
Abi berdiri di depan pintu Administrasi, "Eh Abi... ada apa bi? " sapa Doni.
"Oh, tidak... mau mengembalikan ini pada Lia, " jawab Abi, memberikan tas Lia pada Doni dan segera berlalu pergi.
"Lia, ini tas kamu, " pungkas Doni memberikan tas itu pada Lia
"Nah, gitu dong, itu baru sahabatku, " ujar Zahra, senang.
Lia bergegas berdiri dan mengambilnya, dia sebenarnya masih kebingungan mengapa Zahra memberikan tasnya pada Abi, tetapi sudahlah! Lia enggan terlalu memikirkannya.
Ara merucutkan bibirnya, sedikit kecewa mengapa Abi malah memberikan tas kakaknya itu pada Doni, apa dia memang ingin menghindar dari kakaknya.
Untuk saat ini, Abi memanglah menjaga jarak dengan Lia, dia tidak ingin menyakiti hati Axcellia, pujaan hatinya yang berada di luar negeri.
Sekalipun dunia menentang hubungannya, tapi Abi masih setia memperjuangkan cintanya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
"Ah! akhirnya aku bebas juga! " teriak seorang perempuan berusia dua puluh tujuh tahun di depan kantor polisi, i baru saja ia bebas dari penjara.
Perempuan itu adalah Friska, dia tampak senang karena di bebaskan juga. Friska langsung menuju rumah Miko, ada sedikit kekesalan Friska pada pria itu karena tidak kunjung membebaskannya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Friska berteriak di depan kos-kosan Miko, gedoran Friska membuat penghuni lain merasa kurang nyaman.
"Hey! ngapain kamu gedor pintu keras-keras di kost-kosan saya! "
Seorang wanita paruh baya bertubuh gembul pemilik kos-kosan itu datang menegur Friska.
Friska tersentak kaget di tegur ibu pemilik kos, "Saya kesini mau bertemu Miko, " jawabnya.
"Oh Miko... dia sudah pulang ke rumah orang tua kandungnya, udah tidak ngekos, " timpal ibu pemilik kos.
"Pulang di rumah orang tua kandungnya? dimana? "
Friska baru tau jika Miko sudah tidak ngekos disitu lagi, kabar terakhir yang dia dengar dari Miko, Devan memenjarakan Miko untuk kesekian kalinya karena hampir membunuh Abi.
"Kalau itu, kurang tau saya, kenapa tidak hubungi saja dia, barangkali punya nomor teleponnya, " jawab ibu pemilik kos itu.
Friska mengambil ponselnya, di carinya kontak bernama Miko.
"Hallo, ada apa Fris? " suara Miko terdengar dari sebrang sana.
__ADS_1
"Ya ampun Miko! aku cari kamu loh kemana-mana! " Friska lega, akhirnya bisa menghubungi Miko.
"Ada apa ya? bukannya kita udah tidak ada urusan lagi ya? " tanya Miko, enggan berurusan dengan Friska yang ujungnya pasti memprovokatori dia untuk mendendam lagi.
"Enak aja kamu! bagaimana dendam kamu dengan Zahra! tidak mungkin kamu melepaskan dia begitu saja! " bentak Friska, semudah itu Miko menyerah.
"Aku sudah punya kekasih Fris kami juga akan segera menikah, ..aku tidak ingin mengganggu Zahra lagi, apalagi..sekang Zahra dan Devan sudah menikah " ujar Miko.
Hal yang sangat mengejutkan bagi Friska, mendengar kabar pernikahan Devan dan Zahra, hatinya remuk berkeping-keping.
Yang Friska takutkan benar-benar terjadi, Devan dan Zahra benar-benar menikah.
"Miko, kamu sekarang ada dimana? " tanya Friska, menanyakan maksud ibu pemilik kos tadi.
"Aku ada di luar kota Fris, ikut kedua orang tuaku, " jawab Miko
"Terus perusahaan kamu yang disini gimana ko? " tanya Friska, takut bila harus kehilangan karirnya.
"Aku menjual perusahaanku ke teman mamaku, agar perusahaan itu tetap beroperasi, " jawab Miko.
