
"Gimana caranya supaya aku bisa bilang ke Mama dan Papa ya, kalau aku sudah membatalkan pertunanganku dengan Dita, mana mama dan papa dua hari lagi pulang " Batin Devan melamun di tengah keramaian jalan raya, tanpa melihat ke kanan dan ke kiri.
Hatinya Bimbang bagaimana menjelaskan ke Mama dan Papanya bahwa ia telah membatalkan pertunangannya dengan Dita, mama dan papanya pasti akan marah besar.
"Paaaaaak Awas! " teriak seseorang wanita mendorongnya ke tepi jalan raya, membuat Devan terjungkal begitu saja.
Devan kaget dan Refleks, ia menoleh ke seorang perempuan yang mendorongnya tadi. " Zahra " ucap Devan, melongo karna Zahra telah menolongnya.
"Bapak ngapain sih di tengah jalan raya.., Sakit hati sih boleh aja pak, tapi jangan bunuh Diri juga kali " omel Zahra.
Devan menggaruk kepalanya kebingungan. "Siapa yang mau bunuh Diri sih ? " tanya Devan, dia tak sebodoh itu hanya demi cinta merelakan nyawanya yang berharga itu melayang.
"Bapak tadi ngapain di tengah jalan ? " Zahra berbalik tanya ke Devan, mengatur deru nafasnya karena berlari untuk menolong Devan.
"Saya mau pulang. Tapi, ke bengkel dulu ambil mobil saya. Kebetulan, Bengkelnya Tidak jauh dari sini " jawab Devan, dia sampai lupa jika niatnya akan pergi ke bengkel, terlalu banyak melamun.
" Oh gitu, Kirain bapak mau bunuh diri gitu, gara-gara patah hati " ujar Zahra, tersenyum simpul kepada Devan
"Kamu pikir saya segila itu hanya karna patah hati mau mengakhiri hidup saya "ujar Devan, dia memutar bola matanya jengah, pikiran Zahra terlalu dangkal mengira dirinya akan senekat itu.
" Ya kali aja pak " timpal Zahra sambil nyengir kuda.
"Ya udah Pak, Ayo saya anterin,kebetulan.., Saya kenal pemilik bengkelnya " Ajak Zahra, tak sungkan untuk mengantar Devan takut terjadi hal yang tidak di inginkan terjadi pada Devan.
Devan mengiyakan Ajakan Zahra. Ia berjalan bersamaan dengan Zahra menuju bengkel yang tak jauh dari kantor, lumayan ada teman ngobrol pikirnya.
" Bang, Gimana? Mobil saya sudah selesai belum? " tanya Devan, kepada abang pemilik bengkel itu.
"Sudah tuh " jawab abang pemilik bengkel itu menunjuk ke arah mobil Devan yang telah selesai di perbaiki di ujung pintu bengkelnya.
__ADS_1
"Eh neng Zahra, baru pulang kerja neng? " tanya Abang pemilik bengkel itu tiba-tiba menyapa Zahra, dia sudah mengenal Zahra sejak Zahra masih kecil.
"Iya nih " jawab Zahra menoleh ke arah Abang pemilik bengkel itu.
"Ini siapa neng? pacarnya ya? " tanya Abang pemilik bengkel, dia melihat Zahra sepertinya dekat dengan Devan.
"Iya bang " celetuk Devan keceplosan, dia melirik sejenak ke arah Zahra.
Zahra menatap Devan sambil menelan ludah kasar-kasar. " Ngapain pak Devan ngaku- ngaku pacaran sama aku ya, " umpat Zahra dalam hati, batinnya menjadi sedikit agak menggebu-gebu.
"Oh ya bang, berapa ongkosnya bang? " tanya Devan merogoh saku jasnya.
"seratus dua puluh lima ribu aja Mas, " jawab abang pemilik bengkel itu, dengan cepat, Devan mengambil Dua lembar uang seratus ribuan dua lembar
"Ini bang uangnya, kembaliannya buat abang aja " ujar Devan memberikan uang itu pada abang pemilik bengkel itu, abangnya merasa senang mendapat bonus dari Devan.
