
Dokter keluar dari ruang UGD. "Keluarga dari pasien atas nama Ardi Prananta? " tanya Dokter, dengan lantang.
Zahra segera menghampiri dokter tersebut. "Saya anaknya Dok, " jawab Zahra tak sabar mendengar kabar tentang kondisi ayahnya.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi pembuluh darah di dalam otak pak Ardi pecah, pasien tidak bisa tertolong lagi, " tukas dokter.
Tangis Zahra pecah begitu saja, dia tidak menyangka papanya pergi begitu cepat meninggalkannya "Tidak! Ini tidak mungkin! papa masih hidup! " teriak Zahra berlari masuk ke Dalam di ikuti Devan.
...----------------...
Tampak dua orang perawat disitu sedang menutup wajah pak Ardi dengan kain putih. "Paaa! bangun pa! siapa yang akan menjaga aku dan Mama, bangun pa! "teriak Zahra sambil menggoyangkan tubuh pak Ardi yang sudah terbujur kaku.
Devan mengelus bahu Zahra, tanpa basa-basi, Zahra menepis tangan Devan. "Kamulah Mas, penyebab papa meninggal kamulah penyebabnya! " bentak Zahra.
Zahra langsung membuka cincinnya dan melempar ke arah Devan. "Mulai sekarang, hubungan kita selesai! kita sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi sekarang! " bentak Zahra.
"Aku_, " ucap Devan terhenti.
"Cukup! pergi dari sini! aku muak melihat wajahmu lagi disini! pergi! " usir Zahra.
Devan mengalah, dia bergegas keluar dari situ, Devan tertegun di ruang tunggu UGD mengingat kejadian saat pak Ardi kecelakaan tadi.Bu Nita langsung datang ketika di kabari suaminya telah tiada, tangisnya tak dapat tertahan lagi, ia masuk ruang UGD dengan tergesa-gesa.
Devan mengusap wajahnya kasar, merutuki betapa bodohnya dia tidak sempat menolong pak Ardi saat itu.Andai saja dia b menolong, pasti pak Ardi masih bersama Zahra saat ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tinggallah penyesalan yang Devan rasakan saat ini.
Devan memanggil polisi untuk menyelidiki kematian pak Ardi, Devan yakin kecelakaan ini terjadi karna di sengaja.
Mendengar polisi datang, Zahra justru semakin marah. "Kenapa kamu memanggil polisi datang kesini Mas? bukankah kamu yang menabrak papaku Mas? " tanya Zahra menyilangkan tangannya di depan dada.
"Ra bukan aku yang menyebabkan papa kamu_, " suara Devan seperti tercekat di tenggorokannya.
"Tangkap dia pak, dia yang menyebabkan papa saya meninggal! " pinta Zahra kepada polisi, tidak memberikan Devan kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
Salah satu polisi memborgol kedua tangan Devan, saat ini Devan hanya bisa pasrah saja. Itu semua wajar, karna Zahra melihat Devan menghampiri pak Ardi dengan tangan sudah bersimbah darah.
Bu Nita keheranan, mengapa Devan sampai di bawa polisi "Zahra, ada apa ini? " tanya Bu Nita.
__ADS_1
"Mas Devan yang telah menabrak papa hingga meninggal Ma, Zahra bersumpah tidak akan memaafkannya! " jawab Zahra kedua tangannya mengepal.
"Apa! " teriak bu Nita kaget, tak menyangka calon menantu yang dia percaya selama ini akan berbuat seperti itu.
Bu Nita segera mengurus biaya Administrasi rumah sakit agar jenazah suaminya bisa di pulangkan secepatnya.
Zahra masih duduk tertegun menunggu mamanya, dia termenung memikirkan Devan. "Kenapa kamu tega membuat papa jadi begini, apa salah papa kepadamu mas, " batin Zahra menyeruak, perasaan cinta yang dulu tumbuh hanya untuk Devan, kini semuanya pudar dan berubah menjadi benci
...----------------...
Pemakaman pak Ardi pun selesai di laksanakan, bu Nita masih menangis di pusara pak Ardi.Zahra mencoba tenangkan mamanya. "Ma, ayo kita pulang, " ajak Zahra. Bu Nita menurut, dia pulang bersama Zahra.
