
"Aaaargh! sakiiit! " rintih Devan memegangi kepalanya, darah terus mengalir dari hidungnya.
Zahra berlari menuju kamarnya, "Astaga mas Devan! " teriak Zahra, beranjak keluar meminta pertolongan warga untuk membawa Devan ke rumah sakit.
Zahra menghubungi Gino mengabarinya jika penyakit Devan kambuh lagi, Gino meminta Zahra terlebih dahulu ke rumah sakit, dia akan menyusulnya setelah mengemasi barangnya.
\=\=\=\=oooOoooo\=\=\=
"Pasien sudah sadar, dia ingin bertemu dengan istrinya, " tukas Dokter setelah menangani Devan.
Gino yang baru saja sampai juga ikut masuk ke dalam ruang UGD
***
"Mas.. Ini aku mas, " ucap Zahra memegang tangan Devan,
"Sayang ... Gino mana? " tanya Devan.
Merasa di panggil, Gino mendekat ke arah Devan.
"Zahra... jaga dirimu baik-baik ya... Gin, aku titip Zahra dan juga mama, aku serahkan urusan perusahaan hanya sama kamu, cuma kamu yang bisa aku percaya, " ucap Devan.
Gino tak bergeming, air matanya menitik perlahan membasahi pipinya, entah apa maksudnya Devan berkata seperti itu.
"Zahra... carilah pria lain yang bisa membuatmu bahagia, kejarlah kebahagiaanmu... kamu berhak bahagia walau tanpa diriku... " pungkas Devan menatap Zahra dengan tatapan sayu.
Zahra menggeleng, "Tidak mas, kamu pasti baik-baik saja... " ujar Zahra menyangkal setiap perkataan Devan.
"Aku sudah tidak tahan lagi Zahra, " timpal Devan.
"Kamu harus bertahan Mas, demi aku... demi mamamu... " kata Zahra menguatkan Devan.
Perlahan, pegangan tangan Devan semakin mengendur, matanya tertutup sempurna untuk selamanya.
Air mata Zahra yang sedari tadi di tahannya pecah begitu saja, Bu Alika yang baru datang juga sontak langsung menangis meraung-raung melepas kepergian putranya.
Zahra memeluk Bu Alika, menangis di pelukannya tidak kuasa melihat Devan yang sudah terbujur kaku di brankar di tutupi kain putih, dadanya sesak dan perih tidak mampu mengucap sepatah katapun dari bibirnya.
Hanya air mata dan raungan kesedihan yang mengiringi kepergian Devan untuk selamanya.
"Mas Devan... terima kasih telah hadir mewarnai panjangnya kehidupanku, terima kasih sudah datang memberikan cinta dan kasih sayangmu padaku... Mas Devan, separuh kebahagiaanku hanya dirimu... Cintaku kepadamu tak lekang oleh jarak dan waktu... Mas Devan, meskipun ragamu sudah tidak ada lagi di sampingku... Namun namamu dan cintamu akan selalu melekat dalam hatiku selamanya... Bagaimana aku terbang dan mencari kebahagiaan lain, sedangkan sayap-sayapku telah patah dan melebur bersama cintamu... selamat jalan mas Devan, di hatiku, kau tidak akan pernah terganti, "
Melihat sahabatnya bersedih, Ara langsung berganti memeluk Zahra, "Pak Devan udah tenang Ra, dia udah tidak sakit lagi... pak Devan udah bahagia di pangkuan tuhan yang maha kuasa, " ucap Ara, air matanya ikut menetes atas kepergian Devan untu selamanya.
Gino memeluk Devan untuk terakhir kalinya, penyesalannya bertambah karena dulu telah membenci saudaranya itu, dadanya kembali sesak kala mengingat kebaikan yang sudah Devan lakukan untuknya.
__ADS_1
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Pemakaman Devan usai di laksanakan, Zahra masih terdiam di pusara Devan seolah tak ingin beranjak dari situ.
"Sudahlah Nak Zahra... Ikhlaskan kepergian suamimu, Mama tau ini semua berat Nak... tapi kita tidak bisa menentang takdir tuhan yang sudah di tetapkan... jalani hidup semestinya nak, Devan disana akan bersedih jika kamu terus begini, "
Bu Alika sendiri sebenarnya juga sangat rapuh atas kepergian putranya, namun beliau tetap mengingatkan Zahra agar tetap tegar menjalani hidup tanpa Devan.
