
Jarum jam menunjuk ke angka 5, Devan mengemas barang-barangnya dan cepat pulang. Zahra berfirasat aneh, seperti ada sesuatu yang akan menimpa Devan, Zahra taku, bila terjadi apa-apa kepada kekasihnya itu.
"Pak_, " panggil Zahra, menghentikan Devan melangkah.
"Ada apa Ra?" tanya Devan berbalik menoleh ke arah Zahra.
"Bapak sebaiknya jangan menaiki mobil ini pak " jawab Zahra, entah mengapa firasatnya mengatakan jika akan terjadi sesuatu pada mobil yang akan di kendarai Devan itu.
"Emangnya kenapa Ra? " Devan bertanya lagi, tidak biasanya Zahra melarangnya seperti ini, apalagi tampak raut muka khawatir dari muka Zahra.
"Saya merasa, mobil ini tidak beres pak," jawab Zahra, hatinya gelisah sedari tadi tanpa alasan yang begitu jelas.
Devan mengulum senyum ke arah Zahra. "Tenang, kebetulan, mobil ini sudah saya servis kemarin siang, " kata Devan sambil mengelus bahu Zahra, kekasihnya itu, tak mau membuatnya lebih khawatir lagi.
"Tapi pak_," jawab Zahra, dirinya tercekat karna Devan menempelkan jari telunjuknya, Zahra menatap Devan dengan tatapan yang begitu dalam.
pada zahra. "Sayang, aku mau pulang ke rumah, bukan ninggalin kamu, " tukas Devan, membelai kepala Zahra, dia tahu Zahra khawatir kepadanya, tapi Devan berusaha sekeras mungkin meyakinkan, bahwa dirinya akan baik-baik saja.
"Gimana nanti kalau bapak kenapa-napa di jalan pak? " tanya Zahra, mengerucutkan bibirnya.
"Kok gitu sih..., doain yang baik-baik aja dong, " jawab Devan memegang kedua tangan Zahra dengan lembut.
"Semoga, bapak selamat sampai rumah, " ujar Zahra, dalam hati dia mengaminkan ucapannya itu.
Devan tersenyum, di peluknya Zahra seolah ingin pergi jauh darinya. "Gitu dong, kan saya tidak takut lagi, " ucap Devan, tersenyum ke arah Zahra.
Zahra menganggukkan kepalanya, dia masih tenggelam dalam pelukan Devan.
Zahra tak berkutik, ia hanya bisa terpaku melihat Devan masuk mobilnya.Sebelum mengemudi, Devan sempat lambaikan tangannya pada Zahra sambil tersenyum, Zahra membalas senyuman Devan.
__ADS_1
Zahra berlari pulang ambil motor, dia mengikuti di belakang mobil Devan dengan motornya, ia takut terjadi sesuatu kepada Devan, Firasatnya makin kuat saja, entah karena panik atau entah apa penyebabnya, sungguh tidak jelas.
tepat di tikungan jalan, mobil Devan melaju kencang sekali, Zahra berteriak pada Devan, agar Devan bisa mendengar suaranya.
"Pak! hati-hati, injak rem mobilnya pak! jangan terlalu ngebut! " teriak Zahra, Devan membalasnya dengan acungan jempol sambil tersenyum ke arah Zahra, ia terus injak rem, tapi mobil terus saja melaju kencang dan mengeluarkan asap mengepul dari depan, Devan langsung saja menjadi panik.
"Ra! remnya blong Ra! " teriak Devan, ia terus menarik rem tangan, tetap saja nihil Devan menabrakkan mobilnya ke pohon 'Braak! Sriiiit' Devan terpental keluar dari mobil dengan keadaan bersimbah darah terhuyung jatuh ke aspal jalanan.
"Devaaaan!" teriak Zahra, ngerem mendadak motornya agar berhenti, Zahra tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan Devan dari kecelakaan itu.
Zahra segera turun dari motor dan lari menghampiri Devan "Pak Devan, bangun pak, bangun" Zahra menggoyangkan tubuh Devan, berharap Devan segera bangun, Zahra menitikkan air mata tak sanggup melihat kondisi Devan yang lemah tidak berdaya.
B eberapa warga disitu membantu membawa Devan ke rumah sakit terdekat "Neng, ayo bawa dia di bawa ke rumah sakit di dekat sini, " ajak warga sekitar.
