ZAHRANA

ZAHRANA
Pernikahan kedua


__ADS_3

      Abi mengajak Devan jalan-jalan, sedangkan Zahra membuatkan minum untuk Abi dan Lia.


    "Lia, " panggil Gino.


  "Hmmm.... " Lia menjawab sekenanya.


    "Apakah kamu tidak merindukanku? " tanya Gino berbasa-basi.


 "Merindukanmu adalah hal yang paling menyakitkan dalam hatiku, sudahlah! jaga batasan antara kita, sudah ada Abi suami yang akan menemaniku hingga akhir nanti, "


  Lia menjawab tanpa menoleh Gino, hatinya sebenarnya sakit sendiri mengatakan seperti itu pada Gino, tapi demi menjaga hati suaminya, iapun rela melakukan itu.


 Kini, Gino sadar Lia tidak mungkin bisa mencintainya lagi, apalagi kini ada Abi sebagai tembok penghalang cinta Gino terhadap Lia.


  Gino benar-benar ingin melupakan Lia, cukup sekiann perjuangannya mendapatkan cinta Lia kembali.


          \=\=\=\=ooooOooo\=\=\=\=


    Gino teringat surat dari Devan, sampai saat ini dia belum bisa mewujudkan keinginan terakhir Devan agar Gino segera menikahi Zahra.


   "Aaa mama! Cakiiit! hiks hiks... "


    Devan yang sedang asyik bermain mobil-mobilan tiba-tiba saja jatuh dan menangis.


   Gino segera menghampiri Devan yang sedang terduduk di tanah.


    "Hey, jagoan! nggak boleh nangis yaa... " kata Gino berusaha menenangkan Devan.


    "Cakiiit om, balusan Epan jatuh! " adu Devan kepada omnya.


    Gino menggendong Devan, mengobati luka di lutut Devan dengan telaten.


  "Cakit om, " rintih Devan kecil.


    "Sabar ya sayang, " pungkas Gino menempelkan hansaplast di lutut Devan.


    Zahra hanya memantau Gino dari kejauhan, senyum merekah di bibir Zahra, dia melihat ketulusan Gino dalam merawat luka Devan.


  Zahra berpikir, mungkin Devan butuh sosok ayah di sampingnya, tidak ada salahnya juga untuk membuka hati kepada pria lain, Devan membutuhkan sosok ayah.


   "Terima kasih Gin... " ucap Zahra.


    "Makasih untuk apa? " tanya Gino mengerutkan dahinya kebingungan.


 "Makasih karena kamu telah menolong putraku, " jawab Zahra tersenyum.


   "Sama-sama Ra... tidak ada salahnya juga menolong keponakanku sendiri, " tukas Gino.


       Zahra masuk membawa Devan ke dalam rumah.


     Gino hanya tersenyum, baru kali ini dia mendapat pujian dari Zahra, padahal dari dulupun tidak pernah.


           \=\=\=\=ooooOooo\=\=\=

__ADS_1


    Bocah mungil memandangi foto Zahra dan Devan, antusias sekali dia ingin mengambil pigura itu.


   "Mama itu capa? " tanya Devan menunjuk ke arah pigura di atas laci.


    "Itu papa Nak, " jawab Zahra dadanya sesak melihat foto suaminya kembali.


 "Papa? Epan punya papa Ma? dimana papa?" "


   Devan kecil bertanya sambil mendekat ke mamanya.


   Zahra tersenyum, memeluk putra semata wayangnya itu, walaupun hatinya di hujami rasa sakit, tapi Zahra berusaha tersenyum di depan sang buah hati.


    "Papa sudah jauh meninggalkan kita nak... Devan doain papa ya, agar papa tenang disana, " ucap Zahra tak terasa menitikkan air matanya.


      tangan mungil Devan menghapus air mata Zahra, "Mama jangan nanyis... nanti Mama jadi jelek, " ujar Devan kecil.


 Perlakuan sang putra mengingatkan Zahra pada almarhum suaminya dulu di saat dirinya sedang sedih. Zahra menyeka air matanya dan mencium kening sang putra.


 "Mama tidak nangis kok sayang, Mama selalu kuat... kan ada kamu di sisi Mama ..." kata Zahra.


    Bu Alika merasa iba pada menantunya itu, di elusnya pundak Zahra.


    "Lutut Devan kenapa Ra? " tanya Bu Alika.


   "Dia habis terjatuh Ma, ini juga baru aku ganti bajunya... " jawab Zahra.