"Ra, turut berduka cita atas kematian om Ardi ya, "tukas Ara, menguatkan hati sahabatnya itu.
"Terima kasih Ar.., " ucap Zahra.
Zahra kepikiran untuk menjenguk Devan, dia berganti baju dan bergegas keluar. "Mau kemana kamu Ra? papamu baru saja meninggal, kamu malah keluyuran, " tanya Bu Nita.
"Sebentar Ma, Zahra ada urusan mendadak, " jawab Zahra berlari keluar rumah.
"Iya, gak apa-apa, " ucap pria paruh baya itu.
Keduanya saling terkejut ketika sama-sama menoleh "Kamu_, " sapa Zahra ucapannya terhenti.
"Kamu lagi, lain kali pakai matamu kalau jalan! " ketus pria paruh baya itu, sepertinya dia mengingat Zahra saat kejadian dua bulan yang lalu. Ya, dia adalah preman suruhan Friska dulu.
"Kebetulan kamu ada disini, aku meminta kamu membantuku untuk menyelidiki siapa penabrak papaku disini, " ujar Zahra.
"Oh, jadi papamu yang tertabrak tadi, aku tadi sempat melihat penabraknya naik motor sih kabur kesana, " ucap pria paruh baya itu menunjuk ke arah motor Miko berjalan ngebut setelah menabrak pak Ardi tadi.
Zahra tersentak kaget mendengarnya. "Motor? bukannya penabrak papa itu pakai mobil? " tanya Zahra lagi kepada pria itu.
"Terserah kalo kamu nggak percaya, orang penabrak papa kamu tadi, pakai motor..., dia ke arah sana, " jawab pria itu memberi petunjuk pada Zahra.
__ADS_1
"**Jadi bukan Devan penyebabnya, aku harus selidiki semua ini**, " batin Zahra.
"Motornya seperti apa? " tanya Zahra mencecar pria itu dengan berbagai pertanyaan.
"Motor sport berwarna kuning, " jawab pria paruh baya itu.Mata Zahra membulat sempurna, tanpa di sebutkan lebih detail lagi, Zahra pun sudah tau pemilik motor itu.
"**Miko! lihat saja apa yang aku lakukan padamu**! " umpat Zahra dalam hati geram.
Dia tak menyangka Miko akan setega itu melakukan ini, dia pasti mendendam karena papanya tidak pernah merestui hubungan Zahra dan Miko.
Zahra akan membuat Miko mengakui kesalahannya dulu di depan mamanya, baru akan membebaskan Devan dari penjara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Zahra, ada apa kamu kesini? " tanya Miko melihat Zahra sudah ada di depan rumahnya.
"Aku ingin memberikan kesempatan sekali lagi untuk menjalin hubungan denganku, lagipula papaku sudah tiada, tidak ada lagi yang menghalangi cinta kita berdua, " ucap Zahra berpura-pura.
"Benarkah, bagaimana dengan Mamamu? " tanya Miko, masih agak sedikit merasa ragu.
"Hati Mama begitu mudah di luluhkan ko, nanti juga mama akan merestui hubungan kita berdua, " jawab Zahra.
Miko mengulum senyum dan memeluk Zahra, akhirnya apa yang dia inginkan terwujud juga. "**Bagus, Miko sudah masuk ke dalam jebakanku, aku pastikan setelah ini kamulah yang akan menggantikan Devan di penjara**, " batin Zahra, dia sebenarnya malas sekali memeluk Miko, tapi demi membalas perbuatan Miko, Zahra terpaksa melakukan ini.
"Aku antar kamu pulang ya Mbul, " kata Miko, Zahra mengangguk, Miko mengantar Zahra ke rumahnya menggunakan motor sport berwarna kuning tepat seperti yang di katakan pria paruh baya tadi.
Zahra berusaha menarik simpati Miko terlebih dahulu, agar rencananya membuat Miko di penjara tidak gagal.
"Mut, aku turun sini aja ya, "ucap Zahra.
"Iya Mobilku sayang, " jawab Miko mengulum senyum pada Zahra.
Mikopun berlalu mengemudikan mobilnya pulang ke Rumah
Akankah semua Rencana Zahra berhasil? tunggu di part selanjutnya ya, terima kasih 😊🙏
__ADS_1