Di sekanya air matanyanya, Zahr bangun dan membiarkan warga membawa Devan ke rumah sakit, agar segera mendapat pertolongan medis.
Zahra mengusap wajahnya kasar, dia mengintai Devan dari balik kaca, sesak rasanya hati Zahra, melihat orang yang ia cintai harus terbaring lemah tak berdaya, "*Saya kan sudah bilang pak, jangan menaiki mobil itu.., kenapa bapak masih kekeh juga sih pa*k, " batin Zahra, air matanya jatuh kembali membasahi pipinya.
"Itu akibat bila kamu tidak mau tinggalkan devan, " celetuk Dita yang sudah berada di samping Zahra. "Kamu_ ," Zahra mengepal tangan bersiap menyerang Dita, matanya memerah memendam amarah.
"Iya, aku juga yang sabotase mobil Devan, kalau kamu tetap tidak mau tinggalkan dia, maka kamu juga tidak akan memilikinya sampai kapanpun," kecam Dita, mendelik ke arah Zahra
Zahra menarik kerah baju Dita "Kenapa kamu tega melakukan ini! " bentak Zahra matanya mendelik ke arah Dita ingin sekali rasanya Zahra menonjok nya sekarang juga, jika Dita masih mencintai Devan tidak seharusnya dia membuat Devan celaka seperti ini.
"Itu karna kamu tidak mau jauhin dia Ra, kalo kamu ingin nyawa Devan selamat, tinggalkan dia sekarang juga, tapi semua terserah kamu Ra, lebih memilih cintamu atau nyawa Devan sebagai taruhannya " ujar Dita dengan penuh percaya diri
Zahra tercekat tidak bisa berkata apa-apa, di liriknya Devan yang sedang di tangani dokter.
__ADS_1
"Ayo jawab, kamu lebih memilih cintamu atau nyawa Devan, " tukas Dita, antusias sekali menunggu jawaban Zahra.
"Aku_, " ucap Zahra, suaranya seperti tercekat di tenggorokannya.
"*Cepat katakan Zahra, jika kamu mau tinggalkan Devan*, " batin Dita percaya diri sekali.
"Maaf, pasien butuh tranfusi darah segera! " teriak dokter tergesa-gesa keluar dari ruangan Devan.
Di abaikannya Dita, Zahra langsung menghampiri dokter.Baginya kesehatan Devan lebih penting daripada menuruti permintaan konyol Dita itu. "Saya siap mendonorkan darah saya dok, " celetuk Zahra.
"Apa mbak bergolongan darah O? " tanya sang Dokter, Zahra menggeleng, dia bingung harus mencari kemana lagi orang yang golongan darahnya sama dengan Devan.
"Saya golongan darahnya O dok, saya ingin donorkan darah saya, " celetuk Dita, Zahra terkejut Dita mau mendonorkan darahnya untuk Devan, beruntung disaat genting begini, Dita masih mau menolongnya.
"Baiklah, ikut saya ke lab "ajak dokter. Zahra mengatupkan kedua tangannya, karena Dita sudah sepenuh hati mendonorkan darahnya untuk Devan.
"Terima kasih, Mbak sudah berbaik hati mau donorkan darah untuk pak Devan, " ucap Zahra, tiada hentinya berterima kasih pada Dita.
"Saya akan donorkan darah saya hanya ketika kamu mau tinggalkan Devan " ujar Dita, dia tidak mau menolong secara cuma-cuma saja.
Dita mengikuti dokter untuk cek darah "Jika cintaku membuatmu terluka, aku rela pergi dari hidupmu selamanya, " batin Zahra, ada sedikit kesedihan yang tak terungkap dalam benaknya.
Zahra mengintai Devan dari balik kaca, tetes demi tetes air mata yang sedari tadi di tahan, kini berhasil jatuh basahi pipi, berat sekali hati Zahra, namun mau tidak mau harus dia lakukan demi keselamatan Devan, sang kekasih.
Zahra terus memandangi kaca seolah-olah tak ingin berpaling dari sana.
"Neng, kamu pulang dulu ya, semoga dia cepat di beri kesembuhan..., " pamit salah satu warga yang membantu Zahra tadi.
"Terima kasih Pak, saya mohon doanya ya, " ucap Zahra, merekapun pulang ke rumah masing-masing, sedangkan Zahra duduk kembali menunggu Devan sadar.
__ADS_1
"Ra_ " sapa seseorang sambil mengelus bahu Zahra.
_Bersambung_