
Tepat saat di depan ruangan, tiga staf divisi accounting sedang menggibah Zahra, ruang Divisi accounting tidak jauh dari ruangan Zahra, sehingga Zahra mendengar apapun yang mereka katakan.
"Kok bisa ya... Pak Devan yang tampan dan kaya raya itu mau menikah dengan mbak zahra yang bassicnya hanya Asisten pribadi.
"Kalo aku jadi pak Devan, akan mencari wanita yang lebih berkelas dari dia, "
"Ya wajar lah... cewek mana yang nggak suka sama pak bos, tapi aku penasaran deh, pelet apa sih yang di gunain oleh mbak Zahra itu.... "
"Iya, kayaknya benar-benar ampuh deh! sampai pak Devan pun tidak bisa berpaling darinya, lumayankan ! bisa menggaet cintanya bos tampan, kaya mendadak kita, "
begitulah nyinyiran yang keluar dari mulut ketiga staf accounting itu dengan pedas dan nyelekit.
Perkataan mereka tentu saja membuat hati Zahra panas, ingin rasanya mencabik-cabik mulut mer yang berani menggibah di belakangnya.
Dengan berapi-api Zahra menggertak, "Heh! kalian itu di gaji untuk bekerja! bukan untuk menggibah! kalau mau gibah tuh jangan disini! hidup kok gibahin orang aja! " Zahra menskakmat langsung ketiga staf divisi accounting itu
"Kesalahan orang di koreksi, kesalahan sendiri di koleksi ngaca kalian! " imbuh Zahra, berhasil membuat ketiganya tertunduk malu.
"Ada apa ini?. "
Ara juga ikut kebingungan melihat Zahra begitu marah sekali.
"Liat junior kita ini! bisa-bisanya mereka membicarakan aku di belakang! " jawab Zahra tersulut emosi.
Ara menatap mereka bertiga dengan tatapan nanar, "Aku peringatkan kalian ya untuk yang terakhir kalinya, jika kalian masih ingin kerja disini... Jaga atitude kalian! " ujar Ara sorot matanya berubah tajam
"Aku bisa saja melaporkan ke pak bos, atas perlakuan kurang mengenakkan dari kalian! " kecam Ara mengintimidasi ketiganya.
Mereka mendongakkan kepala, tangannya mengatup di depan dada, "Maaf Mbak Ara, Mbak Zahra tolong jangan laporkan kami ke pak bos... "
"Iya Mbak, beri kami kesempatan, kami janji tidak akan mengulangi lagi, "
"Kami masih baru disini mbak, tolong jangan buat kamu di pecat dari kantor ini,"
Ultimatum yang di berikan Ara rupanya berhasil membuat mereka gemetar ketakutan, apalagi ini soal pemecatan.
Zahra dan Ara saling bertatapan satu sama lain mereka ingin memberikan pelajaran berharga kepada ketiga staff yang suka bikin rusuh itu, sebuah pelajaran yang akan selalu di ingat
"Gimana Ra? apa yang akan kita lakukan pada ketiga staff ini?. " Ara mengedipkan matanya pada Zahra.
Zahra tersenyum kecut, peka jika Ara akan mengerjai mereka bertiga, "Ar, ada kardus kosong tidak? "
__ADS_1
Alih-alih menjawab, Zahra justru berbalik tanya, Ara mengambilkan kardus yang di minta Zahra
Zahra memotong kardus itu menjadi empat bagian sama panjang, kardus itu di lubangi beri tali rafia di atasnya, Zahra menuliskan sesuatu di kardus itu
" Maafkan saya, sebagai junior tingkat kesopanan saya kurang. " Ara membacakan ulang yang di tulis Zahra sembari menahan gelak tawanya.
"Kalian pakai ini, berdiri di depan ruang kerja kalian, " titah Zahra tidak bermain-main dengan ucapannya.
"Tapi Mbak..., "
"Lakukan sekarang atau aku akan perparah dari ini! " sela Zahra matanya membelalak pada ketiga staff itu, bukannya benci tapi tegas, dia bukanlah orang yang gampang di rendahkan begitu saja.
Sebagai senior di kantornya, Zahra harus memberi contoh yang baik untuk juniornya yang baru saja bekerja di kantor itu, tidak membenarkan yang salah dan juga tidak menyalahkan yang benar.
Mereka terpaksa menuruti keinginan Zahra daripada harus mengorbankan karir mereka sendiri, sadar jika itu memang kesalahan mereka sendiri.
