
Dita mendapat info dari Abi jika Devan sudah memiliki kekasih."Cari tau, saya tidak ingin biarkan mereka bahagia, " "titah Dita tangannya mengepal kuat tidak rela jika keduanya sampai bahagia.
pandangan mata Dita menyapu seisi resto tempat ia dan Abi bertemu."Baik bos, " tukas Abi menyesap jus apel yang di pesannya, Dita tiba- tiba tercekat menatap seseorang di samping kirinya, hatinya bergemuruh, sakit melihat pemandangan itu.
"Bos_, " panggil Abi mengibaskan tangan di depan mata Dita, melihat Dita termenung sendiri..
"Diam! " sahut Dita.
"Ada apaan sih memangnya bos? " tanya Abi.
"Lihat ke belakangmu, "jawab Dita, tersenyum simpul ke arah Abi.
"Waduh, saya gak bisa liat ke belakang bos, kan yang di belakang sudah tertinggal jauh ..., Saya lagi menatap ke depan bos " tukas Abi, belum mengerti maksud Dita menyuruhnya menoleh ke belakang.
Dita menjitak kepala Abi "Aduh! sakit bos! Kenapa malah mukul saya " ringis Abi kesakitan, memegangi kepalanya.
"Biar saja! biar kamu waras! tuh, di belakang ada Devan sama Zahra, sepertinya mereka pacaran," kata Dita, Abi ikutan menoleh ke belakang, Abi baru mengerti jika di belakang ada Zahra dan juga Devan, Abi memalingkan mukanya agar Devan tidak mengetahui jika dia sedang bersama Dita di resto yang sama.
"Kalo di lihat, kayaknya mereka beneran pacaran deh bos, di kantor si Devan malah ngamuk kalo saya deketin Zahra" timpal Abi, menyesap jus alpukat yang di pesannya tadi.
"Pintar ya Zahra, setelah kamu bongkar semua rahasiaku, dia malah kamu rebut Devan dariku, aku gak terima ini semua! " racau Dita, ngedumel sendiri seperti orang yang tidak waras.
"Bos_" panggil Abi, lirih sekali agar Devan tidak mendengar suaranya.
"Apa! "sahut Dita, memutar bola matanya jengah
"Bukannya Devan putusin bos karna ulah bos sendiri ya, yang selingkuh sama bang Alex, kenapa bos nyalahin Zahra? " tanya Abi, entah mengapa hatinya tidak terima jika Zahra terus di salahkan oleh Dita.
"Berani kamu membela dia di depan saya! " bentak Dita, semakin kesal dengan perkataan Abi yang seolah-olah membela Zahra.
"Bukan membela bos, jangan sampai salah sasaran "ucap Abi berulang kali ingatkan Dita agar tidak gegabah menuduh orang yang tidak bersalah.
" Saya gak mungkin salah sasaran, " kata Dita, dengan angkuhnya berkacak pinggang di depan Abi.
"Memang apa rencana bos untuk hancurkan Zahra? " tanya Abi penasaran, takut Dita akan membuat keributan di kantor Devan.
__ADS_1
Dita hanya tersenyum simpul."Liat saja nanti, apa yang aku lakukan, " tukas Dita, ia tak akan membiarkan Zahra bahagia bersama Devan
"Ya udah deh, terserah bos, tapi jangan sampai ada yang di rugikan bos, " kata Abi, tak ada hentinya mengingatkan Zahra.
"Kamu pikir saya sebodoh itu! " bentak Dita, yakin jika rencananya yang satu ini akan berhasil tanpa mengandalkan siapapun.
...----------------...
"Kenapa sih, mbak Dita muncul lagi setelah sekian lama hilang di telan bumi " Friska membuka obrolan saat sarapan di kantin bersama mbak Ella, dia sudah tampak emosi sekali membahas Dita.
"Masak sih Fris? "tanya Mbak Ella sambil menyeduh kopi hitam yang masih mengepul.
"Iya, pak Devan kan udah punya kekasih, gak mungkin dia mau kembali " jawab Friska, dia juga marah dengan hadirnya kembali Dita di kehidupan Devan, tapi tak ada hak untuk marah pada Dita, dia bukan siapa-siapanya Devan.
