
Kondisi Devan semakin hari semakin berangsur pulih, Devan mensyukuri atas kesempatan hidup yang tuhan berikan.
Devan menepati janjinya, dia akan menikahi Zahra dalam waktu dekat, semua persiapan sudah di lakukan sejak awal, mulai dari pre wedding, fighting baju pengantin dan juga dekor tempat.
Wajar, menikah dengan seorang CEO dari perusahaan terbesar dan ternama semua memang serba mewah.
\=\=\=\=oooOooo\=\=\=
Tibalah hari yang di nantikan tiba, Zahra akan menghalalkan hubungannya dengan Devan.
Baru saja masuk, Ara dan Lia di bikin melongo dengan kemewahan dekor dan tempat pernikahan Devan dan Zahra.
Halusinasi Lia mulai muncul ketika baru saja memasuki tempat pernikahan, "Kapan ya dek... kakak bisa mengadakan pesta pernikahan semewah ini... " tukasnya.
Ara memutar kedua bola mata jengah, saudara kembarnya itu selalu saja tidak ada lelahnya berhalusinasi tentang pernikahan, namu jika di suruh move on ogah-ogahan.
"Makanya, jadi orang itu harus melupakan masa lalu, agar bisa menata hidup yang lebih baik kedepannya, "
Ceplos Ara, tanpa menghiraukan sindirannya itu menyakitkan atau tidak.
"Dek... melupakan masa lalu itu tidaklah mudah, apalagi masih melekat kenangan indah yang begitu membekas di hati, biarkan semua mengalir dengan sendirinya."
kalimat puitis dari Lia membuat hati Ara semakin tersentuh, belenggu masa lalu telah membuat kakaknya tersiksa sendiri.
"Tapi mengapa kakak membiarkan diri kakak sendiri terjerembab ke dalam luka yang semakin dalam? " tanya Ara berusaha membuat Lia mengerti.
Lia hanya diam membisu, tahu jika sang adik kembarnya itu ingin melihat dirinya bahagia.
"Udahlah... hari ini hari bahagianya Zahra kok malah kita sedih sendiri. " Lia mencoba menepis kesedihannya, di ajaknya Ara bergabung bersama yang lain.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Zahra tampak cantik memakai kebaya pengantin berwarna Biru Navy dengan aksen tambahan berwarna emas di tambah balutan make up yang natural dan tidak terlalu cetar membuat Zahra tampak terlihat anggun dan elegan.
"Cieee... yang mau nikah! " gertak Ara tiba-tiba masuk ke ruang rias Zahra tanpa permisi.
"Kamu ini! bikin aku mau jantungan aja! " sahut Zahra tersentak kaget melihat kedatangan Ara.
Ara terpana melihat kecantikan Zahra, di poles bagaimanapun Zahra tetap cantik apalagi ini, sungguh membuat Ara pangling melihatnya.
"Ckckck... kamu ini manusia apa bidadari sih, cantiknya kelewatan, " puji Ara.
Pipi Zahra menghangat ketika di puji seperti itu oleh Ara, batinnya serasa berbunga-bunga.
"Ya udah, aku mau keluar dulu ya, siapa tau pak Devan sudah datang, " pamit Ara.
__ADS_1
Zahra anggukkan kepalanya membiarkan Ara meninggalkannya sendiri.
Satu jam kemudian...
Semua tamu undangan yang hadir sudah berkumpul, ingin turut serta menjadi saksi dalam pernikahan Devan dan Zahra.
Devan sudah menghadap penghulu siap melaksanakan ijab Qabul.
"Saya terima nikahnya Zahrana nur Aunita binti Ardiansyah herlanda dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai. "
Suara Devan terdengar menggema di telinga Zahra, tidak percaya hari ini akan sah menjadi istri Devan.
Jantung Zahra serasa berdegup sangat kencang saat ijab Qabul berlangsung, membangkitkan gelora dalam hatinya.
Bulir bening yang sudah tidak kuasa lagi di tahannya, titik demi titik perlahan meneteskan air mata.
Ara menghampiri Zahra dan membawanya ke bawah untuk bertemu dengan Devan, mata para tamu undangan tertuju pada Zahra yang baru saja muncul.
Devan menjamah tangan Zahra, menyematkan cincin ke jari manis sebelah kanan, sama halnya dengan Devan.
