
Pagi ini, Zahra terbangun dari tidurnya kepalanya masih terasa pusing gara-gara semalam, bu Nita masuk ke kamar Zahra "Kamu sudah bangun Ra? "tanya Bu Nita
Zahra mengerjapkan matanya bingung, semalam dia ada di pesta ulang tahun Abi, Kenapa sekarang ada di rumahnya sendiri "Ma, siapa yang membawaku kesini tadi malam? " tanya Zahra, sambil memegang kepala
Bu Nita terdiam sejenak melirik putrinya itu. "Alex Ra, yang membawamu kesini ..., katanya kamu bertengkar dengan Devan sampai kamu pingsan? apa benar itu Ra? " Bu Nita bertanya balik pada Zahra
Zahra terkejut, gimana Alex bisa mengetahui rumahnya. "Ma, bagaimana Alex tau darimana ya kalau rumahku disini? "Zahra bertanya lagi, ia tak pernah tahu jika yang membawanya pulang ke rumahnya malam itu adalah Devan.
Bu Nita bingung harus berkata apa, Devan melarangnya memberitahu Zahra jika,Devan yang bawa Zahra pulang sampai ke rumah. "Dia menelfon Mama, dan bertanya alamat rumah, " jawab Bu Nita berkilah.
Zahra segera turun dan berangkat ke kantor, tak peduli jika Devan memecatnya. Dia harus menyelamatkan hubungannya dengan Devan.
...*...
__ADS_1
Devan terperangah kaget, Zahra masih nekat berani datang ke kantor lagi. "Mau apa lagi kamu? bukankah saya bilang hubungan kita sudah berakhir? " tanya Devan dengan sangat ketus
Anda salah paham, saya tidak seburuk yang Anda pikirkan.saya tidak bisa khianati Anda. Terserah mau percaya atau tidak, fitnah dan kebohongan tidak selamanya bisa menutupi kebenaran, " jawab Zahra
Zahra begitu kesal karna Devan sama sekali tidak mempercayainya, ia keluar dari ruangan Devan. "Tunggu! " panggil Devan berusaha menghentikan Zahra yang akan keluar dari ruangan.
Langkah zahra terhenti sejenak karna Devan memanggilnya, Devan menghampiri Zahra, mendekatkan bibirnya ke telinga Zahra "Jika anda berfikir anda sendiri benar, buktikan kepada saya kalau anda tidak bersalah, " ujar Devan
Zahra mengepalkan tangannya, dia seolah tertantang untuk membuktikan semuanya pada pria yang sombong dan angkuh itu "Baiklah, saya akan buktikan segera, " timpal Zahra
Friska mendengarkan pembicaraan Devan dan Zahra di balik pintu, ia ketar-ketir takut, jika Zahra sampai berhasil membuktikannya.
"Friska? kamu ngapain disini? "tanya Zahra melihat Friska sedang mengendap-endap di balik pintu ruangan Devan, membuat Zahra curiga
__ADS_1
Friska gelagapan ketika terciduk Zahra sedang mengendap-endap di balik pintu. "Enggak kok Ra, cuma mau ke ruangannya Hilda, " jawab Friska sambil celingukan.
Zahra memilih abai dan melewati Zahra, ia tak ingin Friska tahu jika dirinya sudah curiga, Zahra bersembunyi di balik pot bunga, tak jadi pergi
"untung aja, Zahra nggak curiga jika aku yang menjebaknya malam itu. Kalau tidak, aku bisa di pecat bahkan di usir dari kantor ini, " tukas Friska
Zahra merekam semua pembicaraan Friska di ponselnya sebagai bukti, bahwa dirinya tidak bersalah.Zahra tersenyum miring, dia tak menduga jika Friska yang menjebaknya.
"Kamu fikir aku bisa di bodohi Fris, sebentar lagi kamu juga akan di tendang dari kantor ini, hanya tinggal menghitung waktu, "batin Zahra, ia akan membalas semuanya di waktu yang tepat
Kali ini, Zahra tak mau jadi wanita lemah. Dia akan tegas melawan siapapun yang berani menyakitinya tanpa harus takut kalah.
Mampukah Zahra membuat Devan percaya lagi padanya?
__ADS_1
Hallo Hay semuanya, terima kasih ya, yang udah baca novel ini. Author doakan semoga di beri kesehatan selalu terima kasih 😊🙏