
Gino masuk ke rumah Devan, saat itu sepi sekali, tak ada orang di rumah, 'sreek' gino menginjak sesuatu di kakinya, dia terhenti sejenak menajamkan mata, di ambilnya sesuatu yang terinjak tadi "Foto, " batin Gino
Gino memandang foto separuh itu, tampak jelas disana ada seorang pria paruh baya sedang menggendong bayi.
"Bayi siapa ini, " umpat Gino dalam hati, sangat penasaran sekali siapa pria paruh baya yang tampan itu.
Bu Alika merampas foto itu dengan cepat membuat Gino semakin kebingungan saja "Foto siapa itu Tante? " tanya Gino, beranikan dirinya menanyakan perihal foto itu pada bu Alika.
”Itu foto saudara Tante yang sudah lama meninggal Gino, " jawab Bu Alika lagi dan lagi berkilah, tak ingin membuat Gino penasaran jika foto itu adalah foto ayahnya dan bayi yang di gendongnya itu adalah gino.
Bu Alika bergegas pergi, tak ingin di tanya lebih lanjut lagi oleh Gino tentang foto itu, dia akan memberitahu Gino jika sudah tepat waktunya.
Ketika ada kode rahasia, tak lengkap rasanya jika Gino tak mencari tau, jiwa detektifnya itu seketika berkobar membara dalam benaknya. Sehebat apapun menyembunyikan sebuah kebohongan, kebenaran pasti terungkap.
Gino datang ke ruang kerja pribadi pak jefri di lantai dua "Masuk, " teriak Pak Jefri setelah pintu di ketuk oleh Gino.
"Sibuk ya om, " sapa Gino berbasa-basi takut jika mengganggu pekerjaan pak Jefri.
Sebenarnya, Gino takut menanyakan hal ini pada pak Jefri.Namun, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya di benak Gino.
"Nggak juga gin,tumben kesini," jawab Pak Jefri, Gino hanya mengulum senyuman, ragu sekali untuk mengatakannya pada pak Jefri, tak seharusnya ia mencampuri urusan orang.
Pak Jefri mengernyitkan dahinya, bingung dengan sikap aneh Gino yang mondar-mandir di ruangannya, seperti ada yang ingin di bicarakan.
"Nggak pak, saya hanya ingin melihat bapak saja, " jawab Gino beralasan entah mengapa, lidah Gino terasa berat sekali mengatakannya.
"Eum, apa istri bapak tante Alika memiliki saudara laki-laki pak? " pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Gino.
Pak Jefri terlihat sedikit berfikir sejenak. "Sepertinya, tidak ada gin, " jawab Pak Jefri.
Rasa penasaran Gino semakin menjadi-jadi. Sayang, jika tidak mencari tahu dahulu. "Terima kasih, Pak! " ucap Gino.
__ADS_1
Gino keluar dari ruangan pak Jefri, dia mengendap-endap masuk ke kamar bu Alika, agar tidak ada yang mengetahui "Aku yakin, pasti menemukan sesuatu disini, " kata Gino berbicara pada dirinya sendiri.
Mata Gino fokus menyapu seisi kamar, yang pertama kali menarik perhatian Gino adalah lemari kaca berwarna putih salju dengan dua laci di bawahnya
Gino tergelitik untuk membuka lemari itu. Baru saja membuka lemarinya, sebuah baju bayi warna biru tua bergambar perahu jatuh ke tangan Gino "Ini kan, baju yang di pakai bayi di foto itu, " batin Gino terus menatap baju itu
Gino membalik baju itu, dia menemukan tulisan 'G' tepat di sisi lengan baju itu.Gino meletakkan kembali baju bayi itu, menutup lemarinya rapat-rapat
'Braak' sebuah buku Diary jatuh mengenai Gino, di ambilnya diary itu oleh Gino. "**Gak ada salahnya aku membuka buku diary ini** " batin Gino, tertarik sekali hatinya untuk membuka buku itu.
Mata Gino membulat sempurna melihat foto bayi mungil lengkap beserta namanya tertulis dalam halaman pertama diary itu.
{Name: Afgino Zaykas Martin Wijaya
birth:23 April 1994 }
Gino merobek halaman pertama diary itu, di simpannya dalam saku.Gino meletakkan diary itu ke tempat semula, dengan cepat Gino keluar dari kamar bu Alika.