"Katakan padaku, apa ada pergantian karyawan disana antara karyawanmu dengan karyawan pemilik baru perusahaan itu? " tanya Friska.
"Sepertinya begitu, kamu harus mendaftar lamaran pekerjaan ulang jika ingin bekerja kembali disana, tapi kecil kemungkinan untuk di terima, kamu sudah tersandung kasus kriminal, " ucap Miko.
Friska benar-benar frustasi hari ini, kebebasannya dari penjara tidak membuat hatinya senang, semua sudah berubah tidak seperti dulu, Miko pun sekarang sudah memiliki kekasih, Friska tidak bisa menghasutnya lagi.
Friska hanya berharap, ada celah untuknya agar Devan bisa segera menceraikan Zahra. Namun, rasanya itu semua tidak mungkin, semakin menikah, tentunya semakin sulit bagi Friska memisahkan mereka berdua.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Di kantor, Ara dan Zahra berbincang santai "Ra, sepertinya Abi memang tidak suka sama kak Lia deh, " celetuk Ara, memonyongkan bibirnya.
"Maksud kamu? " tanya Zahra, tidak mengerti ucapan Ara
"Dia malah ngasih tasnya ke pak Doni, lalu ngibrit pergi tuh orang! jual mahal banget deh pokoknya! "jawab Ara nyeloteh panjang kali lebar.
"Ya, kita kan tidak tahu isi hati orang seperti apa, jangan negative thinking dulu ah... kasihan Lia, masak dia mau di kasih harapan doang... " sahut Zahra menanggapi perkataan Ara.
"Apa yang harus kita lakukan? kasihan kak Lia dong kalau harus nunggu lama? " tanya Ara meminta pendapat dari Zahra.
"Kita serahkan saja semuanya sama mereka, biarkan lama asalkan tepat sasaran, " jawab Zahra memberikan solusi yang tepat untuk Ara.
"Ya udah deh, kalau gitu aku ngikut aja, " timpal Ara, seperti sudah menyerah.
__ADS_1
"Nah! gitu dong, jangan memaksakan kehendak sendiri, " timpal Zahra senang.
"Ya... aku hanya berharap, siapapun jodoh kakak semoga itu yang terbaik, " ucap Ara mendoakan kakaknya.
"Aamiin"
"Udah ah! yuk kerja lagi, udah jam masuk kantor nih! " ajak Ara.
Zahra menganggukkan kepalanya, dia mengekor di belakang Ara menuju ruangannya.
\=\=\=\=ooooOooo\=\=\=
Jam pulang kantor pun tiba, Devan dan Zahra baru saja sampai di apartemen, Devan duduk di kursi memainkan ponselnya.
"Aku masakin dulu ya Mas... " pungkas Zahra sembari melepas tas yang di bawanya.
"Iya sayang, aku udah lapar nih, " sahut Devan, perutnya memang sedari tadi keroncongan minta di isi.
Zahra segera beranjak menuju dapur, tadi pagi dia dan suaminya sarapan di luar karena buru-buru ke kantor.
15 menit kemudian...
Di rasa istrinya sudah terlalu lama di dapur, Devan berniat menyusulnya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
"Kamu masak apa sih sayang, kok kayaknya harum banget, " gumam Devan mengendus aroma sup daging yang semerbak di hidungnya.
"Aku masakin sup daging, sama telur dadar spesial buat kamu, " jawab Zahra.
"Ini tidak pahit kan?" tanya Devan, mengingat kenangan kopi pahit rasa cinta.
"iih, ya tidak lah, emangnya kamu... Ngasih kopi pahit ke aku, " sindir Zahra
Deva. hanya tersenyum masam mengingat awal mereka kenal, kopi pahit yang di buat dengan perasaan cinta menjadi saksi bisu awal kedekatan mereka.
"Walaupun pahit, kan di buatnya pakai cinta, " timpal Devan nyengir kuda.
"Udah ah ayo kita makan, cinta doang tidak akan membuat kita kenyang, " ajak Zahra menarik kursi lalu mendudukinya.
Devan hanya menatap Zahra lekat-lekat, sungguh beruntung rasanya dia memiliki istri sebaik dan secantik Zahra, perempuan yang selalu sabar menemaninya.
"
__ADS_1
"