
paAra terkejut melihat Zahra di kantor, ia tak percaya apa yang di lihat di depan matanya "Kamu Zahra kan? " tanya Ara kebingungan, takut matanya salah melihat.
"Emang kamu kira hantu apa, iyalah ... Ini Zahra, " jawab Zahra mengerlingkan mata.
"Ooh, aku kira bayangannya saja, " jawab Ara, mengulum senyum kepada
"Zahra, aku kangen sekali, " teriak Mbak Ella memeluk Zahra erat sekali membuat Zahra kehabisan nafas di buatnya.
"Maaf mbak, aku tercekik, "protes Zahra tidak bisa bernafas, Ara dan Lia hanya tertawa melihat Zahra kembali bekerja di kantor ini.
"Aduh, maaf, saking senangnya kamu disini, "ucap Mbak Ella nyengir kuda, malu sendiri pada yang lainnya.
"Kamu kemana aja sih Ra? kok nggak ada kabar?"tanya Friska, dia juga begitu rindu pada Zahra, padahal baru tiga hari Zahra menghilang dari kantor.
"Sorry fris, aku lagi pulang kampung jenguk nenek "jawab Zahra berkilah, dia tak mau melibatkan teman-temannya di dalam masalahnya dengan Dita.
"Heleh, pulang kampung kok sampai pake
pengunduran diri segala, kita kangen loh sama kamu Ra" ucap Friska
"Sama, " jawab Zahra, bukan hanya rindu pada kerandoman teman-temannya tapi juga rindu dengan gombalan dan perhatian Devan yang super maut itu.
"Kamu gak kangen saya, " celetuk Devan tiba-tiba, Zahra tercekat mendengarnya, baru saja dirinya memikirkan Devan, orangnya tiba-tiba saja muncul.
"Ya pasti dong Pak bos, iya nggak," timpal Ara, menyenggol lengan Zahra jahil sekali.
"Eh iya, kangen banget, " jawab Zahra, grogi mengatakannya, Devan tersenyum simpul bahagia mendengar itu, baru kali ini ada wanita yang mengatakan rindu padanya secara blak-blakan.
Devan juga kangen pada Zahra, ingin sekali memeluk Zahra sekedar melepas kerinduan, tapi apalah daya, banyak karyawan yang masih tidak mengetahui tentang hubungannya dengan Zahra.
Devan melewati mereka, ia pergi ke ruangan kerjanya bersama Abi "Ra, gimana bisa pak Devan kecelakaan? "tanya Lia, dirinya begitu penasaran sekali karena Zahra menghilang setelah Devan kecelakaan.
Zahra memutar kedua bola matanya jengah, tak ingin bahas kejadian itu.Bahkan,sekedar mengingat lagi sudah enggan dan sangat malas sekali, kejadian itu terlalu pahit bagi Zahra untuk di ingat kembali.
"Bahas yang lain aja, aku gak mau terbayang itu lagi, " jawab Zahra, tak ingin banyak komentar ketika di tanya soal itu.
Biarlah semua berlalu seiring berjalannya waktu.Walaupun Zahra satu kantor dengan Devan, ia tetap harus pandai menjaga jarak.
__ADS_1
Bisa jadi suatu saat nanti Dita kembali kesini dan mencelakai Devan lagi, Zahra tidak mau jika hal seperti itu terjadi untuk kedua kalinya pada Devan.
"Udah, yuk masuk! " ajak Friska, ia mengajak Ara dan yang lainnya masuk ke ruang kerja, semua membubarkan diri menuju ruang kerjanya masing-masing.
"Ra, duluan ya, " pamit mbak Ella, dia berlalu meninggalkan kantin.
"Iya mbak, "kata Zahra, ia berniat menyusul semua temannya.
"Tunggu! " suara seseorang yang tak asing lagi bagi Zahra, ia berbalik arah.
"Pak Devan_," ucap Zahra terjeda.
"Kenapa kaget? "tanya Devan, ia menghampiri Zahra ke mejanya.
"Syok aja sih,Pak bos ada disini.Tadi udah masuk ruangan, " jawab Zahra,Devan hanya menautkan kedua alisnya yang agak tebal.
"Saya minta maaf atas kelakuan Dita yang lancang mengancam kamu" ucap Devan, dia masih merasa bersalah, karena Dita berani mengancam Zahra hingga hidupnya tidak bisa tenang.