...****************...
Kepulangan Gino di sambut oleh ibunya "Gino,kok udah pulang? katanya ada urusan di kota? " tanya Bu Misha, mengerutkan dahinya.
Gino masih terdiam sejenak, tak menjawab pertanyaan ibunya itu, emosinya belumlah stabil untuk bicara.
"Bu, tolong jelaskan,ada hubungan apa aku dengan pak Jefri Arprana dan bu Alika? "tanya Gino, matanya penuh gumpalan air, di tahan agar tidak jatuh.
Bu Misha tersentak kaget Gino menanyakan itu, dia berusaha mencoba tenangkan Gino "Gino, mending kamu duduk dulu, " ajak Bu Misha
Gino menepis tangan bu Misha, menolak untuk duduk, Gino benar-benar tak habis fikir mengapa ibunya menyembunyikan semua ini. "Jangan berbasa-basi Bu, kataka, " pekik Gino, suaranya seperti tercekat di kerongkongan.
__ADS_1
Bu Misha menyerah, di helanya nafas panjang-panjang, mata wanita itu menatap gino dengan tatapan begitu syahdu.
"Aku ini sebenarnya bukan ibu kandung mu Gino, Alika ibu kandungmu ..., aku adalah Tantemu Gino, " jawab Bu Misha, bulir bening perlahan membasahi pipinya.
"Apa? jadi pak Jefri adalah ayahku? " tanya Gino lagi, mengulik lebih jauh tentang indetitas ibu kandungnya.
"Bukan, kamu adalah anak Alika dan Irfan Adi Wijaya, ayahmu meninggal gara-gara kecelakaan yang menimpanya, ibumu nikah lagi dan memiliki anak yang kamu kenal sekarang, " jawab Bu Misha.
"Apa anak itu Devan? Jadi aku di telantarkan, di buang oleh ibu kandungku sendiri karena Devan? " tanya Gino, tak menyangka ternyata dia memiliki ibu yang tak punya hati nurani sama sekali.
"Bukan hanya itu Gin, pak jefrilah yang sengaja membuat ayahmu kecelakaan, dia terobsesi sekali untuk memiliki ibumu, " jawab Bu Misha tak sanggup lagi mengingat kejadian itu.
Pak Irfan Adi Wijaya adalah sahabat baik bu Misha sejak mereka masih SMA, bu Misha juga yang mengenalkan pak Irfan pada sang kakak agar suatu saat nanti bisa menjadi saudara ipar.
"Apa! " teriak Gino, semua di luar dugaannya, orang yang selama ini baik padanya, ternyata menyembunyikan kebusukan dan kejahatan yang luar biasa.
...----------------...
Gino kembali ke rumah Devan mengambil semua pakaiannya yang tertinggal disana. "Gino, darimana saja kamu? " tanya Pak Jefri dengan raut muka panik, takut Gino kabur dan batalkan kerjasamanya.
"Kenapa anda khawatir sekali pak? jelas-jelas saya bukan pecundang seperti anda! " ketus Gino, menatap nyalang pada pak Jefri, pria paruh baya yang membuat keluarga kecilnya hancur.
.
"A-apa maksud kamu Gino? kenapa kamu mengatai saya ini pecundang? " tanya Pak Jefri gugup, tak mengerti maksud ucapan Gino.
Gino menghela nafas panjang, hatinya begitu remuk harus berhadapan dengan pria yang telah tega membunuh ayah kandungnya. "Bukankah anda tega membunuh Irfan Adi Wijaya, ayah saya? " tanya Gino, membuat nyali pak Jefri ciut seketika.
Pak Jefri mendelik kaget. "Ja-jadi kamu anak Irfan, " tukas pak Jefri gugup, sangat merasa bersalah begitu tega membuat seorang anak kehilangan ayahnya.
"Bapak membuat saya tumbuh tanpa seorang ayah, bagaimana jika ayah saya melakukan hal yang sama pada Devan pak, "pekik Gino, berhasil membuat pak Jefri terdiam.
__ADS_1
Pak Jefri hanya pasrah apapun yang di katakan Gino, dia bukan hanya menyebabkan seorang istri kehilangan suaminya, tapi juga menyebabkan sang anak yang tidak berdosa kehilangan ayahnya
_Bersambung_