
'Bruk!' Devan jatuh pingsan tiba-tiba saat bekerja di kantor, "Van, Devan!. "Gino menabok pipi Devan berharap saudaranya itu sadar.
Devan membuka matanya perlahan, "Gin... jangan khawatir, aku tidak apa-apa, " ucap Devan, bibirnya berusaha tersenyum walau menahan sakit di kepalanya yang luar biasa..
"Kita ke rumah sakit ya Van, aku takut kamu kenapa-napa... "
Gino di bantu para karyawan membawa Devan ke rumah sakit, gino tidak tega melihat Devan terus begini, pikirannya selalu tertuju pada Zahra, hanya wanita itu yang Devan butuhkan saat ini.
Tanpa basa-basi lagi, Gino segera menyusul Zahra ke butik
\=\=\=\=oooOooo\=\=\=
"Zahra! " teriak Gino, langkahnya terhenti mengatur nafas yang sedikit terengah-engah.
"Ada apa Gin? kok kamu khawatir begitu? " tanya Zahra menghampiri Gino.
"Ra... sepertinya Devan drop lagi Ra, " jawab Gino mondar-mandir kesana-kemari.
Zahra hanya tercengang, berusaha untuk menyembunyikan ekspresi paniknya, "Kenapa kamu bilang ke aku? bukankah ada istrinya? " tanya Zahra.
"Dia belum menikah Ra, wanita itu meninggal di hari pernikahannya, " jawab Gino memaklumi, Zahra memang tidak tahu yang terjadi saat pernikahan Devan.
'Jleb' Zahra semakin tertegun mendengar ucapan Gino, dia sadar ternyata selama ini Devan tidak menikah dengan siapapun.
Ada perasaan senang sekaligus sedih dalam benak Zahra, senang karna Devan masih belum menikah, sedih karena ia gegabah mengambil keputusan untuk bercerai dari Devan.
"Ya sudah ayo! " ajak Zahra segera mengambil tas dan berlalu keluar dari butik.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Zahra dan Gino duduk di kursi tunggu, sejujurnya Zahra mencemaskan Devan, tapi berusaha untuk tetap terlihat tenang
2 menit kemudian...
Dokter keluar dari ruangan Devan, Gino segera berdiri dan menghampirinya.
"Gimana keadaan kakak saya dok? " tanya Gino.
"Sel kankernya tumbuh lagi, saya harap pasien bisa kembali melakukan kemoterapi, " jawab sang dokter dengan perlahan, agar Gino tidak syok.
"Lakukan yang terbaik dok, " pinta Gino, demi keselamatan Devan apapun akan ia lakukan.
"Baiklah, nanti akan saya siapkan semuanya... kalau begitu saya permisi dulu, " pamit dokter memohon izin meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Gino terduduk kembali, dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sabar Gin... kita lakukan apapun demi kesembuhan Devan, " ucap Zahra menepuk punggung Gino.
"Kamu benar Ra... kita harus utamakan kesembuhan Devan. " Gino membenarkan ucapan Zahra.
Zahra masuk ke dalam, berapa sesaknya hati melihat Devan yang kemarin masih ada di butinya, kini harus terbaring lemah di rumah sakit.
Air mata Zahra menetes tidak kuasa menahan tangisnya lagi.
"Sabar Ra... dia pasti baik-baik saja kok, " pungkas Gino menenangkan hati Zahra.
"Kankernya tumbuh lagi Gin, aku khawatir padanya. "
Devan tidak sedikitpun lepas dari pandangan mata Zahra, di tengah kekhawatirannya, Gino masih berusaha tersenyum di depan Zahra.
"Kamu tenang aja Ra... aku akan lakukan segala cara agar Devan bisa segera sembuh, " pungkas Gino.
Zahra hanya terdiam mematung, netranya menjelajahi setiap sudut di dinding ruangan Devan, di jamannya jadi tangan Devan perlahan, "Kamu harus kuat Mas... Demi aku, " pungkasnya lirih.
Gino sedikit tersenyum masam, jika Devan tau Zahra masih mengkhawatirkannya, dia pasti akan lebih bahagia.
Tigga menit kemudian, bu Alika datang setelah di kabari Gino, sontak bu Alika memeluk Zahra, bu Alika sama sekali tidak marah atas perceraian Zahra dengan Devan, putranya itu sudah menjelaskan sebelumnya.
