
Miko sudah di bekuk beberapa polisi. Devan juga ikut masuk ke ruangan Abi.
"Tangkap dia Pak! dia berusaha melakukan percobaan pembunuhan terhadap sekertaris saya, " tukas Devan tatapannya nanar ke arah Miko.
Borgol besi itu langsung di kaitkan pada kedua pergelangan tangan Miko, pisaunya di bawa polisi sebagai alat bukti.
Polisi itu gegas menyeret Miko keluar dari ruangan Abi menuju mobil polisi yang sedang terparkir di depan kantor.
"Pak, bagaimana Bapak tau jika saya dalam bahaya? " tanya Abi, dia juga terkejut polisi datang tepat waktu.
"Saya di beritahu Lia yang kebetulan lewat sini, katanya ada seseorang yang ingin mencoba membunuhmu...ternyata Miko orangnya. " jawab Devan.
"Lia..aku harus berterima kasih padanya, " batin Abi berlalu meninggalkan ruangannya.
Abi ingin sekali menemui Lia hanya sekedar mengucapkan terima kasih, Lia telah menyelamatkan nyawa Abi dari tangan Miko.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Abi sudah sampai ruang Administrasi, dia menyiapkan jantungnya agar tidak berulah ketika bertemu Lia.
. "Abi, ngapain kamu disini? apa ada kerjaan dari pak bos? " tanya Ara menyambut Abi.
"Ah tidak kok Ar, aku ingin bicara dengan Lia sebentar boleh? " tanya Abi meminta izin pada Ara.
"Kak Lia! Abi ingin bicara denganmu! " teriak Ara sedikit lantang memanggil sang kakak.
Lia beranjak berdiri, dia masih bingung mengapa Abi mengajaknya ngobrol berdua. Dengan langkah gontai, Lia berjalan menghampiri Abi.
"Don...aku pinjem dulu ya Lia, " tukas Abi menatap ke arah Doni.
"Boleh...tapi jangan lama-lama ya, ini udah mau jam istirahat sepertinya, " timpal Doni melirik jam di arlojinya.
Abi memutar kedua bola matanya jengah, "Kamu kira aku mau ngobrolin apaan sama dia, " sahut Abi menggelengkan kepalanya.
Doni terkekeh, mereka sepertinya cocok jika bersatu.Lia mengikuti langkah Abi keluar ruangan.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Langkah Abi dan Lia terhenti di sebuah koridor dekat lift, "Ada apa bi...tumben sekali kamu mengajakku kesini? " tanya Lia dengan lembut kepada Abi.
"Tidak, aku hanya mengucapkan banyak terimakasih...karena kamu sudah selamatkan aku dari cengkeraman tangan Miko, " ucap Abi.
Lia tersenyum manis, menampakkan lesung pipinya, "Tidak apa-apa bi..aku kira kamu mau bicara apa, " tukas Lia berbalik arah hendak kembali ke ruangannya.
"Tunggu! " panggil Miko menghentikan langkah Lia.
Lia berbalik menatap Abi, "Ada apa lgi? " tanya Lia mengerutkan dahinya.
"Semangat kerjanya. " Ucapan itu lolos begitu saja dari bibir Abi, muka Abi menghangat malu karena sudah berkata begitu pada Lia.
Lia mengangguk tersenyum, dia berlalu melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Lia yang baru saja kembali di sambut senyum sumringah oleh Ara, "Cieee... ngobrolin apa nih sama Abi, " goda Ara menyenggol tangan kakaknya itu.
"Apaan sih, orang tidak ngobrolin apapun kok..." timpal Lia kesal jika di goda terus oleh adik kembarnya itu.
__ADS_1
"Bohong..., "
"Aku serius Ara... aku dan Abi tidak bicara apapun, dia hanya mengucapkan terima kasih saja ke aku, " sahut Lia menyela perkataan Ara.
Ara menggaruk kepalanya, "Terima kasih? untuk apa? " tanya Ara sedikit bingung.
"Karena aku menyelamatkan nyawa Abi dari ancaman seseorang, " jawab Lia kembali berkutat dengan laptopnya.
"Siapa? " tanya Ara mencari tahu lebih dalam lagi.
Lia termangu sejenak, bingung harus menjawab apa.Miko adalah adik ipar Ara, tidak mungkin menjawabnya secara terang-terangan.
"Jawab tidak ya.... " Lia membatin tatapannya terus ke arah Ara.
