
"Ra, dua hari lagi pesta ulang tahunku, aku harap kamu bisa datang, " ujar Abi memberi undangan kepada Zahra, Hilda dan Friska ikut mendengarkan pembicaraan mereka berdua di balik pintu ruangan Zahra.
Hilda tersenyum menatap ke arah Friska "Gimana kalau kita jadikan pesta ulang tahun Abi jadi pesta kehancuran hubungan Devan dan Zahra, "celetuk Hilda, muncul ide licik di pikirannya untuk menghancurkan Zahra, Friska mengerutkan dahinya ke arah Hilda.
Friska mengernyitkan dahi, bingung dengan maksud perkataan Hilda, "Maksud kamu? " tanya Friska, ia juga tak sabar melihat Devan segera membatalkan pertunangannya dengan Zahra, dia bisa leluasa untuk mendekati Devan.
Hilda berbisik lirih di telinga Friska.Kali ini, Hilda yakin, Zahra pasti akan di pecat dari kantor, Friska agak tidak setuju dengan ide licik Hilda, ia takut jika sampai di ketahui orang.
"Gimana kalau ketahuan? " tanya Friska, tak yakin dirinya bisa melakukan hal selicik itu kepada Zahra, tak terbiasa melakukan hal yang begitu jahatnya kepada orang lain.
Hilda berfikir keras memutar otak. "Kamu tenang aja, dengan menyingkirkan Zahra, pasti pak Devan akan cinta padamu, " bujuk Hilda, berusaha meyakinkan Friska.
Friska mengangguk setuju, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sangat emas itu, "Baiklah, aku setuju, " kata Friska, yang Akhirnya menyetujui ide dari Hilda, apapun akan dia lakukan hanya demi mendapatkan Devan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam tiba, Zahra meminta Devan untuk menemaninya ke pesta ulang tahun Abi. "Mas, temani aku ke pestanya Abi ya, " tukas Zahra, berharap Devan bisa menemaninya pergi ke pesta, agar dirinya tidak sendiri, Zahra akan merasa bosan jika sendirian.
Devan baru ingat jika dia ada janji dengan client untuk meeting proyek terbarunya "Aduh! maaf sayang, Mas ada meeting proyek sama klien nanti malam.Maaf, mas gak bisa," ucap Devan mengatupkan kedua tangannya di depan Zahra, dia memang agak sibuk hari ini tidak bisa menemani Zahra datang ke pesta ulang tahun Abi
Zahra tersenyum, ia tahu , Devan sangatlah sibuk dengan pekerjaannya. "Nggak perlu minta maaf mas, aku ngerti kamu sibuk, " ujar Zahra, tak sekalipun dia marah kepada pria yang sudah menjadi tunangannya itu.
Devan mengelus pundak Zahra.Bagi Devan, Zahra selalu mengerti dan memahami dia, tanpa sedikitpun mengeluh tentangnya yang selalu sibuk. "Terima kasih sayang " ucap Devan mengulum senyum pada Zahra.
Devan hanya ikut mengantar Zahra sampai di gedung hotel tempat Abi merayakan pesta ulang tahunnya, "Aku turun dulu ya mas, " pamit Zahra membuka pintu mobil Devan.
"Sayang tunggu! " panggil Devan, tangan Zahra urung untuk membuka mobil, dia berbalik menatap Devan.
__ADS_1
"Iya Mas, ada apa? " tanya Zahra,
"Hati-hati, jaga hati di dalam sana banyak pria tampan, " jawab Devan, mewanti-wanti Zahra.
"Setampan apapun pria di luar sana, tak akan mampu mengalahkan cintanya pria dingin di depanku ini, " ucap Zahra, membuat Devan terkesima.
Devan hanya tersenyum, ingin sekali dirinya menemani Zahra di pesta itu.Namun, begitu urgent nya meeting hari ini membuat Devan harus membiarkan Zahra datang sendirian.
...----------------...
Zahra masuk ke dalam, sudah banyak tamu undangan yang hadir pada malam hari itu, tak terkecuali teman-teman sekantornya sudah pada hadir ikut memeriahkan pesta itu.
"Zahra, kok kamu sendirian? pak bos mana? " tanya Ara, terus celingukan kesana-kemari mencari keberadaan Devan, tak keliatan batang hidungnya.Padahal, pesta akan di mulai.