"Makasih ya Mas ganteng.., Oh iya, semoga langgeng ya hubungannya dengan neng Zahra " ucap Abang pemilik bengkel itu. Devan menoleh sejenak ke arah Zahra dengan tatapan yang sangat datar.
Devan dan zahrapun keluar dari bengkel itu.
" Ya sudah, saya pulang dulu ya Pak " pamit Zahra berjalan ke arah berlawanan dengan Devan untuk pulang ke rumahnya.
"Zahra tunggu ! " panggil Devan, membuat langkah Zahra terhenti sejenak
Zahra menoleh ke arah Devan. "Ada apa Pak ? " tanya Zahra, berbalik menoleh ke belakang
"Ma-makasih udah anterin saya.Kamu juga pulangnya hati-hati " jawab Devan, baru kali ini Devan mengucapkan terima kasih pada seseorang.Hal yang dulu ia benci, justru kini Devan mengucapkannya di depan Zahra.
Zahra hanya mengangguk., ia berlalu melanjutkan langkahnya kembali, sedangkan Devan mengemudikan mobilnya menuju pulang ke rumah, di dalam mobil Devan tersenyum sendiri seperti orang tidak waras.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Devan selalu saja terngiang-ngiang perkataan abang pemilik bengkel tad, ia juga mengingat momen saat dimana ia menolong Zahra saat di depan lift. Devan tertawa sendiri mengingatnya, tak disangka dia bisa sekonyol itu di depan Zahra.
"Zahra, Zahra.. Kamu bisa banget meluluhkan hatiku yang keras ini " umpat Devan dalam hati, sambil terus membayangkan wajah Zahra yang terlihat cantik walau dengan make up tipis.
...****************...
Zahra lagi termenung di dalam kamarnya, matanya melirik ke sebuah lemari pakaian, dia menemukan jas yang sudah yang sudah di cuci tergantung di lemari pakaiannya. "Astaga, itu kan jasnya pak Devan, hadduh! Kok bisa lupa sih, mengembalikannya " gumam Zahra, mengambil jas itu.
Zahra mencium bau semerbak aroma parfum khas pria yang masih melekat pada jas itu. meskipun, sudah di cuci. " Aroma parfum pak Devan masih tercium harum di jas ini " batin Zahra mencium jas itu, wangi parfum Devan sungguh membuat hati Zahra terkesima.
Zahra tersadar sejenak, dia menepuk dahinya. "Mikirin apa sih aku ini! aku kan gak pantes untuk pak Devan, aduh hati.., tolong kondisikan dirimu, pak Devan terlalu good looking untuk wanita modelan kripik tempe sepertiku, " gerutu Zahra menepuk dahinya berkali-kali, dia menyadarkan dirinya agar tidak terlalu berharap berlebihan pada Devan
Zahra menggantung kembali jas itu, dia menatap wajahnya di depan cermin. "****Bukankah aku juga cantik? apa salahnya jika wanita sepertiku ingin mendapatkan pria idaman seperti pak Devan****? **tapi, jika di bandingkan gadis diluar sana yang cantik dan sangat bodygoals sekali, apalah dayaku berkhayal untuk mendapatkan pria seperti dia**, " batin Zahra, terlalu insecure dan suka membanding-kan dirinya sendiri dengan wanita yang lebih baik dari dirinya.
Zahra merebahkan dirinya di kasur, matanya tak kunjung terpejam selalu terbayang wajah tampan Devan. "Tidak-tidak! kenapa aku malah terbayang wajahnya, " omel Zahra menggaruk rambutnya yang tak gatal.
Zahra memutar sebuah lagu 'Rasa ini' dari Vierra
🎵Rasa ini-Vierra🎵
Ku suka dirinya, mungkin aku sayang..
Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku..
Kau pernah menjadi, menjadi miliknya..
Namun salahkah aku, bila ku pendam rasa ini..
Lagu yang begitu menggambarkan suasana hati Zahra saat ini, sungguh dalam kondisi yang sangat bimbang, hatinya.berkecamuk, sadar diri Devan tidak akan menyukai wanita seperti dia.Buktinya, Devan biasa saja ketika melihatnya, tidak ada ketertarikan sama sekali menurut Zahra.
__ADS_1
Perlahan, Zahra terlelap sendiri dalam tidurnya.