
Ada sedikit penyesalan di hati Zahra telah setega itu memenjarakan Devan yang jelas tidak bersalah, dia juga tahu pasti Mama Devan marah besar kepadanya.
Ujian cintanya semakin berat saja, dia tidak menyangka Miko berbuat nekat seperti ini hingga membuat nyawa papanya melayang.
Zahra terus merenung di depan teras rumahnya, dia harus datang ke rumah Devan sekarang meminta maaf kepada bu Alika.
...----------------...
Benar dugaan Zahra, bu Alika marah besar kepadanya. "Saya benar-benar turut berduka cita yang sebesar-besarnya Ra, hingga begitu tega kamu memisahkan saya dengan anak saya sendiri, saya menyesal telah percaya pada wanita seperti kamu Ra! " ketus Bu Alika
"Maafkan aku Tante, akan ku tebus semua kesalahanku dengan cara membebaskan Devan, " ucap Zahra.
Bu Alika sama sekali tidak percaya ucapan Zahra, apalagi yang akan Zahra lakukan setelah memenjarakan putranya.
"Kali ini, saya butuh bantuan Tante, " tukas Zahra, dengan bantuan Bu Alika, Zahra semakin mudah untuk menjebak Miko.
"Bantuan? bantuan apa maksud kamu? " tanya Bu Alika menyeka air matanya.
Zahra membisikkan sesuatu ke telinga bu Alika, "Ok, saya setuju..," ucap Bu Alika,dia juga ingin membebaskan putranya dari penjara.
...****************...
Bu Alika mengendap-endap masuk untuk mencari kunci yang ada di pos penjaga tepat di depan tempat kecelakaan tersebut, bu Alika segera masuk dan mengambil Rekaman CCTV saat kecelakaan tersebut terjadi.
Bu Alika sempat nonton sejenak rekaman itu, dia meneteskan air mata, putranya yang baru datang dan menolong pak Ardi di tuduh penyebab kematian pak Ardi, tanpa perlu berlama lagi, bu Alika mencopy rekaman CCTV tersebut ke ponselnya, berniat akan memberikannya pada Zahra.
Zahra senang bu Alika akhirnya berhasil mendapatkan rekaman itu "Terima kasih Bu, saya janji suatu saat dengan bukti ini akan saya bebaskan Devan secepatnya, " ucap Zahra.
"Saya pegang janji kamu Ra! kembalikan Devan kepada saya! " bentak Bu Alika.Wajar, ibu mana yang mau putranya masuk penjara.
Zahra mengangguk, ia berjanji akan membawa pulang Devan ke pelukan bu Alika, Zahra juga begitu merindukan pelukan Devan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zahra masuk kerja kembali setelah tujuh hari kepergian papanya, semua pekerjaan Devan di bantu Abi untuk menyelesaikannya.
__ADS_1
Zahra menceritakan segalanya pada Ara."Apa? Kamu menjarain pak Devan Ra? " tanya Ara.
"Mau gimana lagi, aku terlanjur emosi saat itu, jadi aku penjarakan dia, " jawab Zahra, sedih bila harus mengingat kejadian itu lagi.
"Trus, apa yang kamu lakukan sekarang Ra? " tanya Lia,
"Aku akan membuat pelaku sesungguhnya mengakui semua yang telah di perbuat di depan mamaku, " jawab Zahra, muak bila terbayang muka Miko, dialah pelaku yang sesungguhnya.
"Aku rasa tidak akan mudah deh Ra, " tukas Ara penuh pertimbangan.
"Nggak ada yang nggak mungkin bagi Zahra, aku tidak akan membiarkan orang itu akan hidup dengan tenang di dunia ini, " timpal Zahra, matanya merah menahan amarah.
"Kami selalu ada disini untuk membantu kamu Ra, jangan khawatir, " kata Lia, Zahra hanya tersenyum simpul.
"Terima kasih Lia, Ara, " ucap Zahra.
......................
Miko menjemput Zahra di kantor. "Lama ya, nunggunya? " tanya Miko.
"Nggak kok Mut, lagian aku juga baru selesai nih, " jawab Zahra.
"Ya udah ayo naik ke motorku, " ajak Miko, Zahra naik perlahan ke motor Miko.
