
Devan sejenak merasakan kepalanya pusing sekali, di pegangnya pelipisnya sambil meringis kesakitan.
Melihat Devan kesakitan, tentu saja Zahra khawatir.Di pegangnya kedua pundak Devan, "Pak... Bapak kenapa? " tanya Zahra terus memandangi Devan.
Devan mengangkat tangannya, "Jangan khawatir... saya baik-baik aja kok, " jawab Devan tidak ingin membuat sang kekasih mengkhawatirkan kondisinya.
"Ya udah, Bapak pulang ke rumah saja ya Pak.. Istirahat di rumah. "Zahra menyarankan Devan istirahat di rumah hari ini, tidak usah ke kantor.
"Tapi Ra... "
"Pak, muka bapak pucat sekali, Bapak sakit sepertinya, jangan terlalu memaksakan, " kata Zahra menyela ucapan Devan.
Dengan berat hati, Devan menuruti Zahra, dia membebaskan Miko terlebih dahulu.
"Zahra, kamu jangan khawatir, biar aku yang membawakan mobil Devan, kamu sama Devan ikut mobil papa sama mama saja, aku takut terjadi apa-apa sama Devan jika dia di biarkan menyetir sendiri, " tukas Miko juga ikut khawatir pada Devan.
"Terima kasih ko, " ucap Zahra, dia memapah Devan menuju Mobil pak Afandi dan Bu cellin.
Zahra membiarkan Devan menyandar di bahunya, di pegangnya tangan Devan dengan erat menguatkan kekasihnya itu.
Mobil melaju pelan di ikuti Miko yang mengemudikan mobil Devan di belakang.
\=\=\=oooOooo\=\=
Sampailah mobil terhenti di depan halaman rumah Devan yang begitu luas, Zahra turun terlebih dahulu, guna memapah Devan sampai depan pintu rumah.
Zahra mengetuk pintu rumah Devan, keluarlah seorang perempuan paruh baya membukakan pintu, "Zahra, Devan kenapa? " tanya Bu Alika berganti memapah Devan.
"Saya kurang tau Ma...kepalanya tiba-tiba saja pusing, saya bawa pulang, " jawab Zahra.
"Terima kasih ya Ra, kamu nggak mau masuk dulu...." Bu Alika mempersilahkan Zahra mampir sejenak.
"Lain kali aja Ma, saya masih ada kerjaan di kantor... Kalo begitu saya permisi dulu Ma, " pamit Zahra kepada Bu Alika.
"Iya, hati-hati ya nak, " ucap Bu Alika.
Zahra berlalu meninggalkan rumah Devan, Zahra kembali ke kantor bersama Miko dan kedua orang tuanya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Waktu menunjukkan pukul empat sore, Zahra baru saja kembali ke kantor, "Kok kembali sendirian Ra? pak Devan mana? " tanya Abi celingukan mencari Devan.
__ADS_1
"Pak Devan tidak kembali, sepertinya dia sedang sakit...entahlah, aku tidak tau, " jawab Zahra berjalan melewati Abi.
Abi terus mengejar Zahra, "Trus Dita gimana? apa dia baik-baik saja? " tanya Abi.
Zahra menghela nafasnya berat, "Dita sudah meninggal bi... sekarang Miko bersama kedua orang tua kandungnya, " jawab Zahra menghentikan langkahnya.
"Apa? Miko bersama orang tua kandungnya? maksud kamu apa Ra? apa hubungannya Miko sama kematian Dita? " tanya Ara
Dia nyeletuk begitu saja tidak sengaja mendengar pembicaraan Zahra dan Abi.
"Kalau soal itu, kamu tanya saja pada suamimu indetitas Miko yang sebenarnya, " jawab Zahra tidak punya waktu untuk menjelaskan semuanya pada sahabatnya itu.
Jawaban Zahra tentu saja membuat Ara penasaran, Ara belum cukup puas dengan jawaban itu.
"Bi... bisakah kamu memberitahu secara detail kepadaku? " tanya Ara, hanya Abi harapan satu-satunya yang bisa menjawab rasa penasaran Ara.
"Miko hampir membunuhku Ar, dia sudah masuk penjara... Dita ingin menolong Miko agar bebas, naasnya... Takdir berkata lain, Dita mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat, " jawab Abi menceritakan semuanya pada Ara.
"Lantas, apa hubungan Miko dengan Dita?. " Ara mengulik lebih dalam lagi tentang Miko.
"Dia bayi yang di adopsi keluarga suamimu dari panti asuhan, menurut informasi... Dia di tinggalkan disitu karena kedua orang tuanya kesusahan ekonomi, " jawab Abi terang-terangan.
