ZAHRANA

ZAHRANA
Rencana Miko


__ADS_3

     "Tuan Miko, ada yang ingin bertemu dengan anda..." ucap Lian seorang polisi yang sedang piket saat itu.


    "Bertemu denganku? siapa? " Miko begitu keheranan.


 Tangan Lian membuka gembok rantai yang di kunci, membiarkan Miko keluar dari sana.


    Miko beranjak berdiri.Lalu kemudian, berjalan santai menemui orang yang ingin bertemu dengannya. "Friska...darimana kamu tahu jika aku masuk penjara? " Miko menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


  Friska menatap Miko dengan tatapan nyalang. "Seharusnya aku yang tanya sama kamu, kamu kenapa kok bisa di penjara gini? " Tanya Friska.


"Ini semua karena Devan... Iya, dia yang melaporkanku ke polisi...." Jawab Miko tampak kesal mengingat perlakuan Devan ketika melaporkannya.


"Lantas, apa yang akan kamu lakukan? kamu diam aja begitu? "Friska menyilang kedua tangannya di depan dada.


Miko memukul meja. "Tidak! aku tidak akan diam saja meringkuk disini! " Miko tidak bisa lagi menahan amarahnya.Dia akan membalas dendam pada Devan dan Zahra.


"Apa yang akan kamu lakukan Miko? Sedangkan kamu sendiri di penjara?" tanya Friska.Dia menyesal membantu pria tidak waras seperti Miko.


Miko mendekatkan wajahnya dengan wajah Friska. "Kamu harus membantuku... " tukas Miko tersenyum menyeringai.


Mata Friska membulat sempurna.Dia menelan salivanya kasar-kasar. "Aku? " tanya Friska tak percaya.


    "Tapi... "


  "Aku tidak butuh penolakan Friska! "Bentak Miko membuat Friska terkesiap kaget.


  "Apa yang bisa ku bantu? "Friska gemetar. Dahinya berkeringat dingin ketakutan pada Miko.


 Miko mengulum senyum ke arah Friska. Dirinya mendekatkan bibirnya ke telinga Friska membisikkan sesuatu.Tanpa sadar, Friska ikut tersenyum.


  "Aku setuju! " celetuk Friska.Dia suka dengan ide brilian Miko.Mendengar itu, justru Miko merasa senang.


"Baiklah, tolong lakukan sekarang..." pinta Miko.Friska beranjak berdiri dari tempat duduknya.Kemudian, dia berlalu meninggalkan kantor polisi.


 Lian memasukkan kembali Miko ke dalam sel. "Liat saja Devan, Zahra...kamu akan mendapat balasannya.... " Miko membatin dalam hati.


          \=\=\=oooOooo\=\=\=\=


   Di sisi lain, Devan dan Abi baru saja kembali ke kantor. "Pak Devan... bapak darimana saja? "tanya Zahra begitu khawatir sekali.


 . Devan menoleh Abi yang berada di sampingnya. "Aku dari kantornya Miko " jawab Devan gugup.


 "Ke kantor Miko? ngapain kesana? "Zahra mencecar Devan.Takut jika tunangannya itu bertengkar dengan Miko.


    "Aku memasukkan dia ke penjara Zahra... ngapain lagi? "Devan tersenyum girang.


    "Apa! " Zahra kaget.Dia masih tak percaya ucapan Devan.


  Devan mengangguk. "Iya sayang... aku serius"tukas Devan.


"Iya Ra...kamu gak tahu betapa hebatnya pak Devan ini bisa melawan Miko" Abi ikut menimpali.

__ADS_1



"Emang bukti dari mana? kan buktinya udah di hapus sama Miko? "Zahra masih terlihat Bingung.



"Pokoknya kamu tenang aja...yang penting, Miko udah di penjara" jawab Abi.


"Iya sayang, Abi ada benarnya juga...kita fikirkan gimana caranya agar bisa mengembalikan reputasi perusahaan ini"Devan tidak mau ambil pusing lagi soal Miko.


"Nggak Mas...aku mengenal Miko itu siapa, dia akan menghalalkan cara apapun untuk balas dendam ke kita" ujar Zahra masih ketakutan jika Miko membalas dendam.



Zahra sangat mengenal siapa Miko.Dia tidak akan membiarkan seseorang yang telah membuat hidupnya terusik bahagia begitu saja.


"Balas dendam gimana sih sayang...dia kan lagi meringkuk di penjara" jawab Devan menepis kekhawatiran Zahra.


