
Zahra merasa sebal dengan sahabatnya yang super duper jahil itu."Ya udah Ra, kita pamit dulu Tante Nita kemana Ra? " tanya Lia.
"Mama tidur, pasti capek banget " jawab Zahra sambil memainkan ponselnya.
"Nanti bilangin ya, ke Tante Nita, gak sempat pamitan pulang soalnya" kata Lia.
Zahra hanya mengangguk-anggukkan kepala, dia mengantar kedua sahabatnya itu sampai depan pintu rumah.
Kebetulan, jarum jam sudah menuju ke angka sembilan.Tidak baik bagi seorang perempuan pulang malam."hoaam, ngatuk.. tidur ah, " kata Zahra. natanya sudah tidak bisa di kompromi lagi.
Hari ini Devan sangat sumringah, tak sabar ingin bertemu sang kekasih.Devan celingak- celinguk kesana-kemari mencari Zahra, namun tak kunjung ia temukan dari tadi dimana-mana
Devan bergegas ke ruangannya, siapa tahu Zahra sudah berada di ruang kerja.Devan masuk tanpa mengetuk pintu ke ruangan Zahra. "Pak Devan, gak ada hentinya bikin jantung saya senam jantung, untung nggak copot " protes Zahra, terkesiap melihat Devan yang tiba-tiba masuk ke ruangannya.
"Masak sih berdebar? sama donk, " goda Devan. Zahra tersenyum lebar ke arah Devan, bosnya itu memang jago membuat Zahra terpesona.
"Ehem, " Gino pura-pura batuk.Keduanya menoleh ke arah sumber suara, Devan dan Zahra bernafas lega, takutnya orang lain yang masuk.
"Eh Gino, ada apa kesini? "tanya Zahra,
"Mau nganterin berkas, apesnya malah mergokin orang pacaran disini, terus aja berduaan biar lengket kayak lem gak bisa buka, " jawab Gino.
"Ke pelaminan dong, kalo gitu " sahut Devan, Gino mendelik kaget, mengira Devan sudah kehabisan obat, makanya gilanya kumat.
"Tanyain dulu tuh, zahra mau gak tuh, " kata Gino.Devan menoleh Zahra dan mengulum senyum.
"Kamu mau? " tanya Devan, Zahra menelan salivanya, matanya membulat sempurna, baru
kemarin jadian eh sekarang ngajak nikah aja Benar-benar sangat konyol bosnya yang satu ini.
Devan segera masuk ke ruang kerjanya, ia meninggalkan secarik kertas di meja kerja Zahra. Setelah Devan keluar, Zahra ambil kertas itu. 'makan siang bareng yuk, ' Zahra tersenyum membaca tulisan di kertas itu, di lipatnya kertas itu dan di letakkan kembali.
Jarum jam menunjuk ke angka dua belas, Zahra beranjak merapikan ruangannya dan segera ke kantin, ia mencari Devan yang ternyata sedang duduk di pojokan kantin seperti hantu saja, di hampirinya Devan di pojokan.
"Saya kira hantu pak, " sapa Zahra, Devan yang sedang memainkan ponselnya terperanjat melihat Zahra di depannya.
"Masak sih, tampan begini di kira hantu, " protes Devan, merucutkan bibirnya.
__ADS_1
Zahra hanya tersenyum simpul, ia duduk berhadapan dengan Devan. "Kamu mau pesan apa? " tanya Devan.
"Bakso dan es jambu pak, " jawab Zahra.
Devan berdiri memesan makanan untuknya dan Zahra.Sambil menunggu, Zahra bermain ponselnya.Devan kembali ke membawa nampan berisi 2 bakso 1 es jambu dan 1 kopi.
Zahra meletakkan benda pipihnya itu ke dalam saku jasnya. "Bapak memesan kopi? " tanya Zahra.Devan mengangguk kan kepala, dia meniup kopinya yang masih mengepul itu.
"Iya, kebetulan disana saya liat ada kopi, ya sudah saya pesan, kalo kamu mau, nanti kita minum berdua " jawab Devan tersenyum lebar tak ada hentinya menggoda Zahra.
Zahra memakan makanannya sambil menatap Devan lekat-lekat. "Kamu kenapa liatin saya kayak gitu? " tanya Devan mengernyitkan dahinya.