Zahra mencium punggung tangan Devan, senyum mengembang tampak bahagia sekali.
Selesai acara ijab qobul berlangsung, acara di lanjutkan dengan resepsi mewah.
"Nak... sekarang kamu harus lepas dari Mama, jagalan suamimu dengan baik, berbaktilah kepadanya... " nasihat dari mamanya akan selalu Zahra ingat sampai kapanpun.
"Terima kasih Ma, Zahra akan selalu mengingat pesan mama, " ucap Zahra lirih.
\=\=\=\=oooOooo\=\=\=\=
Usai acara selesai, Devan membawa Zahra ke apartemen miliknya.
"Aku mau mandi dulu, " celetuk Devan membuka jasnya sembari melangkah ke kamar mandi.
Zahra mencopot satu persatu singer yang masih membalut di kepalanya, di lanjut kerudung.
Devan sudah keluar dari kamar mandi menggunakan piyama, bau parfum khas maskulinnya semerbak di hidung Zahra.
Devan melingkarkan kedua tangannya di perut Zahra sembari menatap cermin.
__ADS_1
"Perjuangan kita tidaklah mudah sayang... untuk sampai pada saat ini di perlukan pengorbanan dan kebesaran hati. "
Zahra merasa tersanjung dengan perkataan pria yang sudah menjadi suaminya itu, "Ini bukan akhir dari segalanya Mas, justru ini adalah awal dari pengorbanan kita yang sebenarnya. "
Zahra tahu, godaan setelah pernikahan jauh lebih besar daripada sebelum pernikahan, dia sudah siap dengan itu semua
Tuhan memberikan cobaan dan ujian bertubi-tubi untuk menguji apakah perasaan cinta yang kita kepada manusia melebihi cinta kita kepada-Nya.
Devan tersenyum, menampakkan lesung di pipinya, "Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama..." pungkasnya
"Pernikahan bukanlah permainan... pernikahan hanya sekali seumur hidup, menggapai ridho Allah untuk menuju surga-Nya "
Lagi dan lagi Zahra di buat tersenyum dengan perkataan Devan, hatinya begitu bahagia hari ini menjadi bagian di dalam hidup Devan dengan ikatan yang sah.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Pagi hari, Devan tidak mendapati Zahra di sampingnya, segera ia bangun mengerjapkan matanya.
"Pagi.... " suara lembut menyapa Devan di pagi hari ini, Zahra duduk di sebelah Devan menatapnya lekat-lekat.
Devan melenguh berusaha membuka matanya, semangatnya semakin bertambah melihat wanita cantik yang berada di sampingnya itu.
Tangannya merangkul pundak Zahra dan mencium keningnya, "Aku kira kamu dimana, ternyata disini, " ucap Devan.
Zahra mendekatkan wajahnya ke wajah Devan, "Masih bau, mandi sana! " ucap Zahra lirih, senyuman semalam masih merekah di bibirnya.
Devan beranjak turun dari ranjang, kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Zahra bergegas menyiapkan keperluan Devan, dia juga harus pergi ke kantor hari ini.
Usai sarapan, mereka berdua bergegas pergi ke kantor, Devan tidak melarang istrinya bekerja, dia juga malas mencari Asisten baru yang belum tentu kualitas kerjanya cekatan seperti Zahra.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
"Loh, pengantin baru kok udah kerja bukannya bulan madu atau gimana gitu, " kata Ara usil
"Bulan madu kemana? kasur di hotel sana tidak sehangat kasur sendiri di rumah, "
Pertanyaan menohok dari Zahra mengundang gelak tawa Ara, baru kali ini sahabatnya berkata seperti itu mentang-mentang udah nikah.
Zahra dan Ara berjalan bersamaan menuju ruang kerjanya masing-masing.
\=\=\=\=oooOooo\=\=\=
Pandangan mata Zahra menyapu seisi ruangan, dulu dia berada disini dengan status masih tunangan Devan, kini dia berada disini sudah berstatus istri Devan.
Ruangan itu jadi saksi bisu besarnya pengorbanan cinta Devan dan Zahra
__ADS_1
Masalah apa lagi yang mereka hadapi setelah pernikahan? Ikuti terus ya! 😊🙏
\=\=\=\=oooOooo\=\=