"Ayo, kita juga punya kerjaan... ngapain ngurusin mereka, " ajan Zahra menarik lengan Ara.
\=\=\=oooOooo\=\=
"Ngapain kamu ngikut ke ruanganku?. " Zahra kebingungan melihat Ara yang masih mengekor di belakangnya.
"Kamu yakin?. " Zahra meminta Ara agar memikirkannya kembali, Lia bukanlah wanita yang mudah jatuh cinta kembali jika sudah di sakiti.
"Aku yakin, kak Lia pasti bisa bahagia dengan Abi... aku rasa Abi juga pria yang baik untuk kakak, tidak seperti Gino hanya bisa menduakan kakak, " jawab Ara
Jika di ingat kembali pengkhianatan Gino kepada kakaknya, rasanya Ara sungguh tidak rela jika Gino dan sang kakak kembali lagi.
Sudah cukup kisah kemarin jadi pelajaran, Ara tidak ingin kakaknya jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Zahra mengelus pundak Ara, mencoba menenangkan hati sahabatnya. Tidak ada yang rela saudara kandungnya sendiri di sakiti, seandainya Zahra berada di posisi Ara, dia juga akan melakukan hal yang sama.
"Baiklah... aku akan bantu sebisa aku, tapi untuk keputusan tetap ada di tangan Lia, " tukas Zahra menyetujui rencana Ara.
Mendengar itu, yang tadinya mimik muka Ara tampak sedih, kini menjadi sumringah, senang karena Zahra bersedia membantunya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Zahra memasuki ruangan Abi, ruangan yang tidak terlalu besar namun tetap tertata rapi, siapapun yang berada disini akan betah dan semangat bekerja.
Abi tidak menyadari jika Zahra sudah berada di ruangannya, dirinya masih fokus berkutat dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Bi, aku minta data keuangan dong, aku harus setor laporan hasil pemasukan bulanan, " kata Zahra tiba-tiba bersuara.
Abi terhenyak kaget, dia mengalihkan pandangannya dari komputernya.
"Loh Zahra, aku kira kamu sudah tidak kerja lagi disini... kan kamu udah jadi nyonya Devan Arprana, " timpal Abi sedikit menyelipkan candaannya.
"Ck! apaan sih bi, aku tuh ikut membantu pekerjaan suamiku, " decak Zahra tidak ingin menyombongkan diri.
"Daripada nanti nyari asisten pribadi lain... trus tidak bisa jaga hati jaga mata gimana... mata lelaki itu ya, kalo ngeliat cewek berbodi gitar spanyol dikit, heeem... tidak mau berkedip sama sekali, " tambahnya.
Abi hanya tersenyum kecut "*Curhat salah sasaran*, " batin Abi menggelengkan kepala.
"Ya udah, kalau gitu aku mau ke ruang Administrasi dulu ya, " pamit Abi.
"Tunggu bi! " panggil Zahra
Merasa terpanggil, Abi berhenti dan menoleh sejenak.
"Ini, sekalian kamu bantu aku untuk kembalikan tas Lia ya, tadi aku meminta sedikit parfumnya, eh tasnya ketinggalan. "
Zahra sengaja beralasan agar Abi bisa berkomunikasi dengan Lia.
*Flashback on*
"Lia kamu bawa make up nggak? " tanya Zahra.
"Waduh, ada di tas Ra, bentar ya aku ambil dulu. " Lia bergegas mengambil tas di ruangannya.
Dua menit kemudian...
Lia kembali dengan membawa tas di tangannya, "Nih, kamu cari sendiri ya, " ujar Lia.
Ara menyusul Lia dengan nafas yang terengah-engah, "Kak Lia! pak Doni sudah masuk ke ruangan! ayo cepat! " Ara menarik lengan Lia kuat-kuat.
"Tapi, tas aku..., "
"Udah tidak apa-apa Li, biar nanti aku balikin ke ruangan kamu, " sela Zahra memotong perkataan Lia
Lia dan Ara berlalu pergi dari Ruangan Zahra
*Flasback off*
Zahra tersenyum, akhirnya, rencananya untuk membuat Abi dan Lia bertemu akhirnya berhasil juga.
__ADS_1
Mungkinkah Abi berhasil mengetuk pintu hati Lia yang sekeras batu? Ikuti terus kisahnya ya! Terima kasih 😊🙏
..