
Pagi ini, Zahra membawa jas milik Devan ke kantor. " Loh Zahra? ini jas siapa? " tanya Gino saat melihat Zahra menenteng sebuah tas
" Ini jas pak Devan," jawab Zahra. Gino tersentak bukan main,
"Pak Devan nginap di rumah kamu Ra? kok Sampai jasnya ketinggalan? " tanya Gino lagi.
"Ngawur kamu! ya nggak lah, aktu itu aku lembur, pas mau pulang tiba-tiba hujan..., jadi ya, pak Devan minjemin jasnya ke Aku.Karna cuacanya dingin banget, kayak sikapnya pak Devan ke aku, " jawab Zahra.
" Oh gitu.. " Timpal Gino. Gino melotot kaget melihat Devan sudah ada di belakang Zahra. " Ra, Aku ke Ruangan dulu ya " pamit Gino menghindari Zahra dan Devan.
"Wuuh, Dasar main pergi gitu aja " teriak Zahra, tak tahu jika di belakang sudah ada Devan.
"Siapa yang katamu dingin? Apakah itu saya? " tanya Devan tiba-tiba, membuat Zahra terkesiap kaget, Devan seperti hantu saja, tiba-tiba muncul di belakang. Untung saja, dirinya tak punya penyakit jantung.
"Eh pak Devan, Nggak kok pak, maksud saya tadi pagi hawanya dingin banget pak, oh iya, ini jas bapak saya kembalikan " jawab Zahra sambil memberikan jas pada Devan dengan tangan agak gemetar.
Devan melirik Zahra yang menatapnya lekat-lekat, dia juga menatap mata Zahra zahra.Devan tersadar dari lamunannya dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan mata Zahra.
Zahra sama sekali tak berkedip. Ia Asyik dengan lamunannya. "Zahra! " teriak Devan sembari menggoyangkan tubuh Zahra hingga Zahra sadar dari lamunannya,
" Kamu gak perlu tau saya temukan dimana gelang itu. Yang penting, gelang itu ada di tangan kamu " jawab pak Devan. ia bergegas ke ruang kerjanya. " Pak tunggu ! " panggil Zahra. Devan berhenti. ia berbalik arah menatap Zahra .
Zahra bergegas pergi ke Ruangannya menghindari Amukan Devan. "Dasar! Pagi-pagi udah gosipin orang aja! " Batin Devan.
Devan menemukan gelang berliontin Z di saku jasnya. " Hah gelang? gelang siapa ini? " Devan bertanya-tanya.Tak tahu pemiliknya siapa, Devan pakai saja gelang itu dan bergegas ke ruang kerjanya.
Devan berpapasan dengan Zahra yang mondar mandi di depan ruangannya sendiri "Kamu lagi cari apa Ra, kok sepertinya bingung gitu? " tanya Devan
"Itu pak, saya mencari gelang saya.sepertinya, jatuh di sebelah sini " jawab Zahra. Devan sejenak teringat gelang yang ia temukan di saku jasnya tadi
"Apa kamu mencari gelang berliontin Z? " tanya Devan lagi, memastikan apa benar gelang yang di temukan tadi milik Zahra.
"Iya liontin Z itu inisial nama saya " jawab Zahra. Devan mengangkat pergelangan tangannya menunjukkan gelang yang sedang ia pakai, mata Zahra membulat sempurna melihat Devan sedang memakai gelangnya.
"I-itu kan gelang saya pak " Kata Zahra mengakui gelang itu miliknya.
"
__ADS_1
Devan melepas gelang itu. Di tariknya tangan Zahra dan memasangkan gelang itu. " Pak Devan ini orangnya baik, perhatian juga. Ya, walaupun sikapnya nyebelin. Tapi, hatinya lembut " Umpat Zahra dalam hati.
"Gelangnya sudah saya temukan"' kata Devan menunjuk ke pergelangan tangan Zahra. Zahra melihat pergelangan tangannya. berapa terkejutnya Zahra. Tangannya sudah memakai gelang.
"Bapak menemukan gelang ini dimana pak ? " tanya Zahra, senang karna sudah pakai gelangnya lagi.
Kamu gak perlu tau saya temukan dimana gelang itu. Yang penting, gelang itu ada di tangan kamu " jawab Devan, ia bergegas ke ruang kerjanya.
