ZAHRANA

ZAHRANA
dimana Zahra?


__ADS_3

Abi ikut menjenguk Devan, ia sungguh tidak tega melihatnya, timbul rasa bersalah dalam benak Abi, sudah membiarkan Dita bertindak seenaknya.


Seandainya ia bisa memberitahu Devan dari awal, mungkin kecelakaan ini tidak terjadi, Devan tidak akan terbaring di rumah sakit.


Abi teringat pesan Abangnya "Bi, ingat pesan Abang, jadilah seperti lebah ..., tidak akan menyakiti bila tidak di sakiti terlebih dahulu, " Sebuah wejangan yang selalu Alex ucapkan pada sang Adik sedari Abi masih kecil.


"Maafin Abi bang, Abi melanggar pesan Abang " batin Abi, pikirannya di selimuti perasaan bersalah.


"Fris, pak Devan sadar " panggil Ara dari dalam ruang rawat Devan, semua ikut berdiri menghampiri dan masuk bersamaan melihat kondisi Devan.


"Alhamdulillah pak, bapak sudah sadar, saya ikut senang melihatnya " tukas Mbak Ella, tersenyum sumringah melihat Devan sudah sadarkan diri.


"Iya pak, kami semua sudah rindu, ingin pak Devan kembali lagi ke kantor, " timpal Lia,yang berada di sebelah Friska.


". Cepat sembuh ya pak, ini dari kami semua " ujar Friska meletakkan buah-buahan di meja. Devan menunggu kehadiran seseorang yang biasa bersamanya.


"Dimana Zahra? " tanya Devan, dia menoleh kesana-kemari mencari kekasihnya itu.


"Loh, memangnya Zahra tidak kesini pak? " tanya Fani, Devan menggeleng. Semua saling bertatapan.


"Kok tumben si Zahra, bos sakit gak di jenguk? " tanya Hilda penasaran, tak biasanya Zahra menghilang seolah-olah di telan bumi.


.


". Kemarin pas pak Devan kecelakaan, Zahra masih disini, tapi kok sekarang dia gak ada kabar ya? " tanya Ara, dia sudah mencari Zahra sejak di kantor tadi, tapi tidak kelihatan batang hidungnya.


"Iya, biasanya dia paling gercep jenguk kalo ada yang sakit, tapi ini bos sendiri yang sakit, malah ngilang gitu aja, " Friska juga ikut menimpali.Dita masuk membawa selembar kertas yang di berikan oleh Zahra tadi.


"Ini, Zahra menitipkan surat pengunduran diri ke aku, katanya di suruh berikan ke Devan. " celetuk Dita, Semua terperanjat kaget, apa alasan Zahra sampai mengundurkan diri begini.


"Apa? surat pengunduran diri? Itu artinya, Zahra resign dari kantor? nggak, ini nggak mungkin, kenapa Zahra nggak bilang, " Ara tak percaya dengan ucapan Dita, dia merampas surat tersebut, mata Ara membulat sempurna, ternyata benar surat tersebut tulisan tangan Zahra.


"Buka mata kamu lebar-lebar! Zahra sendiri yang berikan surat itu kepadaku! " bentak Dita.


"Zahra, kenapa kamu tega ninggalin saya tanpa kabar Ra, apa salah saya ke kamu, " Batin Devan,

__ADS_1


Ia bingung kenapa kekasihnya begitu tega meninggalkan disaat dirinya membutuhkan dukungan dari wanita yang sangat dia cintai.


....


Dita mengelus bahu Devan "Ada aku disini yang siap merawatmu Van, jangan khawatir " ucap Dita, hanya dengan memberikan perhatian pada Devan, sedikit lagi Devan akan menjadi miliknya.


Devan menepis tangan Dita, dia muak dengan Dita yang sok baik kepadanya"Jangan sok baik kamu! " ketus Devan, ia mendelik pada Dita.


"Lebih baik kamu pergi dan menjauh dari anak saya! " usir Bu Alika, tidak mau Dita dekat-dekat lagi dengan Devan.


Dita tersenyum menyeringai. "Oh, Tante lupa ya ... tanpa darah saya, anak kesayangan Tante ini gak bakalan hidup! " bentak Dita.


