ZAHRANA

ZAHRANA
Tinggalkan anak saya!


__ADS_3

Zahra mendapat kabar jika ayahnya koma di rumah sakit. "Pak, saya izin pulang dulu,"izin Zahra, mondar-mandir terlihat gelisah


"Ada apa Ra? tumben kamu buru-buru pulang? " tanya Devan bingung melihatnya, dia juga ikut panik melihat Zahra.


"Ayah saya koma di rumah sakit pak, saya harus kesana " jawab Zahra begitu panik, dia ingin cepat ke rumah sakit sekarang juga ingin tahu kondisi ayahnya.


"Saya antar ya, biar cepat, " tukas Devan, Zahra setuju, dirinya ingin sekali sampai di rumah sakit, badannya sudah berkeringat dingin takut terjadi apa-apa pada papanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zahra lari terburu-buru turun dari mobil, Devan membuntuti di belakangnya, Zahra bergegas lari ke ruangan ayahnya. "Ma, gimana kondisi ayah ma? " tanya Zahra merasa panik sekali melihat kondisi ayahnya.


"Ayahmu koma nak, dia di dorong seseorang dari belakang, " jawab Bu Nita matanya sudah basah berkaca-kaca, tak sanggup ceritakan semuanya pada Zahra.


"Siapa yang mendorong ayah Ma? " tanya Zahra.Bu Nita melirik Devan, mata bu Nita memerah memendam sebuah amarah.


"Kamu! " bentak Bu Nita , di hampiri nya Devan yang sedang berdiri di depan pintu ruang rawat inap pak Ardi.


"Ma_, " ucap Zahra terjeda, entah kenapa mamanya begitu marah pada Devan.


"Diam Ra! Mama mau bicara dengan pria ini! " bentak Bu Nita berusaha menyeka air matanya.


"Lebih baik kamu tinggalkan anak saya, " tukas Bu Nita, menatap nyalang ke arah Devann.


"Ma, kok gitu? " tanya Zahra, dia tidak mengerti kenapa mamanya menuduh Devan seperti itu.


"Diam Ra! gara-gara tunangan pria ini, ayah kamu mengalami koma! " Bentak Bu Nita, Zahra menggeleng tak percaya begitu saja ucapan mamanya.


"Mama pasti bohong kan? " tanya Zahra, berharap mamanya hanya salah paham saja.


"Itu benar Ra, Mama liat sendiri Dita mendorong ayahmu hingga terjatuh, lalu koma, "jawab Bu Nita, Zahra terkejut mendengar nama Dita, bukan hanya Devan yang dia celakai tapi juga ayahnya.


Devan merasa bersalah pada Zahra dan juga keluarganya, kelakuan Dita sudah keterlaluan, mencelakai orang-orang yang tidak ada sangkut paut apapun dengan masalahnya.


"Gak apa-apa Ra, saya memang salah, saya harusnya bisa mencegah dita melakukan semua ini, saya minta maaf " tukas Devan, berbesar hati meminta maaf terlebih dahulu pada Zahra dan keluarganya.


...----------------...


Zahra mengikuti Devan keluar dari ruang ayahnya "Maafin perkataan mama ya pak, " ucap Zahra Devan mengelus pundak Zahra, tidak ingin menjauhkan hubungan ibu dan anak.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Ra, mamamu nggak salah, saya yang salah, " kata Devan berusaha tuk tersenyum walau dengan keadaan terpaksa, ada perasaan sedih di dalam benak hatinya ketika di minta untuk menjauhi Zahra.


"Bapak mau balik ke kantor? " tanya Zahra


"Iya Ra, "jawab Devan, dia lebih baik kembali ke kantor daripada disana hanya menggoreskan luka bagi bu Nita.


"Ya udah, hati-hati, makasih udah nganterin saya," ucap Zahra.


"Iya, "kata Devan, mengulum senyum ke arah Zahra, dia tetap harus bersikap tegar di depan wanita yang di cintainya itu.


Devan melangkah menuju parkiran dan mengemudikan mobilnya menuju kantor


...****************...