Ara menutup mulutnya dengan tangannya, dia masih belum percaya Miko bukanlah adik kandung suaminya.
Ara masih terdiam seperti patung di lobi kantor, dia merasa sedikit kecewa mengapa suaminya tidak pernah mengatakan yang sebenarnya kepada Ara.
"Ara, ngapain kamu disini? " tanya Lia membuyarkan lamunan Ara.
"Tidak kak, aku hanya mencari angin segar saja, kebetulan...cuaca sore ini sangat begitu mendukung, " jawab Ara berkilah, dia lebih baik memendam sendiri kekecewaannya.
Lia dan Ara berjalan bersamaan menuju ruang kerja, Ara masih terbayang perkataan Abi tadi merasa di bohongi oleh suaminya.
Entah berapa banyak rahasia lagi yang belum Ara ketahui tentang keluarga suaminya, Ara benar-benar sangat kecewa.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Di rumahnya, Devan berpakaian rapi, setelah pusingnya mereda Devan memeriksakan kondisinya ke rumah sakit
Devan memakai baju setelan kemeja lengan panjang berwarna biru tua di padukan dengan celana jeans berwarna abu-abu muda.
__ADS_1
Devan di tangani oleh Dokter Edi, teman kuliahnya di Australia dulu, "Gimana keadaanku Di? " tanya Devan penasaran.
Dokter Edi menatap Devan dengan tatapan sejuk, senyuman terukir di bibirnya, "Kita tunggu hasil labnya saja Van, sebentar lagi juga keluar, " jawab Dokter Edi.
Selang satu jam menunggu, Dokter Edi kembali dengan membawa selembar kertas hasil laboratorium Devan.
"Gimana Di? " tanya Devan begitu antusias ingin mengetahuinya.
Dokter Edi menatap Devan dengan tatapan sayu, berat sekali bibirnya mengatakan semua ini kepada sahabatnya itu, "Kamu diagnosis menderita kanker otak" ucap Dokter Edi perlahan.
'Degh' seperti di sambar petir, Devan termenung mendengar jawaban temannya itu, "Apa penyakitku ini bisa di sembuhkan Di? Aku ingin hidup lebih lama melihat mama bahagia " tanya Devan menatap Dokter Edi dengan tatapan nanar.
Dokter Edi menepuk pundak Devan, "Bisa, dengan cara kemoterapi, tapi tidak menjamin kamu akan sembuh seratus persen, kita berdoa saja...semoga ada keajaiban, " jawab Dokter Edi mengulum senyum kepada Devan.
"Ya sudah, kalau begitu aku permisi dulu, " pamit Devan.
"Iya, ini resep obat yang perlu kamu tebus di apotik, " tukas Dokter Edi memberikan kertas laporan hasil laboratorium kepada dan resep obat kepada Devan.
"Terima kasih Di, " ucap Devan beranjak dari tempat duduknya dan berlalu keluar.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Devan tidak percaya, penyakitnya bisa separah ini, haruskah dia meninggalkan orang-orang yang dia sayangi. Bagaimanapun, Devan harus kuat melawan penyakitnya ini.
Devan segera menuju apotik sebelum malam, dengan tergesa-gesa, Devan berlari menuju apotik.
\=\=\=\=oooOooo\=\=\=
'Bruk!' Devan bertabrakan dengan Miko, kertas yang di bawanya berserakan jatuh ke lantai.
Miko menatap Devan sejenak, dia jongkok mengambil kertas itu dan membacanya, "Van, kamu mengidap penyakit kanker? " tanya Miko mengerutkan dahinya, berharap dia salah membaca.
Miko memegang kedua pundak Devan yang tertunduk "Van! jawab aku Van! " teriak Miko, mengoyak tubuh Devan agar menjawab pertanyaannya.
Devan menitikkan air matanya, bibirnya bergetar seolah tidak sanggup mengatakannya, "I-iya ko... aku menderita kanker otak, tolong jangan katakan kepada siapapun, " jawab Devan air matanya menitik semakin deras membasahi pipinya.
Miko memeluk Devan, dia begitu iba terhadap Devan, "Kamu harus kuat demi Zahra Van! " tukas Miko
Devan melepas pelukannya, di sekanya air mata yang membasahi pipinya, "Bolehkah aku meminta sesuatu darimu? " tanya Devan.
Miko mengangguk, dia siap membantu Devan semampu dia.
__ADS_1
"Jika aku tiada nanti, aku titip dia..jaga Zahra, sayangi Zahra...seperti aku menyayanginya, " tukas Devan.
"Tidak Van! kamu pasti sembuh! " tukas Miko memeluk Devan kembali, Miko sadar jika hanya Devanlah cinta sejati Zahra.