"Tapi Mas.. "


"Zahra! udah! di dalam penjara mana bisa dia balas dendam! "Devan tidak sengaja membentak Zahra.Dia kesal karena Zahra terus berpikiran buruk.


"Ya udah deh..terserah kalo kamu nggak percaya" tukas Zahra menyerah.


Percuma juga, di jelaskan pun Devan tidak akan pernah mengerti.Zahra mengikuti saja kemana Devan dan Abi melangkah.


\=\=\=\=oooOooo\=\=




"Nggak ada kerjaan apa! mikirin hutang negara...hutang sendiri belum lunas " jawab Zahra.


Dia hanya diam sambil memainkan nasinya. "Nasi tuh di makan...nanti mubazir loh "tegur Ara.


"Iya, ini juga di makan kok..."Zahra menjawab sambil menyendok makanannya.


"Ada masalah apa sih..sampai melamun gitu? " tanya Ara sambil duduk menemani Zahra makan.


"Sebel sama Mas Devan...nggak pernah mau ngertiin aku "Zahra mengerucutkan bibirnya.


"Ada apa lagi sih? baku hantam lagi? apa gimana? "Ara mencecar Zahra dengan banyak pertanyaan.


"Pelan-pelan kalau nanya! aku nggak bisa denger! " protes Zahra menggaruk kepalanya yang tak gatal.



"Iya-iya...sebenarnya kamu ada apa sih sama Devan? " tanya Ara mengulang lagi pertanyaannya.


__ADS_1


"Dia melaporkan orang yang menabrak papaku ke polisi..." jawab Zahra.


Ara malah tertawa. "Ya ampun...Zahra! wajar kalik kalo Devan laporin dia ke polisi, kan dia bersalah juga Zahrana" sahut Ara.


"Bukan itu masalahnya Ar! aku mengenal siapa penabrak papaku itu bukan orang sembarangan"


"Jadi..maksud kamu mavia atau sandal begitu? "tanya Ara masih juga tidak mengerti.


"Scandal Ara! bukan gitu...dia orang yang licik, bisa melakukan apapun demi ambisinya" jawab Zahra.


Ara hanya terdiam.Dia mencoba berfikir sejenak.


"Bukan hanya pak bos yang di khawatirkan Ra...tapi kamu juga harus hati-hati"ucap Ara menyesap jus jeruknya.



"*Ar..andai saja kamu tahu jika yang menabrak papaku itu adalah adik iparmu*" Zahra membatin.


Seorang gadis cantik berlenggak-lenggok dengan pakaian kaos lengan panjang berwarna merah serta celana jeans datang ke kantor.Dia bertemu Zahra dan Ara di kantin.


"Hay semuanya.." sapa gadis itu.


Ara memukul Zahra mengisyaratkan agar Zahra menoleh ke depan. "Siapa sih?" tanya Zahra.


Penasaran, Zahra akhirnya ikut menoleh ke belakang. "Friska" mulut Zahra gemetar menyebutnya.


Entah ada tujuan apa Friska datang kembali ke kantor ini.Membuat emosi semua karyawan meledak.


"Heh! ulet bulu! ngapain lagi kamu kesini! " bentak Ara menatap Friska dengan tatapan nyalang.


"Woles dong! santai...aku kesini nggak mau gangguin kalian, aku kesini mau nagih janji" sahut Friska dengan angkuhnya menyilang kedua kakinya.


"Janji? janji apa? " tanya Zahra begitu penasaran.



Friska tersenyum menyeringai. "Eh kebetulan ada Zahra disini..kamu lupa siapa yang membebaskan Devan? Ya! aku orangnya, aku yang mengirim pesan itu kepadamu Zahra! "jawab Friska.



Zahra melongo di buatnya. "Nggak! Itu nggak mungkin! "bentak Zahra tidak percaya.Begitupun Ara, benar-benar terkejut tidak percaya.



Friska mendekatkan bibinya ke telinga Zahra. "Tepati janji kamu tinggalkan Devan" ujar Friska lirih.


"Janji? Janji apa Fris? "Devan ikut bertanya pada Friska.


"Oh rupanya pak Devan belum tahu ya...kalau tunangan bapak ini bekerja sama dengan saya untuk meninggalkan anda! " jawab Friska secara blak-blakan.


"Apa? " Devan melotot tidak percaya jika Zahra melakukan itu.

__ADS_1


Zahra hanya menunduk.Dia tak bisa berbuat apa-apa lagi


__ADS_2