"Cukup Dita! aku gak akan biarin kamu terus menyakiti Zahra maupun keluarganya! aku sudah muak! "racau Devan di sepanjang jalan, sungguh di luar dugaan Devan, Dita akan nekat berbuat seperti ini setelah gagal mencelakainya.


Hatinya begitu panas mengingat perkataan bu Nita ketika di rumah sakit.Rasanya kesal, geram, marah bercampur aduk menjadi satu.


Devan mengusap wajahnya kasar sebelum turun mobil, ia tidak tahu harus berbuat apa. Turun dari mobil, langsung menuju ke uang kerja.


"Ada apa pak kok murung gitu? "tanya Abi saat Devan melewati ruangannya


"Pak, lebih baik kita bicarakan di ruangan bapak saja, " ajak Abi, tak ingin jika ada yang mendengar pembicaraannya dengan Devan.


"Ah iya, kamu benar, " kata Devan.Keduanya melangkah bersama menuju ruangan


...----------------...


". Sebenarnya ada apa pak? " tanya Abi membuka obrolan di antara mereka


"Zahra bi, " jawab Devan, termenung sejenak membayangkan tadi bagaimana marahnya bu Nita kepadanya, gara-gara Dita.


"Kenapa dengan Zahra? apa jangan-jangan Zahra hamil pak? " tanya Abi asal menebak sembarangan tentang Zahra, Devan menjitak kepala Abi.


"Aduh, sakit Pak, " rintih Abi, meringis kesakitan.


" ngawur kamu! Zahra nggak seperti itu bi, " jawab Devan, menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Lah, trus kenapa pak,? " tanya lagi Abi begitu penasaran apa yang terjadi, sehingga Devan bisa semarah ini.

__ADS_1


"Ayah Zahra koma karna di dorong oleh Dita " jawab Devan


"Wah, nggak bisa di biarkan pak, kita harus beri si Dita pelajaran pak, " tukas si Abi, dia juga tidak bisa membiarkan Dita terus mengganggu hidup Zahra.


"Caranya? " tanya Devan.Abi berbisik lirih di telinga Devan, dia menyusun semua rencana yang akan di lakukan pada Dita agar membuatnya kapok.


"Saya setuju bi, "celetuk Devan tersenyum, suka dengan ide brilian Abi.


"Kapan akan di lakukan? " tanya Abi, dia juga tidak sabar melihat Dita mengakui kesalahannya.


"Besok bi, saya akan ajak Dita kesini, saya yakin dita gak mungkin menolak ajakan dari saya, " jawab Devan, Abi tersenyum.


"Saya pastikan rencana saya berhasil membuat efek jera untuk Dita Pak, " ucap Abi.


"Terima kasih Bi, " ucap Devan, dia senang ada Abi yang selalu membantunya, Devan juga tidak akan tinggal diam jika sampai Dita mencelakai orang tua Zahra


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah sakit, Zahra memarahi mamanya karena memarahi Devan yang jelas tidak bersalah. "Ma, yang salah disini Dita Ma, bukan pak Devan, kenapa mama malah menyalahkan dia? " tanya Zahra.


"Karena Devanlah alasan Dita membuat ayahmu koma nak, kamu harus ingat itu! " bentak bu Nita.


"Nggak! bagi Zahra, pak Devan tetap tidak bersalah, tapi Dita yang salah! "Zahra tetap kekeh membela Devan di depan mamanya.


"Silahkan nak! bela dia sepuasnya! kamu akan menyesal jika nanti ayahmu tiada.


"Mama apa-apaan sih! ucapan Mama bisa jadi doa untuk ayah, seharusnya Mama doain ayah yang baik-baik saja Ma, " tukas Zahra.


"Lupakan Devan! mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian berdua, kamu boleh berhubungan dengan siapapun juga, tapi tidak dengan Devan! " bentak Bu Nita tak ingin berdebat dengan Zahra.


"Aku mencintai Devan Ma, kenapa sih, Mama tidak mengerti juga! " ketus Zahra.



"Zahra, Mama bilang sekali tidak, sampai kapanpun mama tidak akan pernah merestuimu! " bentak Bu Nita.


"Mama jahat! " bentak Zahra, dia berlalu keluar dari ruang rawat ayahnya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2