"Nggak, kalo minumnya berdua gimana caranya, sedotannya kan cuma satu " jawab Zahra.
Devan mengambil sedotan di gelas Zahra dan memindahkan ke gelasnya. 'Ehem' Devan dan Zahra terkejut, menoleh ke sumber suara di belakangnya.
"Yang di pojokan lagi mesra nih, " ujar Ara. Devan dan Zahra hanya tersenyum simpul, karna sudah terciduk Ara jika mereka sudah jadian,
"Kalian jadian? mana PJnya? " tanya Ara menengadahkan tangan di depan Devan dan Zahra.
.
"Biar saya aja pak, " kata Zahra tak enak hati bila harus merepotkan Devan.
"Udah Ra, uang itu kamu pakai sendiri dulu.. kebetulan, saya ada rezeki, " ujar Devan, melarang Zahra membayarnya.
Ara berlari ke depan kantin. "Woy, semua! Pak Devan mau traktir kita makan disini! " teriak Ara dengan bobroknya sampai naik ke atas meja.
Teriakan Ara di sambut sorak sorai semua staf dan karyawan di kantin itu, mereka memesan makanan sebanyak-banyaknya.
Zahra menepuk dahinya, Devan bukannya traktir Ara sendiri, malah traktir satu kantor. Zahra berdiri menarik tangan Ara ke mejanya
"Pak Devan cuma mau nraktir kamu Ar, " kata Zahra, berkacak pinggang ke arah Ara.
"Yaah, udah terlanjur aku umumin di depan kantin, kasihan yang lain.., masak cuma aku yang di traktir, " tukas Ara, menautkan kedua alisnya.
"Udah Ra.., gak apa-apa, apa salahnya sih berbagi kebahagiaan, siapa tau yang single jadi ketularan bahagianya, " ucap Devan melerai keributan mereka.
__ADS_1
"Tuh! Pak bos aja ngerti, masak kamu nggak sih Ra, kapan lagi pak bos bisa sebaik ini sama kita, " timpal Ara. Devan hanya tersenyum mendengar perkataan Ara
"Ada apa nih? " tanya Gino yang baru datang ke kantin, tak mengetahui apapun.
"Itu loh, pak bos nraktir kita semua, boleh pesan apa aja sepuasnya, " jawab Angga, salah satu staff marketing di kantor itu. sebagai staff marketing, Angga baru kali ini stay di kantor, biasanya dia jarang sekali terlihat.
Gino tertawa girang, kapan lagi bisa dapat traktiran makan gratis dari Devan, uangnya bisa dia gunakan untuk membayar kost.Gino yang hanya seorang perantau di kantor itu, harus berhemat untuk biaya hidupnya.
"Matur nuwun pak bos, kalo bisa tiap hari gini ya..., biar makin kaya, " ucap Gino lantang sekali.
"Yang ada bukannya makin kaya malah bangkrut saya! " timpal Devan, Gino hanya nyengir kuda.
"Tumben Pak Devan baik banget mau nraktir kita, biasanya pasti mau ngasih kerjaan yang berat, kita jangan sampai terkecoh nih, " tukas Mbak Ella, seorang senior yang sudah mengenal seperti apa sifatnya Devan.
"Udah! jangan su'udzon napa sih, pesen aja makanannya, " timpal Friska menyantap mie ayam yang ada di depannya itu.
"Tau nih Mbak Ella! nikmatin aja makanannya dulu, nanti kalo emang di kasih kerjaan berat, ya kita lembur aja sih.., kok repot! kapan lagi bisa makan gratisan kayak gini, " sahut Lia membenarkan ucapan Friska.
_Bersambung_
☃️Intermezoo:
Ara: asyik! Bisa kibulin pak bos
Gino:kibulin terus Ar,biar gak berduaan mulu jadi orang😂
Devan:Iri ya, bilang dong!
Gino: Dih sombongnya..,mentang-mentang dah punya kekasih tuh pak bos!
Ara:udah diem, ini semua siapa yang bayar?
Gino:tuh pak bos katanya.
Devan: enak bae, minta tuh, duit ke author yang udah bikin aku tekor😒
__ADS_1
Author: Dompetku juga kosong 😝