ZAHRANA

ZAHRANA
Aku cemburu


__ADS_3

Zahra duduk melamun di ruangannya, ia mengingat kejadian di lobi tadi, ada sedikit perasaan bersalah dalam benak hatinya,


"Apa mas Devan marah sama aku? " batin Zahra, ia begitu takut jika Devan sampai terjadi kesalah pahaman antara dia dan Devan.


Ara masuk ke ruangan Zahra, Ara tertegun melihat sahabatnya itu melamun sendirian di ruangan


"Hey!ngelamun aja! awas kesambet loh! pak Devan nitipin pesan katanya suruh buat laporan keuangan bulan kemarin, " ujar Ara, wanita cantik bermata kecoklatan itu menyampaikan pesan bosnya pada Zahra, tidak tahu kenapa Devan tidak mengatakan sendiri ke pada Zahra.


Zahra semakin bingung, kenapa Devan tidak datang sendiri ke ruangannya, kenapa malah menyuruh Ara, sahabatnya itu untuk datang ke ruangan dan memberitahunya. Tetapi, sudahlah! nanti Zahra yang tanya sendiri pada Devan "Baiklah! " kata Zahra, dirinya tidak ingin bertanya apapun kepada Ara.Marna urusannya selesai, Ara pun keluar ruangan Zahra.


Usai mengerjakan laporan Zahra bergegas menuju ruangan Devan, Zahra melihat Devan sedang sibuk mengerjakan sesuatu di laptop. "Pak, ini laporan yang bapak minta, " tukas Zahra, Devan sama sekali tidak menatapnya, entah tidak dengar atau apa.Dirinya masih terus saja berkutat dengan laptopnya, tidak mempedulikan Zahra yang sedang bicara, entah marah atau bagaimana.


Devan melirik Zahra hanya sejenak saja. Setelah itu, ia mengalihkan pandangan ke laptopnya, Devan sudah masa bodo tentang Zahra.Dia tak ingin mengharap apapun lagi dari Zahra,kejadian di lobi kemarin cukup membuatnya panas dan sakit hati "Taruh disitu! "pintanya tanpa menoleh ke Zahra, dirinya masih saja kesal.


Sebenarnya Zahra ingin sekali berbicara pada Devan.Namun, ia takut Devan makin marah padanya.Zahra tak tahan dengan Perilaku Devan yang mengacuhkannya, ia beranikan diri menanyakannya pada Devan "Pak, kenapa bapak nyuruh Ara ke ruangan saya? biasanya, bapak datang sendiri? " pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Zahra, walaupun ada sedikit perasaan takut menyelimuti hati Zahra.


Mendengar pertanyaan itu, tentu saja Devan kaget.Ia menatap Zahra nyalang ke arah Zahra "Kamu gak lihat saya sedang sibuk! pergi sana! " usir Devan, ia tidak sampai hati mengacuhkan Zahra begini. Namun, Devan berharap Zahra bisa peka mengapa, ia acuh dan terkesan tak peduli, Devan benar-benar tidak peduli lagi perasaan Zahra.


Zahra meletakkan laporannya di atas meja, hatinya begitu sakit di bentak Devan, matanya sudah basah menahan air mata.Zahra tidak menyangka Devan bisa tega membentaknya, ia bergegas keluar dari ruangan kerja Devan, ada sedikit kemarahan yang tak bisa dia luapkan.

__ADS_1


...----------------...


Devan merasa bersalah telah membentak Zahra, "Astaga! kenapa aku malah bentak dia tadi! apa dia merasa sakit hati ya? karna ku bentak tadi? dasar payah,"batinnya merutuk kesal sambil mengusap wajahnya dengan kasar, timbul penyesalan mendalam di dalam benaknya. Devan keluar ruangan mencari dimana Zahra.


Niat hati mencari Zahra.Namun, apa yang Devan lihat, Zahra malah berduaan di kantin dengan Abi. Zahra terlihat bahagia sekali bersama Abi, "Gimana, udah gak sedih lagi kan Ra?" tanya Abi, Zahra hanya membalas dengan Anggukan.Devan yang melihatnya semakin panas, ia melewati mereka berdua, tanpa berbicara sepatah kata apapun.


