ZAHRANA

ZAHRANA
Menghindar


__ADS_3

  Zahra terdiam sendiri di butik, dia tercengang merasakan gemuruh hebat dalam hatinya, bagaimana tidak, pria yang ia lupakan selama tiga tahun ini hadir kembali dalam hidupnya.


      Dia memang sengaja meninggalkan cafe itu untuk menyembunyikan ekspresi kagetnya.


Devan masuk ke dalam butik itu mencari baju yang pas untuk dirinya, mata Devan berbinar kala melihat setelan tsirt dan celana jeans yang begitu selaras dan cocok bila di pakainya


.


Devan mengambil baju itu dan membayarnya di kasir, dia berpapasan dengan Zahra, namun Zahra sama sekali tidak menatapnya.


"Saya mau bayar ini..., "


"Nindi! layani dia ya! saya lagi sibuk! " teriak Zahra pada karyawannya tanpa menghiraukan Devan.


Zahra pergi menyingkir dari kasir menghindari Devan, ia juga melayani customer lainnya.



"Totalnya seratus lima belas ribu ya, " pungkas Nindi menota seluruh belanjaan Devan.



Devan buru-buru merogoh sakunya, memberikan empat lembar uang seratus ribuan pada Nindi.


"Pak kembaliannya, " kata Nindi


"Nggak usah Mbak, buat Mbak aja, " tolak Devan, ia buru-buru mengejar Zahra.


"Tapi Pak..., "



Baru saja mendongak, pria itu sudah tidak ada.



\=\=\=oooOooo\=\=\=\=



"Apa ini cara kamu menghindar dariku? " tanyah Devan berucap lirih di telinga Zahra.



Zahra yang mendengar semuanya, seolah jantungnya ingin lepas dari rongganya, dia berusaha tetap tenang, tidak menunjukkan ekspresi terkejutnya di depan Devan.



"Ya, untuk apa aku harus berlama-lama denganmu, hanya akan membawaku ke jurang rasa sakit yang teramat dalam bagiku, "



Perkataan Zahra menusuk bagai belati di dada Devan, dia tahu jika selama tiga tahun Zahra bisa berubah, bodohnya Devan masih memiliki perasaan yang sama.



Zahra perlahan menjauh dari Devan, masa bodo dengan apapun yang Devan pikirkan tentangnya, Zahra tidak peduli.



Kenyataannya, Devan sudah menikahi orang lain, itu artinya sudah tidak ada lagi tempat dan ruang bagi Zahra di dalam hati Devan.

__ADS_1



Zahra baru saja bangkit dari keterpurukan dan rasa sakit hatinya, kini semua hancur lebur bagaikan abu semenjak dirinya bertemu Devan kembali.



Devan hanya termenung melihat punggung wanita yang di cintainya itu, ada sesak yang kian menggelora di benak Devan.


Gino menepuk bahu Devan, "Sudahlah, perlu waktu bagi dia melangkah sejauh ini... biarkan waktu dan keadaan yang akan menyatukan dirimu dan dirinya, "


Devan menganggukkan kepalanya, perkataan Gino ada benarnya juga, Devan tidak bisa memaksa mantan istrinya itu untuk kembali rujuk kepadanya, semua butuh waktu dan proses.



Devan mengajak Gino pergi dari butik itu, Gino mengangguk mengiyakan ajakan Devan.


***


Zahra menatap kepergian Devan dan Gino dari gorden jendela, sejujurnya dia sangat merindukan pria yang dulu menjadi suaminya itu, tapi rasanya dia tidak bisa menorehkan perasaan rindunya, karena Devan sekarang sudah bukan siapa-siapanya lagi.



Perlahan, mobil Devan melesat jauh hilang dari pandangannya, Zahra segera menutup kembali gorden jendela.


"Zahra, " panggil seseorang di belakang, lamunan Zahra seketika menjadi ambyar.


"Eh Fani, sejak kapan kamu disini? " tanya Zahra berusaha menyeka air matanya.


"Baru saja kok... kamu habis nangis ya, " tuding Fani usai melihat Zahra mengusap air matanya.



"Nggak kok, cuma kelilipan aja, "




"Ra... aku mengenalmu sudah lama, dari mata kamu aja, sudah terlihat jika kamu berbohong... ceritalah! aku siap mendengarkan ceritamu, " pungkas Fani.



"Apa kamu tidak keberatan? " tanya Zahra.


"Ya sudah, jika kamu tidak percaya padaku, tidak apa... aku tidak memaksamu untuk cerita, " jawab Fani sekenanya.


