


"Ada apa emangnya gin? " tanya Zahra, melihat Gino yang sedang panik.


Gino menangis sesenggukan. "Ayahku sudah tiada Ra, "jawab Gino, menunduk sambil berusaha menghapus air matanya.


Zahra terperangah kaget, ia ikut merasakan kesedihan dan duka mendalam bagi Gino. "Innalilahi wainna ilaihi roji'un, " ucap Zahra. Gino segera berkemas dan pulang.Tak lupa, Gino juga izin cuti 3 hari selepas kematian ayahnya.


"Saya turut berduka cita ya gin . " Ujar Devan mengelus pundak Gino lembut, bagi Devan, Gino sudah seperti adiknya sendiri.


"Terima kasih pak, " ucap Gino, ia segera bergegas mengemasi barang-barangnya untuk pulang ke kampung halamannya


3 hari selepas kematian ayahnya, Gino memohon izin resign pada Devan, dia "Apa? Resign? kamu yakin? " tanya Devan menatap Gino tak percaya, orang yang dia andalkan di kantor resign begitu saja.


"Iya pak,ibu saya sakit-sakitan Pak ..., dan saya di amanahkan oleh almarhum bapak saya untuk melanjutkan usahanya dan menjaga ibu "Jawab Gino dengan berat hati mengucapkan itu semua kepada Devan.


"Sebenarnya, saya berat hati mendengar ini gin, tapi jika memang ini keputusan dari mu, saya bisa apa, " ucap Devan, berat untuk melepaskan Gino dari kantor ini, belum tentu nanti pengganti Gino akan sama kualitas kerjanya dengan Gino.


Gino menunduk, ia juga sangat berat meninggalkan kantor ini. Namun, sebagai anak yang berbakti, ia juga harus bisa menjalankan amanah terakhir dari almarhum sang ayah.


"Saya tidak akan melupakan kebaikan yang sudah bapak berikan pada saya selama ini, " tukas Gino.Devan hanya tersenyum simpul dan menandatangani surat pengunduran diri dari Gino.


"Mas Gino_, " panggil Lia, membuat langkah Gino terhenti begitu saja.


Gino berbalik dan menoleh ke belakang "Lia, " ucap Gino, Lia berlari menghampiri Gino.


"Kamu mau ninggalin aku gitu aja Mas? " tanya Lia.


Gino memegang kedua tangan Lia "Nggak kok, walaupun nanti aku jauh dari kamu, aku akan tetap setia sama kamu, " jawab Gino, matanya berkaca-kaca tidak tega tinggalkan Lia.



Lia menunjukkan jari kelingkingnya pada Gino "Janji? " tanya Lia, tersenyum penuh harapan.



Gino tersenyum, dia mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Lia, Gino memeluk Lia untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


"Gino, " Panggil Fani, Gino menoleh, dia melepaskan pelukannya pada Lia.


"Aku sedih jika kamu harus resign dari kantor ini, nggak akan ada lagi seorang Gino yang menghibur kami dengan lawakan yang begitu khas, " ucap Fani.



"Kamu bisa aja Fan, " tukas Gino tersenyum.


Fani memeluk Gino kemudian merangkul pundak , seolah tak ingin berpisah dari sahabatnya itu. "Semoga sukses di luar sana kawan, " kata Fani menepuk pundak Gino


"Matur thank you Mas brooo, " ucap Gino, masih sempat membuat semua yang ada disana tertawa.


Semua karyawan laki-laki yang ada disana memeluk Gino hingga jatuh tersungkur ke lantai. "Aduh! sakit! " rintih Gino.


Fani membantu Gino bangun dan berdiri. "Mereka semua tidak mau berpisah dari kamu gin, makanya di keroyok, " canda Fani.


Gino tak menjawab dia meringis kesakitan, Fani mengantar Gino sampai pintu gerbang kantor. "Jangan lupakan kita ya gin, " pinta Fani.



Gino hanya tersenyum "Ora Fan, aku tetap mengingat hidungmu yang pesek juga mendelep itu! " teriak Gino.


Fani menggelengkan kepalanya, Gino masih saja sempat mengatainya, Fani berlalu masuk kantor setelah Gino menjauh dari pandangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semua staff dan karyawan membicarakan Gino. "Aduh, kira-kira siapa ya yang bakal naik jabatan untuk menggantikan Gino? " tanya Mbak Ella.


"Mungkin pak Doni, katanya dia kan juga sudah lama kerja disini.., selisih setahun dengan Gino, " jawab Zahra.


"Tergantung sih Ra, kalo yang baru lebih gerak cepat dan kualitasnya lebih plus dari kita, bisa-bisa gak ada yang naik jabatan, pak bos itu kalo merekrut karyawan nggak kaleng-kaleng, di nilai dari aspek kualitas kerja, " ujar Friska.


"Betul juga tuh, contohnya kamu Ra, kita emang lulusan S1 toh, tapi pak Devan malah memilih kamu jadi Asisten pribadinya,padahal sih aku senior disini " timpal Mbak Ella.


"Ya iya lah Mbak, gimana pak Devan mau angkat jabatan Mbak, bikin proposal aja amburadul, padahal udah lama kerja disini juga, " sahut Friska.


Zahra hanya menyimak pembicaraan mereka.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2