"Pagi semua! " sapa Zahra, ia tadi memang belum sarapan.tapi karna bertemu mereka, tidak ada salahnya ikut nimbrung juga disana.
"Lagi gibahin apa sih? heboh banget? " tanya Zahra, ikut duduk tepat di sebelah Friska.
"Itu loh Ra, mbak Dita ingin kembali ke pak Devan " jawab mbak Ella.
Zahra hanya termangu diam sejenak, batinnya menyeruak di selimuti rasa takut, takut akan kehilangan Devan yang sangat ia cintai.
"Aku gak apa- apa kok Fris, " jawab Zahra santai, dia tidak mau terlalu ekspresif jika dia sedang cemburu Dita ingin kembali pada Devan setelah mengkhianati Devan.
Dita menemui Zahra di kantor. "Ada apa lagi Mbak, saya udah gak ada urusan lagi sama mbak! " cetus Zahra, ia tak suka ada yang mengganggunya kerja, dia ingin bekerja dengan tenang dan nyaman tanpa gangguan sedikitpun
"Tinggalkan devanku, atau aku akan_, " perkataan Dita terhenti
"Akan apa mbak? " tanya Zahra menyela perkataan Dita, dia lelah, jika hidupnya terus di bayang-bayangi Dita.
"Atau kau akan menderita, " jawab Dita, dia yakin Zahra pasti tidak mau menderita hanya karna Devan.
"Saya rela menderita demi pak Devan mbak, karna saya tulusmencintai pak Devan tidak seperti mbak yang bisanya menghianati dan menguras harta pak Devan " kata Zahra tegas dan berani menskakmat Dita.
Dita geram, ingin melayangkan tamparan pada Zahra, namun Devan malah menangkis tangan Dita, Dita sepal Devan selalu jadi penghalang dirinya untuk menyakiti Zahra.
"Jangan ada yang sampai berani menyakiti Zahra. " kecam Devan, matanya mendelik membuat Dita sangat ketakutan melihatnya.
__ADS_1
"Kamu bisa sakitiku, tapi tidak dengan Zahra " lanjut Devan terus menekan pergelangan tangan Dita, membuat Dita meringis kesakitan.
"Sakit Van, " pekik Dita merintih, minta di lepaskan.
"oh sakit ya , justru aku akan buat lebih sakit dari ini jika kamu berani menampar Zahra lagi! " ucap Devan, mengancam Dita.
Devan melepas Dita "Sekarang pergi!" usir Devan, ditapun pergi dari ruangan Zahra. Devan memutar- mutar badan Zahra, takut ada yang terluka sedikit saja.
"Sudah pak, saya pusing di putar terus seperti ini pak " protes Zahra.
"Maafkan saya, karna saya kamu harus menanggung semua ini " ucap Devan, memeluk Zahra erat-erat, seolah-olah tidak ingin melepaskan pelukannya itu.
Zahra memegang kedua tangan Devan. "Ini semua bukan salah bapak, tapi salah saya sendiri, " kata Zahra.
Devan memeluk Zahra kembali, dia sangat merasa bersalah karna dia, Zahra berada dalam masalah.
"Pak, lepas, sebelum nanti ada yang tahu kita berpelukan disini, " kata Zahra.
Bukannya melepas, Devan tetap memeluk Zahra, Devan ingin lebih lama memeluk Zahra.
"Pak sudahlah, kalo begini terus, saya tidak akan bisa bekerja, " ucap Zahra, dia tidak kuat lagi menahan Devan yang begitu berat.
"Pak, saya mohon lepaskan, nanti ada yang mengetahui, " kata Zahra.
"Biar saja, biarin aja ada yang tahu tentang kita, lebih cepat lebih baik, " ucap Devan.
"Pak, jika yang lain tahu kita pacaran, saya di kira hanya menginginkan uang bapak, saya ini hanya asisten, " pekik Zahra.
"Kenapa kamu lebih mementingkan orang lain Ra? apa saya tidak penting lagi untukmu? " tanya Devan masih memeluk Zahra dengan erat.
Zahra hanya terdiam pasrah, jika sampai ada yang mengetahui jika Devan memeluknya.
__ADS_1
_Bersambung_