Zahra menanggapi pertanyaan Abi dengan anggukan, beruntung memiliki seorang teman seperti Abi, yang selalu menghiburnya ketika sedang ada masalah dengan Devan. "Terima kasih Bi, kamu menghiburku disaat aku ada masalah dengan pak Devan, " ucap Zahra, ia juga merasa tak enak hati pada Abi, yang selalu di tuduh Devan selingkuh dengannya.


"Dasar, kenapa tadi aku harus membentaknya, kenapa aku tidak memikirkan, bagaimana perasaanya saat kubentak tadi, aku ini memang sangatlah terlalu egois..., " batin Devan. tidak ada hentinya mengutuk diri sendiri egois kepada Zahra.


Zahra pamit kembali ke ruangannya, ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang sudah menumpuk. Zahra merasa ada yang mengikutinya, ia terus berjalan sangat cepat, tanpa mempedulikan orang yan mengikuti tersebut.Benar saja, sampai di depan pintu, ada yang menarik tangan Zahra "Tolong! tolong lepaskan aku! " teriaknya ketakutan.


Zahra kaget sekaligus heran melihat Devan membawanya ke Ruang kerjanya.Bagi Zahra, Devan adalah orang yang mudah berubah pikiran.Bagaimana tidak, tadi Devan mengusir Zahra.Sekarang, malah membawanya lagi kesini "Ada apa! tadi mengusir saya! "cetus Zahra memutar bola matanya jengah, ia sudah terlalu lelah menghadapi sikap Devan yang suka berubah ubah tanpa alasan yang jelas.


Devan mengatupkan tangannya di depan dada, ia mengakui kesalahannya pada Zahra "Maafkan saya sudah membentak dan ngusir kamu, tolong jangan lakukan ini! saya akui saya memang cemburu melihatmu dengan Abi, ",ucapnya meminta maaf dengan setulus- tulusnya pada Zahra.Karna begitu cemburu dan menuduh Zahra yang macam-macam, itu semua karna Devan begitu sayang kepada Zahra, melebihi sayangnya kepada dirinya sendiri.


Zahra menghela nafas panjang, ia memang begitu sakit hati Devan membentaknya, tapi ia juga tak bisa marah pada Devan.Zahra sadar, kebersamaannya dengan Abi sangat begitu menyakiti Devan, "Aku tidak marah padamu, setidaknya berikan aku alasan kenapa kamu marah padaku, jangan tiba-tiba cuek gitu aja! " ujar Zahra, ia bernafas lega, bisa tau alasan Devan berubah padanya.


"Aku cemburu melihat kebersamaan mu dengan Abi di lobi kantor, " jawab Devan.

__ADS_1


"Astaga Pak Devan, dia hanya mau menolongku karena kakiku terkilir, bukan karena kita selingkuh, " tukas Zahra.


Devan malu sekali karena dia sudah mengira Zahra selingkuh, sedangkal itu fikirannya terlalu negatif tingking pada Zahra.



"Maafkan saya Ra, saya sudah salah menilaimu, " ucap Devan, hanya sepatah kata-kata maaf yang bisa dia ucapkan pada Zahra.


"Baiklah, tapi jika nanti bapak begitu lagi, saya tidak akan memaafkan Bapak " jawab Zahra, " tukas Zahra, menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Saya janji tidak akan begitu lagi Ra, " kata Devan.


"Ya, saya percaya sepenuhnya pada Bapak, " ujar Zahra, tak ingin memperpanjang lagi perdebatannya dengan Devan.


"Ya sudah, kalo begitu saya permisi dulu pak, " pamit Zahra, tak mau berlama-lama di ruangan Devan.


Devan membalasnya dengan anggukan, Zahra segera berlalu pergi keluar dari ruangan itu.


_Bersambung_

__ADS_1


Hay semuanya! Apa kabar nih? semoga sehat semuanya, oh ya, author ucapin terima kasih banyak sudah nemenin author dalam menulis novel ini. novel ini akan tamat setelah lulus kontrak ya, Terima kasih 😊🙏


__ADS_2