ZAHRANA

ZAHRANA
DI SURUH NYARI PASANGAN


__ADS_3

Zahra baru kembali ke kantor setelah jam istirahat.Baru datang, ia sudah di sambut Fani, "Ra, kamu habis dari mana?"tanya Fani.


"Dari kantor klien, nganterin berkas,"jawab Zahra.Fani terus saja membuntuti kemana Zahra pergi membuat dirinya risih sekali.


"Kamu gak ada kerjaan emangnya,ngekor terus?"tanya Zahra kesal di ikuti terus oleh Fani,


"Aku disini ingin kerja yang nyaman.Kamu ikut terus kayak cctv berjalan tau gak"protes Zahra.Fani hanya diam.Sedangkan Zahra, lanjut menuju ruangannya.Zahra mengusap wajahnya dengan kasar.Ia tak tahan dengan tingkah Fani yang selalu mengganggunya.


Padahal,Fani di gaji untuk bekerja bukan untuk mengekorinya.Zahra kembali berkutat dengan pekerjaannya.Sesekali,ia melirik jam dinding.jam pulangpun tiba,Zahra menutup laptopnya, dimasukkan dalam tas.Ia beranjak keluar ruangan.


Zahra berpapasan dengan Devan saat melewati lobi kantor,"Zahra,kamu belum pulang?"tanya Devan dengan tatapan yang sangat datar


"Ini baru mau pulang pak.Pak Devan sendiri?" tanya Balik Zahra melihat Devan yang masih saja membawa kopi hangat di tangannya.


"Saya menginap di kantor"jawab Devan.


Zahra tertawa terbahak-bahak, Devan hanya mengernyitkan dahi melihat Zahra tertawa lepas sekali seolah tak ada beban hidup saja


"Kenapa tertawa?"tanya Devan bingung, karna Zahra tiba-tiba tertawa padahal dirinya nggak lagi stand up comedy.


"gak apa-apa kok pak, saya pamit duluan ya pak,"pamit zahra, dia memilih diam walau sebenarnya kasihan pada bosnya jika harus menginap.Apalagi, cuaca kantor cukup dingin


Devan mengangguk.Ia bimbang, apakah harus pulang atau tetap disini.Orang tua Devan pulang hari ini.Pasti, ia akan di tanya kedua orang tuanya jika sampai tahu ia membatalkan pertunangannya dengan Dita.


Devan memutuskan pulang pukul 8 malam. "Devan, kamu baru pulang nak,"Sapa bu Alika kepada Devan, dia sudah begitu merindukan Devan


"Iya ma,Devan lembur hari ini.Mama kapan nyampek rumah?"tanya Devan, tak semangat sekali menyapa mamanya itu, bukan tidak merindukan mamanya, tapi masih malas jika nanti di cecar berbagai pertanyaan oleh mamanya.


"Tadi siang nak,mama sama papa nyampek sini,"jawab Devan bersalaman dengan mamanya.Lalu,masuk ke dalam rumah.Ia bertemu papanya yang sedang duduk di ruang tamu.Devan memeluk papanya.


"Kamu apa kabar nak?"tanya pak Jefri pada Devan.Pria paruh baya itu memeluk erat putranya melepas kerinduannya setelah 3 bulan tidak bertemu

__ADS_1


"Devan ganti baju dulu ya pa,"izin Devan pada papanya.Devan menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya.Setelah selesai


berganti baju,Devan memilih bergabung bersama mama dan papanya.


"Van,mama dan papa mau tanya boleh?"tanya Bu Alika membuka percakapan, suasana mendadak menjadi tegang, lebih tegang dan menyeramkan sekali dari uji nyali di rumah hantu.


"Boleh,"jawab Devan datar, dalam hatinya bingung apa yang mamamanya tanyakan kepadanya, pikiran Devan kemana-mana.


"Gimana persiapan pernikahan kamu nanti Dengan dita?"tanya Bu Alika tiba-tiba, sengaja menunggu Devan duduk tenang dan adem dulu agar tidak membebani pikiran putranya.


Devan mendelik kaget, ia menyemburkan jus jeruk yang diminumnya hingga berhamburan ke lantai, Devan tak menduga mamanya akan bertanya seperti itu disaat dirinya belum menyiapkan jawaban yang pas.


