
Melihat Friska di tangkap, hal itu tentu saja membuat Miko semakin berang, "Aaargh! tidak! ini tidak mungkin! " teriak Miko mengacak-acak rambutnya, bagaimana mungkin, orang yang telah membantunya itu bisa sampai di tangkap polisi.
"Radit! Radit!. " Miko memanggil salah satu asistennya.
Radit keheranan, kenapa bosnya memanggil dia dengan wajah penuh amarah, "Ya Pak, ada apa? " tanya Radit menghadap Miko dengan penuh rasa hormat.
Miko menatap Radit agak sedikit nyalang, matanya memerah menahan perasaan amarah yang menguasai hatinya, "Siapa yang berani melaporkan Friska ke penjara!" bentak Miko.
"Aku orangnya!" ucap Devan muncul dengan rasa percaya diri, dia melangkah gontai mendekati Miko.
Miko yang semula berkacak pinggang, kini tangannya mengepal kuat, "Kamu..., "
"Ya! ini aku Devan! bukankah sudah ku bilang, jangan membangunkan macan tidur jika tidak ingin di terkam, " ucap Devan menyilang kedua tangannya, hatinya terpacu untuk memberikan pelajaran pada Miko.
"Apa yang kamu mau Devan! Aku sudah muak dengan semua ini! " jawab Miko seperti orang yang sedang kesetanan saja.
Devan hanya tersenyum simpul, dalam hatinya puas sekali bisa memberi pelajaran pada Miko dan Friska, "Aku hanya ingin kamu berhenti menggangguku dan juga Zahra... aku dan Zahra adalah dua hati yang tak bisa di pisahkan, sekeras apapun cara kamu memisahkan kami, sekeras itu juga cinta kita berdua menjadi kuat" ucap Devan.
"Aku tentu akan membalasmu Devan! " kecam Miko, raut mukanya tampak panik dan gelisah.
Kemarahan Miko menjadi sesuatu yang paling membahagiakan bagi Devan, bagaimana tidak, perjuangannya untuk melepaskan diri dari Friska tidak sia-sia.
"Bertindaklah sesuka hatimu Miko... kamu tidak akan mendapatkan cinta Zahra! " ujar Devan, senyum merekah tampak jelas di bibirnya.
Devan berlalu pergi meninggalkan kantor Miko.
Miko terpaku menatap kepergian Devan, "*Zahra..kau membuatku seperti orang yang tidak waras hanya demi mendapatkan cintamu*! " batin Miko, ada perasaan berkecamuk terasa sesak dalam hatinya.
Miko meminta Radit menyiapkan mobil.Meskipun Friska di penjara, itu semua tidak membuat Miko beringsut mundur.
Bayangan masa lalunya dengan Zahra masih tergambar jelas di pikiran Miko.Bagaimana tidak, empat tahun menjalin hubungan kandas begitu saja karena pertentangan orang tua.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Devan beranjak masuk ke kantornya, dirinya tidak sabar ingin mengatakan semuanya kepada Zahra.Devan segera menaiki lift menuju ruangan Zahra.
"Pak Devan kenapa ya... kok seperti terburu-buru begitu? " tanya Windi, seorang staff Administrasi baru pengganti Friska di kantor.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin dia sedang ada masalah dengan Zahra, tunangannya.. " jawab Mbak Ella tidak mau mencampuri urusan sang bos.
Devan yang mendengar itu semua tidak menggubrisnya, tujuannya saat ini adalah bertemu Zahra, sang pujaan hatinya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Di ruangannya, Zahra sedang termenung memikirkan Devan.Alangkah terkejut sekali Zahra melihat Devan memeluknya begitu saja.
Bukankah Devan sendiri yang bilang pada Zahra jika dirinya sudah tidak mencintai Zahra lagi? entahlah, apa maksud dari semua ini.
Bagi Zahra, bisa memeluk Devan sekejap saja sudah membuatnya begitu bahagia.
"Pak..ada apa ini? jangan memberi saya harapan yang setinggi gunung Pak, jika bapak hanya akan membuat saya jatuh di dalam harapan saya sendiri, " ucap Zahra.