"Jika mengingat motor ini, aku jadi teringat perbuatanmu kepada papaku Miko! " umpat Zahra dalam hati, muak bila harus dekat dengan pria yang sudah menjadi mantannya itu.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam. "Mbul kamu rindu nggak, kayak gini lagi bersamaku? " tanya Miko, membuka obrolan.
"Untuk apa aku merindukan pembunuh sepertimu, " batin Zahra kesal, Miko selalu saja mengingatkan Zahra akan masa lalu mereka berdua.
"Eum, iya Mut, aku kangen.., tapi kedua orang tuaku sepertinya tidak merestui kita, " jawab Zahra, juga mencoba ingatkan Miko jika hubungan mereka berakhir karna tanpa adanya restu dari kedua orang tua Zahra.
__ADS_1
Miko hanya tersenyum, di pegangnya tangan Zahra dengan lembut "Mbul sayang, kamu tenang aja, tujuan kita pasti sedikit lagi akan tercapai, "tukas Miko.
"Iya, itu semua karena kamu telah membunuh papaku, tunggu saja nanti pembalasanku Miko, " Zahra terus saja membatin kesal, jika saja Miko tidak nekat untuk membunuh papanya, tak mungkin Zahra terus-terusan dekat dengan Miko.
"Mbul, mampir ke warung dulu yuk, aku lapar" ajak Miko, Zahra menurut saja.
Miko memesan dua mangkuk bakso untuknya dan untuk Zahra. "Makasih, " ucap Zahra, segera melahap bakso yang sudah di berikan Miko kepadanya.
"Mut, emang kamu gak sedih ya, papaku meninggal? " tanya Zahra, mencoba memancing Miko.
"Sedih sih, tapi mau gimana lagi, semua sudah takdir, " jawab Miko dengan gampangnya.
Mendengar jawaban Miko, Zahra rasanya ingin melempar mangkuk baksonya ke muka Miko "Takdir apanya, orang papaku meninggal gara-gara kamu, masih gampang bilang takdir! " batin Zahra.
sesuai makan, Miko mengemudikan motornya lagi mengantar Zahra pulang.
...----------------...
"Makasih ya Mut, udah nganterin aku pulang, " ucap Zahra, Miko membalasnya dengan anggukan kepala.
Miko berlalu mengemudikan motornya kembali ke rumah, ternyata disana ada bu Alika yang sedang berbincang dengan Bu Nita.
"Mama? " tanya Zahra keheranan karna mamanya berbincang dengan bu Alika tanpa marah sedikitpun.
"Iya nak, sini duduk, " ajak Bu Nita, Zahra ikut duduk bersama mamanya dan bu Alika.
"Ra, Mama sudah tau semuanya, Mama juga sudah tau rencana kamu.., Bu Alika yang memberitahu semuanya Nak, mama akan selalu mendukung apapun rencana kamu, " jawab Bu Nita menjelaskan pada Zahra.
Zahra tersenyum, bu Alika mengelus lengan Zahra "Maafkan saya Ra, keputusan kamu memenjarakan anak saya sudah tepat, jika tidak, Miko akan terus menuduh anak saya, " tukas Bu Alika mengulum senyum ke Zahra.
"Entah kenapa, aku jadi semangat ketika mendapat dukungan dari mama dan bu Alika, aku yakin, pasti bisa menyeret Miko ke penjara untuk menggantikan Devan, " batin Zahra, senang karena mendapat dukungan dari orang yang dia sayangi.
Tanpa sepengetahuan Zahra, Miko mendengarkan pembicaraan mereka, Miko hanya berpura-pura pergi tadi, setelah dirasa Zahra masuk rumah, dia kembali lagi ke rumah Zahra.
Dugaan Miko benar, Zahra tak mungkin lagi memberinya kesempatan kedua jika tidak ada maksud dan tujuan tertentu, ternyata Zahra sudah mengetahui jika Miko yang sebabkan pak Ardi meninggal dan akan melakukan serangan balasan dengan menyeret Miko ke penjara.
"**Akan aku ikuti permainan kamu Mbul, sejauh mana kamu bisa melawanku**, " batin Miko tersenyum simpul.
__ADS_1
_Bersambung_