"Hati-hati nak"tegur pak Jefri sambil menepuk punggung Devan yang tersedak minuman itu.Devan merasa sudah saatnya mama dan papanya tau apa yang terjadi antara dirinya dan Dita.Devan tau, kebohongannya tak akan selalu terus menutupi kebenaran yang ada.


"Ma, pa..aku juga mau memberitahu sesuatu sama mama dan papa,"jawab Devan.Hatinya di penuhi rasa takut dan bimbang sekali tuk mengatakannya, Devan menghela nafas panjang dan dalam agar lebih leluasa lagi mengatakan.


" sudah batalin pertunangan Devan dengan Dita."lanjut Devan, dia juga siap dengan omelan kedua orang tuanya itu, Devan batalkan pertunangan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya


ya!"bentak bu Alika.Mukanya memerah,


geram sekaligus kecewa dengan putra semata wayangnya yang di anggap


gegabah dalam mengambil keputusan


.


"Ma,tenang ma..kita dengerin Devan dulu,"pak Jefri berusaha menenangkan istrinya, pak Jefri juga yakin Devan melakukan itu pasti ada sebabnya.


"Gak bisa gitu dong pa..jika Devan membatalkan pertunangannya, kita yang akan di permalukan keluarga Dita"kata bu Alika, sangat marah pada Devan, pembatalan pertunangan ini pasti akan mempermalukan keluarganya.Memang, keluarga Dita sangat akrab dengan keluarga Devan.


Tak tahan dengan omelan mamanya, Devan mengatakan alasan dirinya mem batalkan pertunangan."Dita itu yang mengkhianati diriku ma,bagimana aku bisa bertahan.., harusnya merekalah yang malu,bukan kita," ujar Devan.Bu Alika terdiam mendengar perkataan dari Devan, hatinya luluh karna Devan memendam perasaan sakitnya sendiri

__ADS_1


Devan beranjak menuju kamar untuk segera tidur."Pa, apa dulu kita berlebihan ya.. jodohin Devan dengan Dita?"tanya bu Alika, meminta pendapat dari suaminya.


"Wanita yang menurut kita baik, belum tentu dia cocok untuk anak kita ma,"jawab pak Jefri, tak seharusnya sebagai orang tua terlalu ikut campur urusan anak perihal memilih jodoh.


...****************...


Devan terbangun pagi-pagi sekali.Dilihatnya, banyak makanan tertata rapi di meja."Ma, mama masakin ini semua untukku ?"tanya Devan pada mamanya, melihat semua makanan kesukaannya tertata rapi di meja.


"Iya nak,maafin mama ya..mama janji,gak bakal mengekang kamu soal jodoh.Mama tidak rela, kamu tersakiti oleh wanita"jawab Bu Alika.Devan tersenyum, mamanya memang paling pengertian terhadap dirinya, cinta seorang ibu tidak terkalahkan oleh apapun juga.


"Terima kasih ma,"ucapnya sembari menarik salah satu kursi di meja makan.


"Papa mama ma?"tanya Devan celingukan mencari papanya, sedari tadi tidak muncul juga


"Papamu ada urusan sebentar."jawab Bu Alika. Devan segera menyelesaikan makannya.


"Mama tidak ingin kamu terlalu larut dalam


kesedihan.., mama rasa kamu harus cepat cari pasangan biar bisa lupain dita."kata Bu Alika pada putranya itu.Devan tersenyum manis pada mamanya


"Tenang aja ma, Devan gak bakalan galauin Dita"Devan meyakinkan mamanya.


"Yakin?"tanya bu Alika.Devan mengangguk jangankan sedih,memikirkannya lagi pun tidak pernah lagi terbesit di benak Devan.


"Memangnya ada wanita yang kamu suka?"tanya bu Alika sekali lagi.Di tanya seperti itu, muncul bayangan wajah Zahra di fikiran Devan yang membuatnya tersipu malu.


"Ih, mama ada-ada saja.Ya udah, Devan berangkat dulu ya ma."Devan pamitan pada mamanya.


"Hati-hati ya," ucap Bu Alika.Devan keluar rumah mengambil mobilnya digarasi.


Ia tidak sabar ingin bertemu Zahra.Wanita sederhana,baik dan cantik yang mampu meluluhkan hatinya itu.

__ADS_1


__ADS_2