" Pak tunggu! "panggil Zahra. Devan berhenti. ia berbalik arah menatap Zahra. "Jangan ucapkan terima kasih, saya tidak suka itu, " tukas Devan.
Devan kemudian berlalu melangkahkan kaki ke Ruangannya.Begitu juga dengan Zahra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat Asyik berkutat dengan pekerjaannya , Gino masuk ruangan Zahra.
"Ini berkas yang di minta pak Devan kemarin, Tolong kamu minta tanda tanganny " pinta Gino memberikan setumpuk berkas pada Zahra.
"Kamu habis di marahin sama pak Devan ? " tanya Gino.
"Nggak kok" jawab Zahra
"Kecuali apa ? " tanya Zahra, menyela ucapan Gino
"Kecuali ke orang yang dia suka. Apa jangan-jangan, pak Devan suka kamu Ra " jawab Gino.
Zahra yang sedang meminum air putih tiba-tiba tersedak hingga berhamburan ke lantai.
' Uhuk-uhuk ' Zahra batuk-batuk akibat tersedak tadi. " Hati-hati Ra " tegur Gino.
"Ah! Masak sih " Sanggah Zahra tak percaya.
" Iya Ra, pak Devan hanya bisa bersikap lumayan lembut ke orang yang dia sukai " celetuk Gino .
" Nggak mungkin lah. Pak Devan itu good looking, Tampan lagi. mana mungkin dia suka sama bawahan kayak aku, modelan kripik tempe kayak gini lagi " ujar Zahra.
" Ya udah sih Ra. Terserah kamu mau percaya apa Nggak, tapi setauku emang gitu. Soalnya, aku udah lama kerja disini. Jadi tau, pak Devan orangnya gimana. Intinya, Dia tidak bisa mentolerir pengkhianatan apapun alasannya " kata Gino.
__ADS_1
"Ya udah. Kalo gitu, Aku mau anterin berkas ini dulu ke pak Devan biar di tanda tangani. " pamit Zahra.
"Ya, aku juga mau kembali ke Ruangan " ujar Gino. Zahra dan Gino keluar bersama.
Zahra mengetuk pintu ruangan Devan "Masuk! " teriak Devan dari dalam.
Zahra masuk ke ruangan Devan membawa setumpuk berkas yang hampir terjatuh tersenggol pintu tadi.
Devan berdiri dan membantu memegangi setumpuk Berkas itu agar tidak jatuh. Tanpa sengaja, kedua tangan Devan dan Zahra bersentuhan saat memegangi setumpuk berkas itu.
Keduanya saling mengunci pandangan sebentar. Lalu, meletakkan berkasnya di meja Devan.
" Pak ini berkas dari Gino yang bapak Pinta kemarin. Sudah saya stempel, tinggal bapak tanda tangani. Saya permisi dulu pak " Pamit Zahra berbalik badan akan meninggalkan ruangan Devan.
"Tunggu! kamu gak mau mengembalikan ini pada Gino? " tanya DevanZahra menghentikan langkahnya.
"Maksud bapak saya nungguin disini sampai bapak selesai tanda tangan berkas sebanyak ini? " tanya Balik Zahra.
"Ya " jawab Devan Datar Zahra Duduk di sofa ruangan Devan.
Sesekali, Devan curi pandang ke Arah Zahra. " Oh ya. Ngomong-ngomong, kamu gak ada niatan cari pasangan? " tanya Devan membuka pembicaraan.Zahra celingukan kesana-kemari .
" Bapak bicara sama saya? " Zahra malah berbalik tanya pada Devan.
"Ya iyalah. Siapa lagi di ruangan ini selain kamu dan saya " jawab Devan.
" Saya belum nemuin pria yang tepat pak. Semua pria yang datang di hidup saya cintanya palsu " ujar Zahra.
"Emang tipe pria idaman kamu seperti apa ? " tanya Zahra.
"Seperti bapak" jawab zahra keceplosan.
"Apa ??? " tanya Devan tak percaya apa yang di katakan Zahra barusan.
"Eh maaf pak. Maksudnya, Pria idaman Saya itu yang Baik hati, bertanggung jawab, Dewasa dan perhatian gitu pak " jawab Zahra.
__ADS_1
" Nih, Semuanya sudah saya tanda tangani. " ujar Devan. Zahra Berdiri dan membawa setumpuk berkas itu keluar ruangan Devan.