"Kamu jangan pancing emosi saya ya! " Bu Alika membentak balik Dita, jika saja bukan Dita yang mendonorkan darah untuk Devan, pasti Dita akan di seretnya keluar dari ruang rawat Devan.


Devan kaget mendengar apa yang kata Dita, "Ma, apa benar yang Dita katakan ma? "tanya Devan, bu Alika hanya terdiam, tidak tau harus mengatakan apa kepada putranya itu, bu Alika terpaksa merahasiakan semua ini dari Devan, karena jika Devan tahu, maka ia akan di marahi.


"Jawab ma, Devan mohon ..., " pekik Devan, memohon agar bu Alika menjawabnya.


"Iya," jawab Bu Alika, akhirnya berkata jujur pada Devan


Abi tercekat menatap Devan "Abi, kenapa kamu tidak ikut keluar ? " tanya Devan, karena Abi tak kunjung ikut keluar bersama yang lain.


"Pak Devan, sebenarnya_, " kata Abi.


"Pak, silahkan anda keluar, " pinta suster, Abi urungkan niatnya untuk memberitahu Devan.


"Saya permisi keluar dulu ya pak, " pamit Abi.


Devan mengangguk, Abipun keluar dari ruang rawat Devan, ia merutuki salahnya, tidak bilang sedari awal.


"Si Abi sepertinya mau bilang sesuatu sama aku, tapi apa ya..., " batin Devan kepikiran perkataan Abi tadi.


Abi menunggu kesempatan yang leluasa untuk ungkap semuanya pada Devan, Abi terpaksa harus berpura-pura baik dulu pada Dita sampai Devan tahu kebenaran yang terjadi, barulah dia memilih untuk melawan Dita.


Dita memberi kode pada Abi untuk mengikutinya, "Aku muak padamu! perempuan sadis, " batin Abi, hatinya berkecamuk amarah pada Dita, sekarang dirinya mengerti, bahwa begitu bodoh mau saja di manfaatkan Dita demi menjalankan Obsesinya itu.

__ADS_1


Abi terpaksa ikuti langkah Dita, Dita berhenti di depan toilet "Ada apa? belum cukup puas celakai Devan? " tanya Abi, tatapannya sinis ke arah Dita.


Dita melotot "Abi_ " ucap Dita


"Apa! " bentak Abi, cukup muak sekali harus menuruti semua kemauan Dita.


"Sekarang kamu berani lawan saya! " Dita mencekik leher Abi tanpa ampun karena sudah berani melawannya.


"Saya tidak mau terlibat dalam tindakan fatal anda! " kata Abi, berusaha memberontak dari cekikan tangan Dita, kalaupun dia harus tewas di tangan Dita, dia cukup senang karena tewas dalam membela yang benar.


Dita melepas cekikannya di leher Abi. "Aaargh! "racau Dita, bisa-bisa gagal rencananya untuk mendapatkan Devan jika Abi sampai berani bocorkan rahasianya.


"Ayo cekik saya! Anda tahu kan jika abang saya tidak akan tinggal diam jika saya sampai kenapa-napa, anda akan terseret dalam jeruji besi! " ketus Abi.


"Diam kamu Abi! kamu tidak mengenal siapa aku! " bentak Dita, mengacungkan jari telunjuknya pada Abi.



"Jangan pikir karena saya tidak mengenal anda, anda bisa begitu gampangnya memanfaatkan saya? Oh! tidak semudah itu Andita! beruntung saya lebih cerdik daripada anda! "sahut Abi menyilangkan kedua tangannya.



"Abi! jangan membuat kesabaranku menjadi habis! " bentak Dita.



"Memang kenapa jika kesabaran kamu habis why? apakah itu akan membuat saya takut? No no no, itu tidak akan pernah terjadi! You hate me, i don't care girls, thats not a problem for me, " Abi mematahkan kesombongan Dita saat itu juga.



"Abi! " bentak Dita.


"Heh! ngapain kamu teriak-teriak disini! ini rumah sakit bukan tempat untuk teriak! " gertak Bu Alika.


Abi tersenyum melihat bu Alika, the power of emak-emak yang berhasil membuat nyali Dita ciut begitu saja

__ADS_1


"


__ADS_2