   "Ra, Mama rasa Devan membutuhkan sosok ayah di sampingnya, Mama izinkan kamu kok Ra... jika kamu mau menikah lagi, ini demi kebahagiaanmu dan putramu, lagipula Mama sudah sepuh Nak, waktunya menyusul putra dan suami Mama, "


 "Ma... jangan bilang begitu, Mama udah aku anggap seperti ibu kandung aku sendiri... aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Mama, " pungkas Zahra memegang tangan Bu Alika.


  Bu Alika hanya bisa tersenyum, bukan hanya Zahra saja yang terpukul atas kematian Devan, dirinyapun begitu terpukul kehilangan sang putra.


     "Kalau kamu bahagia, Mama akan tenang Nak... Mama tidak selamanya bisa menemani kamu, kematian itu adalah takdir Nak... kamu harus menerimanya, "


    Satu yang Bu Alika inginkan saat ini hanyalah melihat Zahra menikah dan bahagia bersama Devan kecil.


   "Aku siap menikahi Zahra Ma, " celetuk Gino tiba-tiba muncul membuat bu Alika dan Zahra tersentak kaget.


    "Tapi Gin..., "


   "Tolonglah Nak, jika tidak demi dirimu sendiri... lakukanlah demi Mama dan suamimu, " pinta Bu Alika mengelus lengan Zahra.


   "Baiklah Ma... Zahra setuju. "


   Bu Alika tersenyum dan menyiapkan semuanya.


      \=\=\=oooOooo\=\=\=\=


   Pernikahan Zahra dan Gino kali ini, di lakukan secara sederhana tidak seperti dulu ketika Zahra menikah dengan Devan


"Saya terima nikahnya Zahrana nur Aunita binti Ardiansyah Herlanda untuk saya sendiri dengan mas kawin tersebut di bayar tunai. "


Dengan lantang Gino mengucapkan ijab qobul di depan Zahra dan semua orang yang hadir.

__ADS_1


"Sah? " tanya penghulu.


"Sah, " serentak semua kerabat


Penghulu mulai merapalkan doa-doa, Zahra hanya berharap pernikahannya kali ini bis langgeng sampai akhir hayat.


Bu Alika dan kakaknya merasa senang, Zahra bisa menikah dengan Gino.


Gino menyematkan cincin ke jari manis Zahra sebelah kanan, begitupun Zahra.


Tangan Zahra sedikit gemetar ketika mencium punggung tangan Gino, dia tidak terbiasa, selama ini Zahra hanya menganggap Gino sebagai sahabat kini menjadi suaminya.


'Cup' bibir Gino mencium kening Zahra sebagai tanda rasa sayangnya kepada wanita yang sudah menjadi istrinya itu


Usai melaksanakan ijab qobul di KUA, Zahra dan Gino beserta keluarga pun pulang, mereka hanya mengadakan selamatan kecil-kecilan di rumah.



\=\=\=\=oooOooo\=\=\=



Malam harinya, Gino masuk ke dalam kamar, entah kenapa kali ini hatinya begitu canggung Zahra dan Devan kecil di kamarnya.


"Devan sudah tidur Mas, mungkin dia kecapekan, " ucap Zahra membersihkan sisa make up nya.


Gino hanya duduk di tepi ranjang, dia ingin memberitau sesuatu pada Zahra.


"Ra, duduklah sini! ada yang ingin aku bicarakan kepadamu, " ajak Gino.


Zahra menuruti permintaan Gino.


"Kamu mau beritahu apa Mas? " tanya Zahra.


"Ini. " Gino memberikan amplop yang berisi surat dari Devan.


Zahra menangis membaca surat dari Devan, dia tidak menyangka jika Devan akan menyuruh Gino menikahinya.



"Sebelumnya maafkan aku Ra, aku baru ngasih tau ini sekarang .. seandainya kamu tahu aku menikahimu hanya karena amanah dari Devan, apakah kamu akan tetap selalu mencintaiku? " tanya Gino dengan tatapan yang cukup serius.



"Mas, meskipun ini amanah dari Devan, tapi ini sudah takdir tuhan menyatukan kita, aku tidak bisa bersatu dengan Devan... makanya, tuhan mempersatukan kita, " ucap Zahra.



Gino tersentuh, dia memeluk Zahra, "Terima kasih Ra, disini aku akan belajar untuk mencintaimu, " ucap Gino.



Zahra menyeka air matanya, "Sama-sama Mas, akupun tidak bisa memilih takdirku dengan siapa... " pungkas Zahra, ada rasa terharu dalam benak hati Zahra, sekuat apapun cinta, jika memang tidak di takdirkan untuk bersatu maka akan terpisah

__ADS_1


__ADS_2