
Terpampang jelas foto wanita cantik berhijab di walpaper hp Devan. Ya, siapa lagi kalau bukan Zahra, perempuan yang berhasil menjinakkan hati Devan itu, Devan selalu merindukannya setiap saat dan waktu.
Devan menjadi bucin begini ketika bersama Zahra, ia tak pernah merasakan kerinduan yang sehebat ini ketika saat bersama Dita. Cintanya, benar-benar mengubah hidup Devan.
"Mas Devan, " panggil seorang wanita di belakang mereka berdua, mata Devan berbinar bagai menemukan sekarung uang.
"Sayang, " ucap Devan, ingin sekali memeluk wanita yang hadir di hadapannya itu.
Zahra berlari menghampiri Devan dan langsung memeluknya.Baru saja dua hari terpisah, tak tahan lagi menahan rindu yang menyeruak dalam hati Zahra.
Seberat apapun masalah bagi Zahra, akan terasa ringan bila ada Devan di sampingnya. "Aku merindukanmu mas, " pekik Zahra, hanyut dalam pelukan Devan, tak ingin berpisah lagi darinya.
Devan membelai punggung Zahra, tak tahan juga menahan rindunya pada Zahra.Itulah rindu, menahannya ibarat angkat beban besi empat kilogram, beratnya gak ketulungan.
"Mas Devan? emang kalian udah tunangan? " tanya Gino yang memang tidak mengetahui apapun.
Zahra dan Devan saling bertatapan "Kamu nanyea? " jawab keduanya menirukan gaya bicara Dilan cepmek.
"Biar aku kasih tau ya.., kamu kepo banget sih," lanjut Gino mencebikkan bibirnya, Devan dan Zahra tertawa ngakak.Candaan inilah yang mereka rindukan dari seorang Gino.
"Kamu ngapain ke rumah Alex? " tanya Zahra,
"Aku mengurus masalah kerjasama kontrak di perusahaan, " jawab Devan mengulum senyum ke arah Zahra.
"Apa kamu benar-benar akan meninggalkan aku dan membiarkan aku menikah dengan si Alex? " tanya Zahra, pikiran negatif mampu menguasai hatinya.
"Nggak, aku nggak akan membiarkan itu semua terjadi.Ada Gino yang akan lanjutkan kerjasama itu denganku tanpa Alex lagi, " jawab Devan, menatap Zahra dengan tatapan sendu.
"Ya Ra, aku yang menggantikan Alex untuk bekerja sama dengan perusahaan Arprana," timpal Gino, membenarkan semua perkataan Devan
Gino salut dengan kekuatan cinta mereka. Walau badai, angin bahkan jurang yang dalam tak mampu lagi memisahkan mereka berdua.
Gino berharap keduanya bisa secepatnya bersatu, agar kisah cinta mereka tidak berakhir sia-sia saja.
"Woy! mau sampai kapan ngelamun disitu? " tanya Devan, membuyarkan lamunan Gino.
Gino terperanjat kaget " Eh iya pak, ayo kita pulang, " jawab Gino, mengajak Devan dan Zahra pulang
Tangan mungil melingkar di perut Gino, aroma parfum manis dan segar khas wanita, membuat Gino tau siapa yang memeluknya. Jantung Gino seakan berdetak lebih cepat dari biasanya, tak terbesit sedikitpun di fikiran Gino Lia akan menemuinya.
"Ku kira bakal jadi nyamuk..., ternyata udah suhu dalam pacaran, " sindir Devan, mengusili Gino.
"Oh iya Zahra, pak Devan apa semua masalah udah kelar? " tanya Ara, berharap Devan bisa menyelesaikan permasalahan di kantor.
"Iya, Gino yang menggantikan Alex untuk kerjasama ini.Tau sendiri Alex orangnya sekeras batu, " jawab Devan.
__ADS_1
"Udah-udah! apa kalian mau tetap disini semalaman? " tanya Zahra, tidak kuat lagi menahan kantuk.
"Iya mau pulang .., masalahnya, tuh! yang nempel terus kayak perangko, mau pulang nggak, " sindir Ara, melihat Gino dan Lia bermesraan.
Lia melepas pelukannya "Kamu mau pulang ke rumah ibumu? " tanya Lia bergelayut manja ke Gino
"Iya, setelah kerjasamaku dengan pak Devan selesai.Untuk sementara waktu, aku numpang dulu di rumah pak Devan dulu, boleh kan," jawab Gino.