"Mas Devan gak ikut hadir, dia ada meeting bersama client, hanya menitipkan kado ini untuk Abi, " jawab Zahra memberikan dua buah kado untuk Abi, Ara menyarankan, kadonya di berikan kepada Ulfania, istrinya Alex.
"Tunggu! " panggil Alex, Zahra menghentikan langkahnya, dan berbalik ke belakang, terkejut sekali Alex tiba-tiba memanggil dirinya.
Alex menghampiri Zahra.Entah kenapa, hati Alex tergelitik untuk mengenali Zahra lebih jauh lagi, Alex terhenti di depan Zahra "Ada apa?" tanya Zahra, Alex masih tetap melihat Zahra
"Kamu, yang ada di bandara mengikuti Dita itu kan? " tanya Alex, ia penasaran dengan wanita pemberani ini yang nekad mengikuti Dita saat di bandara itu.
Zahra tak bisa menjawab, dia hanya garuk kepalanya, "Iya, aku juga yang tau ternyata mbak Dita selingkuh di belakang Devan, " jawab Zahra mengakui semuanya pada Alex.
Mendengar nama Devan, Alex menjadi agak sedikit geram.Tapi tak bisa di salahkan juga, karna Devan pun juga tidak tahu kalau Dita mengkhianatinya "Kamu mengenalnya? " tanya Alex.
__ADS_1
Zahra mengangguk "Iya, " jawab Zahra, ia takut memandang Alex, menyesal telah mencampuri urusannya dengan Dita waktu itu.
...----------------...
Di sisi lain, klien Devan menelfon bahwa sedang ada di luar negeri dan menunda meeting mereka, Devan berniat masuk menyusul Zahra untuk menemaninya.
Friska segera hampiri Devan. "Pak, Zahra lagi berpelukan dengan pria lain, bapak tadi kemana aja? " tanya Friska pura-pura panik, semua adalah rencananya dan Hilda.
Mendengar itu, Devan segera masuk ke dalam melewati Friska begitu saja.
"Hey, kamu! jawab dong! " gertak Alex. Zahra tak bisa menjawab, kepalanya pusing karena banyak meminum jus yang sudah di campur obat oleh Hilda dan Friska.
Zahra memegang kepalanya, tidak kuat lagi menahan pusing.Dia jatuh dalam dekapan Alex, seolah momen yang pas sekali ketika Devan masuk ke ruang pesta yang meriah itu.
Melihat Alex mendekap Zahra, Devan geram dan menghampiri Alex "Zahra! " bentak Devan tatapannya nyalang ke arah Zahra menahan emosi.
Zahra mencoba menegakkan badannya walaupun sedang pusing. "Mas, dengerin penjelasanku dulu Mas, " kata Zahra sambil memegang lengan tangan Devan erat-erat.
Devan menepis pegangan tangan Zahra, ia merasa begitu bodoh di selingkuhi wanita untuk kedua kalinya "Cukup Ra! jangan pikir saya baik ke kamu, bisa kamu selingkuhi saya! saya bukan orang bodoh Ra! " bentak Devan.
Devan ingin meninggalkan Zahra sendirian di pesta itu.Tak tahan lagi, dia di khianati dengan orang yang sama di masa lalunya.
Dengan kepala pusing, Zahra mengejar Devan dan memeluknya dari belakang "Jangan salah paham dulu Mas, aku tidak mengkhianatimu, " tukas Zahra mencoba jelaskan pada Devan sejujur-jujurnya.
Devan melepas pelukan Zahra "Saya kan bilang cukup Ra! kamu mengkhianati saya! jangan ganggu saya lagi, mulai besok tidak usah datang ke kantor.Saya tidak ingin melihat muka kamu lagi! " kata Devan, ia berlalu begitu saja meninggalkan Zahra sendiri.
Devan mengemudikan mobilnya dengan penuh amarah.Tak menyangka, kali ini ia di selingkuhi dengan pria yang sama. Begitu sesak, sakit hancur, itulah yang di rasakan Devan saat ini.
__ADS_1
_Bersambung_
***Apakah Zahra mampu membuktikan kejahatan Friska dan Hilda? Ikuti terus novel ini sampai akhir ya, kita kawal bareng yuk Devan dan Zahra sampai halal, terima kasih buat yang baca hingga bab ini jangan lupa like dan komen ya terima kasih 😊🙏 semoga para readersku semua selalu di beri kesehatan dan panjang umur Aamiin🤲***