"Kenapa kak? apa ada yang salah? " tanya Ara menautkan kedua alisnya.
"Hmm..tidak kok Ar, tidak ada yang salah." Lia terkesiap kaget dengan pertanyaan Ara, lamunannya seketika menjadi buyar.
"Oh, " timpal Ara beranjak berdiri dari meja kerja kakaknya itu.
Ara pergi meninggalkan meja kakaknya. Hatinya masih penasaran kakaknya tidak mau menceritakan secara detail siapa yang hampir menghilangkan nyawa Abi.
Pikiran Ara masih belum bisa teralihkan dari perkataan Ara tadi.Rasa penasarannya seolah memanggil untuk mencari tau lebih dalam lagi.
"*Rupanya aku harus mencari tahu lebih dalam lagi agar rasa penasaranku semakin terjawab*, " umpat Ara dalam hati.
\=\=\=\=oooOooo\=\=\=
Abi tidak sengaja berpapasan dengan Lia di lift, "Lia...kamu mau ke kantin? " tanya Abi nyeletuk begitu saja.
Wanita cantik nan mungil itu menoleh karena merasa terpanggil, "Eh Abi...iya bi, aku mau ke kantin juga, " jawab Lia tersenyum ke arah Abi.
"Bareng yuk! sekalian aku mau nraktir kamu sebagai tanda terima kasihku kamu sudah mau menolongku, " ajak Abi tampak gugup terlihat dari raut mukanya.
Lia mengernyit, semakin kesini Abi semakin perhatian saja kepadanya, "Boleh...." Lia mengiyakan ucapan Abi, kapan lagi dia bisa makan gratisan pikirnya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Suasana kantin cukup ramai, semua kursi hampir penuh, "Kita duduk dimana? " tanya Lia menatap Abi sejenak.
__ADS_1
"Kita duduk di kursi paling pojok...kebetulan disana kosong, " jawab Abi menunjuk ke tempat yang di maksud.
Abi dan Lia bergegas menuju kursi itu, mereka duduk berhadapan, "Kamu mau pesan apa? biar aku pesankan, " tukas Abi.
Lia memainkan rambutnya, memikirkan makanan apa yang ingin dia pesan, "Euum... aku sekarang lagi mood makan seblak, " celetuk Lia membayangkan begitu menggiurkannya seblak.
"Minumnya? " tanya Abi lagi
"Es apel deh, " jawab Lia.
Abi mengangguk, dia berlalu memesan makanan, "Bu... Seblak sama Es apelnya dua ya...." tukas Abi kepada ibu penjaga kantin.
"Tunggu ya..." ucap ibu penjaga kantin membuatkan makanan pesanan Abi.
Tak berselang lama, makanan yang di pesan Abi sudah siap, "Ini...pesanannya, " tukas ibu kantin itu memberikan nampan berisi makanan dan minuman ke Abi.
Abi merogoh mengambil nampan itu dan membawanya ke meja Lia, Abi menyajikannya di meja.
"Abi memesan seblak juga? " batin Lia mengambil makanan dan minuman miliknya.
Abi kembali duduk di kursinya, "Lia, emang kamu tidak kepedasan makan seblak? " tanya Abi melihat Lia menambahkan bubuk cabe yang banyak di mangkuknya.
"Tidak kok, udah terbiasa sama yang pedes-pedas... apalagi, pedasnya mulut tetangga, " jawab Lia menanggapi dengan candaan.
Abi terkekeh, Lia memang humoris sekali, membuat Abi sedikit merasa nyaman ketika bersamanya.
Hati Abi menggebu, dia tidak tahu awal perasaan aneh ini muncul.Sepertinya, Abi sudah merasakan benih-benih cinta dalam hatinya.
ingin rasanya Abi ungkapkan perasaannya pada Lia.Tapi takut, jika Lia sudah punya kekasih.
"Kamu kenapa kok menatapku seperti itu? " tanya Lia menghentikan makannya sejenak.
"Eh iya maaf, " ucap Abi terkesiap kaget, imajinasi pikirannya tentang Lia buyar seketika itu juga.
Abi mulai menyendok makanannya sedikit demi sedikit, sorot matanya sesekali curi-curi pandang ke arah Lia.
__ADS_1
Lia kembali memakan makanannya dengan lahap tidak menghiraukan Abi yang sedang menatapnya.
_Bersambung_