"Boleh, tapi awas kalo berantakin kamar saya, " timpal Devan memutar bola matanya jengah.
"Maksudnya, saya sekamar dengan bapak gitu? " tanya Gino, mendelik kaget.
"Baik, tapi saya nanti tidur di sofa, takut di apa-apain sama bapak, ih ngeri..., " tukas Gino menggeliat-geliat sendiri.
"Kamu pikir saya Gay apa! penyuka sesama jenis, " ujar Devan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Ya kali sih pak, " timpal Gino nyengir kuda ke Devan.
"Jangankan apa-apain kamu, lihat mukamu saja saya tidak bernafsu, saya ini pria yang masih normal, " sahut Devan,
"Hehe, iya pak ucap Gino, mereka semua pulang bersama ke rumah masing-masing
"Wah, luas banget ya kamarnya bapak, bisa melihat pemandangan dari sini, "ucap Gino kagum dengan dekorasi kamar Devan yang sangat indah.
"Tidurlah, saya lelah hari ini, " pinta Devan, mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur.
Devan merebahkan tubuhnya di kasur, sedangkan Gino masih terjaga di sofa "Kok banyak nyamuk ya pak, " celetuk Gino,
Devan tak menjawabnya, hanya terdengar suara dengkuran halus menandakan Devan sudah tidur.Gino menepuk-nepuk tangannya membunuh nyamuk yang mengganggunya.
"Lah kok kamu malah mendarat di pipi pak Devan,gimana bunuhnya ya, "gerutu Gino.
Gino mendekati Devan dan 'Plak' satu tamparan melayang di pipi Devan membuat Devan terbangun seketika "Gino! apa-apaan kamu menampar saya! " bentak Devan.
__ADS_1
"Maaf pak, tadi ada nyamuk di pipi bapak, saya gampar, " ucap Gino.
"Ya, tapi bukan saya yang kamu gampar ginooo, " rutuk Devan kesal tidurnya terganggu Gino.
"Ya habis mau gimana, nyamuknya gak bilang kalau mau mendarat di pipi bapak, " sahut Gino.
Devan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, "Emang ada ya, nyamuk mau hinggap bilang-bilang," batin Devan merasa konyol dengan sikap Gino.
Bu Alika masuk ke kamar Devan "Ada apa sih, kalian kok ribut begini? "tanya Bu Alika.
"ini si Gino ma, ngegampar aku nggak bilang-bilang, " adu Devan pada mamanya.
"Udah-udah! papamu udah tidur Van, jangan berisik, " tegur Bu Alika, menutup kembali pintu kamar.
"Udah tidur! awas kalau ngegampar saya lagi! "ancam Devan, Gino hanya mengangguk, Devan kembali terlelap dalam tidurnya.
Gino terbangun melirik Devan. "Ini orang ya, baru diam sedikit udah tidur aja..., Dasar! tampan-tampan molor, " umpat Gino dalam hati.
Tak lama setelah itu, Gino pun ikut terlelap menyusul Devan.
Bu Alika masuk ke kamar Devan melihat Devan dan Gino yang sudah tertidur, bu Alika mendekati sofa dan membelai rambut Gino.
Bu Alika tersenyum sendiri melihat Gino "Maafkan mama nak, yang sudah telantarkan kamu dari kecil, " batin Bu Alika
*FLASBACK ON*
"Misha, aku menitipkan bayi ini kepadamu, rawatlah dengan baik seperti anakmu sendiri, mas Irfan telah tiada, aku takut jika suamiku yang baru tak ingin menerima bayi ini.Apalagi, aku sedang hamil anak suamiku yang baru, " pinta Bu Alika
"Tega sekali kamu mbak, menelantarkan anakmu Gino! mentang-mentang kamu sudah hamil anak dari suamimu yang baru, kamu juga tega menyembunyikan anakmu mbak! " bentak Misha,
"Aku mohon sha, kali ini saja, " Bu Alika mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Baiklah, tapi jangan harap kamu bisa bertemu Gino kembali seumur hidupmu! " Bu Misha menggendong bayi itu dan mengusir Bu Alika
Bu Alika berlari pergi meninggalkan rumah kakaknya.
*FLASHBACK OFF*
Bu Alika segera berdiri dan keluar dari kamar Devan.
_Bersambung_
__ADS_1
.