"Tidak! " Zahra mencekal lengan Fani agar tidak pergi.



Ya, selama bercerai dengan Devan, Zahra memang lebih dekat dengan Fani, dialah yang menemani Zahra disaat masa sulitnya, bahkan Fanilah yang membantu Zahra menanam modal untuk butiknya.



Walau dekat dengan Fani, Zahra masih saja tidak punya perasaan apapun pada Fani, dia hanya menganggap Fani sebagai teman tidak lebih dari itu.



Tidak tahu mengapa, Zahra masih belum membuka juga hatinya untuk Fani, padahal pria itu sangatlah baik pada Zahra, di bandingkan dengan Devan yang hanya terobsesi akan cintanya Zahra.


Fani mengulum senyum kepada Zahra, "Sudahlah... kata-kataku tadi tidak usah di pikirkan, fokus saja dengan apa yang kamu tuju, "

__ADS_1


Fani tidak ingin membebani Zahra dengan perkataannya tadi, tidak mudah bagi Zahra untuk menceritakan segala keluh kesahnya pada Fani, terlebih Zahra menganggapnya hanya sebagai sahabat saja tidak lebih.


Walau hanya di anggap sahabat, Fanipun juga ikut senang, yang penting bisa terus bersama Zahra. Sulit bagi Fani melupakan Zahra dalam hidupnya, rasa cintanya kepada Zahra yang begitu besar, membuat Fani tidak gentar untuk mendapatkan cinta Zahra kembali.



\=\=\=oooOooo\=\=\=\=



Di kantor, Devan masih terus memikirkan Zahra, pikirannya seolah-olah tidak pernah luput dari bayang-bayang wajah Zahra.



Andai saja jika Devan tahu pernikahannya akan gagal, dia pasti akan meminta Zahra untuk menunggu sedikit lagi, Devan juga tidak akan menyakiti Zahra lagi. Namun, nasi sudah menjadi bubur, harapan dan doa yang dulu selalu Devan panjatkan, kini hanya menjadi sakit yang mendalam dan ia tahan sendiri.



"Kok bengong? " tanya Fani.


"Ehm, tidak apa-apa, aku hanya tidak enak badan saja, " jawab Zahra berkilah, tidak ingin Fani terlalu mengkhawatirkannya.


"Ya sudah, masuklah! cuaca panas tidak bagus bagi kesehatan. " Fani meminta Zahra untuk masuk.


Zahra masuk bersamaan bersama Fani.



\=\=\=oooOooo\=\=\=


"Zahra, aku kali ini tidak akan mengajakmu pacaran lagi, aku akan langsung menemui orang tuamu untuk segera melamar, " pungkas Fani tiba-tiba.


"Kamu yakin dengan keputusanmu? " tanya Zahra sedikit membelalak, hatinya bagai tersambar petir mendengar perkataan Fani.



Fani mengangguk, dia juga sedang memantapkan hati untuk melamar Zahra, wanita yang sedari dulu dia cintai.


"Iya,"


Mulut berkata iya, tapi hati. Berkata tidak, hati Zahra kini masih di tempati oleh pria yang sama dan cinta yang sama oleh seseorang di masa lalunya, yaitu Devan.



Zahra memang bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta begitu saja, tapi sekali jatuh cinta, akan sulit untuk melepaskannya begitu saja.



\=\=\=oooOooo\=\=\=



Bu Nita hanya menatap senyum wajah putrinya itu ketika keluarga Fani sudah datang ke rumah, Bu Nita juga tidak ingin Zahra terus larut memikirkan Devan, Zahra berhak untuk bahagia dengan pria lain selain Devan.


"Mama serahkan semuanya sama kamu nak... kebahagiaanmu kamu sendiri yang tentukan, mama hanya mendoakan yang terbaik, semoga pernikahanmu kali ini langgeng dan lancar tanpa halangan, "


"Iya Ma... sebelumnya mohon maaf, saya memiliki masa lalu buruk dalam hidup saya, tidak mudah bagi saya menerima pria lain di hidup saya... sekali lagi maaf, saya belum bisa menerima lamaran Fani, "



Begitulah jawaban yang Zahra berikan kepada Fani dan keluarganya, itu lebih baik daripada Zahra memberi harapan palsu pada Fani, ia akan tambah menyesal.

__ADS_1


Akankah Devan dan Zahra rujuk kembali seperti dulu? Ikuti terus ceritanya ya! Terima kasih 😊🙏


.


__ADS_2