"Mas Devan Ma... " pekik Zahra suaranya seperti tercekat di kerongkongan.
"Kita hadapi semuanya sama-sama ya nak, " kata Bu Alika.
Bu Alika sebenarnya sungguh sangat menyayangkan perceraian Devan dan Zahra. Namun, sebagai orang tua bu Alika percaya baik Devan dan Zahra sudah bisa mengatasi masalah mereka sendiri.
"Zahra... " panggil Bu Alika.
"Iya Ma, " sahut Zahra beranjak berdiri mendekati bu Alika.
"Mama mohon... setelah Devan sadar nanti, kamu rujuk sama dia ya, bahagiakan dia... cuma kamu yang bisa menjaga dia, " pinta Bu Alika air matanya menggumpal di pelupuk mata bersiap untuk menetes.
"Baiklah Ma.... " Zahra menyanggupi permintaan dari Bu Alika.
Gino tercengang, begitu setianya Zahra mengabdikan seluruh hidupnya untuk merawat Devan dengan ketulusan hati.
\=\=\=\=oooOooo\=\=\=
Malam itu, Zahra menemani Devan bersantai di balkon rumah,"Zahra... " panggil Devan.
"Iya Mas, kamu butuh sesuatu? " tanya Zahra.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya mengucapkan terima kasih, kamu sudah setia selama ini merawatku... " tukas Devan
Zahra melingkarkan tangannya di dada Devan, "Tidak apa-apa Mas... aku kan istrimu, sudah kewajibanku menjagamu disini, untuk perusahaan... sudah ada Gino yang mengurusnya kamu tenang saja, "
Devan mencium punggung tangan istrinya itu, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan sekarang hanya terduduk di kursi roda, penyakit kankernya semakin hari semakin parah.
Zahra hanya bisa menatap mata suaminya itu lekat-lekat, perlahan air matanya menetes. Bukan menyesal atau apa, tapi Zahra benar-benar takut kehilangan Devan.
Begitulah realita, cinta suami di uji ketika istrinya sudah tidak cantik lagi, namun cinta istri di uji ketika suaminya tidak punya apa-apa lagi termasuk di titik paling terendah.
Seberapa mampu kita melewati ujian dan halangan tersebut untuk membuktikan kekuatan cinta yang sebenarnya.
Devan membelai lembut pipi Zahra, "Jangan menangis lagi, nanti kecantikanmu luntur, " goda Devan, tidak ingin membuat Zahra bersedih.
Zahra berusaha tersenyum walau terpaksa, dia terdiam saat Devan merangkulnya perlahan.
"Nanti.. kalau aku tidak ada, kamu jangan sedih ya... aku akan tetap menjagamu dari jauh, kamu berhak mencari kebahagiaanmu tanpa aku, " kata Devan
"Kamu apaan sih Mas! emang kamu udah nyerah gitu aja! kamu tega ninggalin istrimu sendirian! " gertak Zahra menyeka air matanya.
Zahra masih berharap Devan bisa sembuh dan kembali seperti semula, tapi namanya manusia hanyalah bisa berencana, selebihnya tuhan yang menentukan.
Zahra membawa Devan masuk ke rumah.
\=\=\=\=\=oooOooo\=\=\=
Semua karyawan kantor menjenguk Devan di rumah.
"Pak, cepat sembuh ya pak... kita kangen sama kegalakan Bapak di kantor, " pungkas Ara, menatap Devan dengan tatapan sendu.
"Iya Pak, tidak ada Bapak kantor jadi sepi, cepat sembuh ya Pak... galak-galak gini bapak ngangenin loh Pak, " timpal Mbak Ella.
"Woy Mbak! ada istrinya tuh di pojokan! " sindir Angga melirik sekilas ke arah Zahra.
Mbak Ella menutup mulutnya, "Ups! lupa kalau sekarang Pak Devan suami orang ternyata! " tukas Mbak Ella mengundang gelak tawa dari semua karyawan.
"Ngomong Mulu! mana oleh-olehnya buat saya... " canda Devan.
"Ya.. Tidak bawa Pak, hanya bisa bawain Do'a buat bapak semoga sembuh ya Pak, " timpal Mbak Ella.
"Aamiin..... "
__ADS_1
Devan mengaminkan dia dari karyawannya itu, berharap tuhan masih memberinya kesempatan kedua untuk menjaga Zahra.