Bu Alika sangat menyayangi Zahra seperti putrinya sendiri, apalagi sebelum kepergiannya, bu Nita menitipkan Zahra pada bu Alika.
Dengan berat hati, Zahra mengikuti langkah bu Alika pulang ke rumah, "Ma... Izinkan aku mampir ke kantor dulu ya, " kata Zahra meminta ibu mertuanya itu menurunkannya di kantor.
"Trus, kamu pulangnya gimana? " tanya Bu Alika mencemaskan Zahra.
"Mama tenang aja, aku bisa naik taxi online, " jawab Zahra, berusaha tersenyum walau terpaksa.
"Ya sudah... kamu hati-hati Ya, " pungkas Bu Alika, tidak ingin terjadi sesuatu kepada Zahra.
Zahra membalas ucapan ibu mertuanya itu dengan anggukan kepala.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Zahra menatap dalam-dalam jalanan aspal yang tidak jauh dari kantor itu, teringat kembali momen disaat pertama kali Zahra bertemu Devan.
Zahra menghela nafasnya kasar, kesedihan kembali menyelimuti hatinya, kantor ini jadi saksi bisu besarnya cinta Devan dan Zahra.
Zahra masuk ke dalam kantor itu, suasana kantor tampak sepi, semua karyawan turut ikut serta dalam prosesi pemakaman Devan.
"Zahra! buatkan saya kopi tanpa gula ya! "
Suara itu masih terngiang di telinga Zahra, dimana saat Devan dan dirinya masih satu kantor.
Zahra kembali naik lift ke lantai tiga, lagi-lagi, Zahra tersenyum walaupun Devan sudah tidak mengurus kantor tersebut, papan nama Devan masih terpampang di ruangannya.
Zahra menyentuh papan nama yang terbuat dari kayu tersebut, membawa ingatannya kembali ke masa lalu, saat dia pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, Zahra segera meninggalkan kantor itu, dia tidak ingin membuat mama mertuanya khawatir.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
__ADS_1
Taxi yang di tumpangi Zahra berhenti di depan rumah, Zahra segera membayarnya, kemudian bergegas turun.
"Kamu dari mana aja Ra? " tanya Gino yang sudah menunggu Zahra di halaman rumah sedari tadi.
"Aku dari kantor Gin, kamu tidak usah cemas gitu.. " jawab Zahra sembari terus berjalan melewati Gino.
"Gimana nggak cemas Ra, kamu sekarang tanggung jawab aku, sebagai saudara, aku mendapat amanah dari Devan untuk selalu menjagamu dan mama, " celetuk Gino.
"Maafkan aku Gin, sudah membuatmu cemas, aku ke kantor hanya ingin mengingat awal pertemuanku dengan dia... walau raganya sudah menyatu dengan tanah, tapi hati dan cintanya kan terkenang selamanya di hatiku Gin. "
Perkataan menohok dari Zahra, sukses membuat Gino membisu, takut jika ucapannya semakin melukai Zahra.
Zahra berlalu masuk tanpa menghiraukan Gino, hatinya masih berat untuk melepas kepergian Devan, dia benar-benar ingin sendiri dan tidak mau di ganggu untuk saat ini.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Waktu menunjukkan pukul empat sore, namun Zahra tidak kunjung keluar dari kamarnya.
Hal itu membuat Gino khawatir dan cemas, berkali-kali Gino mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari Zahra.
Sementara itu, Zahra masih tertidur di kamarnya, badannya tiba-tiba saja menggigil.
Gino meminta kunci cadangan untuk membuka kamar Zahra.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Gino dan bu Alika masuk bersamaan ke kamar Zahra.
"Nak... kamu kenapa? " tanya Bu Alika menempelkan punggung tangannya ke dahi Zahra.
"Kenapa dia Ma? " tanya Gino.
__ADS_1
"Sepertinya dia demam Gin, sebentar ya... Mama ambil air kompresan dulu, " jawab Bu Alika keluar dari kamar Zahra.
Gino hanya terdiam menatap Zahra, "Malang sekali hidupmu Ra... di tinggal pergi Devan, sekarang malah sakit, " batin Gino menatap Zahra sendu