"Nggak usah minta maaf pak, mbak Dita begitu karna dia mencintai bapak, " tukas Zahra memaklumi, Dita begitu juga karena cinta kepada Devan.
"Trus kamu diam aja gitu? " tanya Devan, dia keheranan, terbuat dari apa hati Zahra ini, begitu mudah memaafkan orang yang sudah melakukan kejahatan kepada dirinya.
"Hanya segitu perjuanganmu untuk saya? " tanya Devan, penasaran sebesar apa cinta dan perjuangan Zahra untuknya.
"Level tertinggi mencintai itu adalah rasa ikhlas pak, jika ada seseorang yang pantas utuk bapak kenapa saya egois memaksa bapak mencintai saya, " jawab Zahra, berusaha berfikir realistis.
Ya, itulah cinta.Berani mencintai juga harus berani mengambil semua resiko yang terjadi, cinta tidak egois, cinta juga tidak memaksa, cinta itu murni dari hati yang paling dalam.
Cinta tidak selamanya berjalan mulus seperti jalan tol, ada kalanya ujian dan masalah akan datang silih berganti dalam sebuah cinta,
Semua harus di jalani dengan sabar dan juga ikhlas, sabar, pasti akan ada penyelesaian yang baik dan akhir yang bahagia.
Devan berucap lirih. "Saya tetap mencintai kamu, " bisik Devan lirih buat Zahra begitu terkesima saat mendengar rayuan mautnya.
"Tidak Ra, nggak boleh terlalu berharap" batin Zahra.Ia sadar, kebanyakan mengharap akan membuat dirinya sendiri sering di kecewakan oleh harapannya sendiri.
"Sudahlah pak, saya kerja disini, karna saya lagi butuh uang. Bisnis ayah saya bangkrut, saya harus fokus kerja untuk membantu keluarga saya " jawab Zahra menepisnya, dia tidak ingin terbawa perasaan lagi pada Devan.
__ADS_1
Devan begitu prihatin pada zahra, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi, disaat kondisi sudah begini, Zahra juga harus menghadapi beribu masalah karena dirinya.
Ia tahu tak mudah baginya untuk melupakan ancaman Dita, apalagi setelah melihat Devan celaka di saat kondisi lagi sangat terpuruk seperti ini, jika Devan ada di posisi Zahra, dia juga akan melakukan hal yang sama.
"Maafkan saya Ra, saya juga tidak mengerti harus berbuat apa lagi, " batin Devan sedih, dia hanya terpaku menatap punggung Zahra yang semakin berjalan jauh darinya.
"Bapak ngeliatin apa?" tanya Abi, menyapa Devan yang duduk termenung sendiri di kantin.
"Saya ngeliat Zahra, jawab Devan, menunjuk ke arah Zahra.
"Kenapa dengan Zahra pak? " tanya Abi lagi.
"Dia masih menjauhi saya, mungkin ancaman Dita benar-benar membuat dia takut.
"Bapak kan tau sendiri Dita seperti apa orangnya, sabar dulu pak.., mungkin Zahra juga butuh waktu, " ucap Abi.
"Kamu benar bi, mungkin saya yang terburu-buru, " tukas Devan membenarkan perkataan Abi.
Abi dan Devan pergi ke ruangan masing-masing.
...----------------...
Ara masuk ka ruangan Zahra. "Ra, kamu hutang penjelasan sama aku, " ucap Ara, tiba-tiba nyelonong masuk.
"Penjelasan apa lagi sih, belum puas aku bilang jangan membahas itu lagi? " tanya Zahra, dia lelah sekali dari tadi di wawancarai seperti artis papan atas saja.
"Nggak, kenapa kamu menghilang tanpa kabar setelah pak Devan kecelakaan, " jawab Ara.
Zahra memutar bola matanya jengah. "Nah kan, pasti ujung-ujungnya bahas itu lagi, " kata Zahra.
"Tolong jawab dong, " mohon Ara.
__ADS_1
"Aku berjanji pada Dita pergi tinggalin Devan, kalau nggak.., Dita akan membuat Devan celaka lebih parah dari ini, " jawab Zahra.
Ara terkejut mendengarnya, tak habis fikir Dita akan berbuat sejauh ini.