Devan masih saja enggan melepas pelukannya, kerinduan Devan atas kebersamaannya dengan Zahra sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
Bagaimana mungkin Zahra bermimpi untuk memeluk gunung, sedangkan tangannya sendiri susah untuk menggapainya, itulah yang Zahra rasakan saat ini,hanyalah seorang Asisten yang terlalu bermimpi untuk mendapatkan cinta dari seorang bosnya.
Devan melepas pelukannya, tangan Devan memegang pipi Zahra dengan lembut "Kita akan bersatu lagi sayang... " ucap Devan lembut.
"Sudahlah Pak...saya sibuk, tolong jangan mengganggu saya, " tukas Zahra meninggalkan Devan sendiri.
Devan terdiam menatap kepergian sang kekasihnya itu, hatinya terasa perih dan sakit melihat Zahra mengabaikannya. "*Maafkan aku..semua ini karena aku yang hanya bisa memberikan rasa sakit dalam hatimu*, " umpat Devan dalam hati.
Devan berlalu pergi meninggalkan ruangan itu , Devan tidak ingin cintanya menyakiti orang yang yang sangat di sayanginya, Devan hanya bisa pasrah atas semua ini.
"Aku tidak ingin menyakitimu Zahra...biarlah ku pendam sendiri cinta ini, walaupun sakit dan perih... asalkan kau bisa bahagia. "Devan membatin, batinnya benar-benar rapuh untuk saat ini.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
__ADS_1
Zahra menenangkan diri di kantin.Zahra memesan kopi agar pikirannya bisa sedikit lebih tenang, di sedihnya secangkir kopi dengan asap yang masih mengepul.
Ara yang juga sedang berada di kantin, melihat Zahra sedang duduk sendiri menyeduh kopi, "Ngelamunin apa Mbak? " tanya Ara ikut duduk di sebelah sahabatnya itu.
Zahra menoleh sejenak ke samping, mencari dimana sumber suara itu, "Kamu ah! Ngagetin aja! " ujar Zahra terkesiap kaget melihat Ara sudah duduk di sampingnya.
Ara nyengir kuda ke arah Zahra, bermaksud untuk menghiburnya, "Lagian kamu sih! ngapain coba disini, mana sendirian lagi, " ujar Ara menyesap jus anggur yang di bawa dari mejanya.
Zahra celingukan kesana-kemari mencari seseorang yang beberapa hari ini sama sekali tidak terlihat, "Kemana Lia? " tanya Zahra menatap ke arah sahabatnya itu.
"Ada, masih di ruangan kerja..entahlah, semenjak tau jika Gino selingkuh.. lebih senang menyendiri, " jawab Ara menghela napas dalam-dalam teringat Lia.
Zahra menepuk dahinya, "Aduh.. kok gara-gara jomblo ngenes begini, suasananya mellow banget? " tanya Zahra menyeduh kopinya lagi.
"Udah! kamu nggak perlu mikirin Lia...nanti dia juga dis dapat pengganti Gino.Justru, yang harus di pikirkan itu kamu! udah dapat pengganti Pak Devan belum?. " Ara berbalik tanya pada Zahra.
Zahra hanya tersenyum simpul.Bagaimana mungkin Zahra mencari pengganti, untuk melupakan Devan saja sepertinya susah.
Kali ini Zahra benar-benar tidak ingin memaksakan kehendaknya agar bisa bersama Devan.Tapi, bukan berarti Zahra harus melupakan kisah cintanya bersama Devan.
Kisah cinta yang belum lama terjalin, namun sudah meninggalkan beribu kenangan indah.Pahit, manis, suka, duka semua itu memiliki kesan tersendiri.
"Belum Ar.. semua terlalu indah untuk di lupakan, tapi hanya menjadi sakit untuk di pertahankan, " jawab Zahra perkataan itu lolos begitu saja dari mulutnya.
"Nah! gitu dong...jangan terus terbelenggu masa lalumu, dirimu berhak untuk bahagia, " jawab Ara begitu puas mendengar jawaban dari sahabatnya itu.Untuk apa saling mencintai, jika hanya sepihak saja.
Zahra hanya bisa tersenyum kecut mendengar Ara.Benar kata Ara, bahwa setiap orang berhak merasakan arti sebuah kebahagiaan.
__ADS_1
"Terima kasih, " ucap Zahra, hatinya merasa agak sedikit lebih plong.
_Bersambung_