
"Kita udah sampai Ra, " kata Devan, sambil menghentikan mobilnya di parkiran motor.
"Ehm, iya, " sahut Zahra sembari turun dari motor, keduanya masuk bersamaan dalam mall, Devan mengaitkan tangannya ke tangan Zahra
"Ra, kalo ada yang kamu suka ambil aja, " ujar Devan
"Hem, aku ngikut aja deh, "kata Zahra.
"Bener nih gak ngiler sama barang yang ada disini?" tanya Devan,
"Yakin lah, kan aku niat ngikut doang nggak beli apa-apa, " jawab Zahra nggak enak jika apa-apa harus di bayarin Devan.
"Ya udah deh, " ucap Devan, mereka masuk ke lapak penjual jas, Devan memilah- milah.
"Yang mana ya Ra, yang cocok untuk aku? " tanya Devan, mata Zahra tertuju pada jas berwarna putih tulang dengan dua saku di depan, hatinya tergelitik mengambil jas itu
"Yang ini aja, " usul Zahra memberikan jas di pegangnya
"Iya ya, bagus juga kainnya hangat, sehangat pelukanmu," gumam Devan,
Zahra tersenyum "Bisa aja ngegombalnya ini orang " batin Zahra pipinya merah merona tersipu malu
Devan segera membayar jas itu ke kasir, ia melihat ada lapak yang menjual perhiasan di sebelah. "Ra, ayo kita kesana," ajak Devan,
"Ngapain? mau beli perhiasan emangnya?" tanya Zahra,
"Udah, ayo ikut saja " ajak Devan, menari tangan Zahra
"Mbak, tolong pilihkan gelang yang bagus buat pacar saya ya mbak, " Devan bicara ke pada sang penjual perhiasan, Zahra kaget, dirinya benar- benar tak menyangka Devan kekasihnya itu akan membelikan perhiasan untuknya,
"Gak usah Van, " ucap zahra lirih
"Ini mas, cocok untuk mbaknya, " sang mbak penjual rekomendasikan gelang emas polos dengan liontin berbentuk bunga berhiaskan permata ungu menambah kecantikan gelang itu.
Devan mengambil gelang itu, ia mencoba memakaikannya pada Zahra "Sepertinya, ini cocok, " gumam Devan, Devan membayar gelang emas itu pakai kartu atm-nya, Zahra melotot lihat struk harga gelang emas itu
" lima juta? " tanya Zahra.Baginya, lima juta itu sangatlah besar.
"Iya, harga emang segitu, " jawab Devan.
"Kamu tahu gak? Lima juta ini bisa buat biaya kuliahku satu semester dulu," omel Zahra, Devan hanya mengerutkan dahi.
"Itu gak seberapa kok, lagipula, aku juga kadang belikan mama perhiasan disana, " celetuk Devan.
"Bagiku, gelang itu terlalu mahal, cari yang murah kan ada, "kata Zahra
"Ya ada sih, tapi masak buat orang spesial belinya yang murah.. ogah ah, " ujar Devan. Zahra mengapit lengan Devan.
__ADS_1
"Sayang, bagi aku, kamu belikan gelang ini aja, aku udah bersyukur.. nggak perlu semahal ini, " ucap Zahra.
"Nggak apa-apa, namanya aku juga pengen bahagiain kamu, " kata Devan, langkah Devan terhenti mendengar sesuatu.
"Kenapa malah berhenti? " tanya Zahra,
"Perut kamu bunyi, makan dulu yuk, " ajak Devan.Mereka berdua mampir di sebuah resto kecil yang tak jauh Dari mall itu,
"Kamu mau makan apa?" tanya Devan, Zahra membuka buku menu yang di letakkan di meja "Nasi goreng kayaknya enak nih.. Eh, mi goreng juga enak, ih.. Spagettinya bikin ngiler nih, " celetuk Zahra tergiur sekali
Devan sangat kaget, ia menelan salivanya
"Kamu yakin Ra? " tanya Devan zahra mengangguk.
"Iya.. aku laper" jawab zahra.Devan memesankan makanan yang di pesan zahra, "Gak yakin deh, ngabisin makanan sebanyak ini, " ujar Devan.
"Makan aja dulu,"kata Zahra, keduanya mulai menyantap makanan.Zahra terengah-engah di sela-sela makannya
"Udah kenyang nih, " tukas Zahra, Devan meminta sisa makanan di bawa pulang.
"Ra, tunggu sini.. aku mau bayar "kata Devan.
Devan beranjak ke kasir untuk membayar makanannya,
" Pak Devan, " sapa seseorang dari belakang.Refleks, Devan menoleh ke sumber suara itu.
"Nggak, saya tadi ngeliat bapak disini, saya samperin pak, " jawab Friska santai.
"Oh," sahut Devan datar.
"Saya tadi liat bapak bersama wanita cantik, siapa pak? "tanya Friska Devan menoleh ke mejanya.
"Saya tadi," Devan melihat Zahra sudah tak ada di resto.
"loh, Zahra kemana ya? apa dia kabur ngeliat si Friska? " Devan bertanya dalam hati.Friska ikut celingukan melihat Devan sepertinya, ia mencari seseorang.
"Cari siapa pak? " tanya Friska.
"Oh nggak kok, saya duluan ya "jawab
Devan sekaligus berpamitan pada Friska.
Zahra mengusap dadanya, ia sempat kabur sebelum Friska melihatnya. "Untung sempat kabur tadi, kalo nggak.. auto ada wawancara dadakan besok di kantor, " batin Zahra lega.
Devan menepuk punggung Zahra, "Kamu ini, kenapa sih keluar gak pamit? " tanya Devan.
" Kan tau sendiri, ada Friska tadi, ya udah kaburAja," jawab zahra.
__ADS_1
"Friska liat tadi, tapi dia gak ngenali kamu deh, " kata Devan sambil asyik memasukkan barang ke jok motornya
"Ah masak sih? " tanya Zahra tak percaya.
"Ya udah kalo gak percaya, " jawab Devan. Zahra dan Devan bergegas pulang ke rumah.
Pagi-pagi sekali, Friska sudah bikin heboh orang sekantor. "Mbak, tadi malem aku liat pak bos loh.. sama cewek cantik banget, tapi aku gak ngeliat mukanya, "celetuk Friska membuka obrolannya sambil nyemil Snack.
Mbak Ella staf paling senior di kantor itu kaget, lipstiknya hingga kemana- mana "Apa? Serius kamu fris? " tanya Mbak Ella.
"Serius mbak,"jawab Friska
, "Ada apa nih,ya ampun mbak, mbak tak kira badut loh, " Ara yang ikut bergabung dengan mereka tertawa karna lipstik mbak Ella yang gak karuan itu.
"Ya gara-gara kalian heboh banget, lipstikku jadi tembus ke pipi, " jawab mbak Ella.
Ara tertawa terbahak-bahak, "Emangnya ada berita heboh apa sih Fris? " tanya Ara lagi
"Itu loh Ar, pak Devan tadi malem bareng sama cewek cantik, nih..," jawab Friska menunjukkan foto di ponselnya
"Cewek ini, kok kayak Zahra ya, tapi kok dia gak cerita " umpat Ara dalam hati, ia curiga jika itu Zahra
"Pagi semua," sapa Lia datang bersamaan dengan Zahra.
"Zahra, Lia, kalian udah tau belum kalo tadi malem pak bos kita jalan sama cewek, kayaknya pacarnya deh,"kata Mbak Ella memberitahu mereka berdua
Zahra hanya terdiam.Sedangkan Lia, ikut kepoin foto di ponsel Ara.
"Kalo bener itu pacar pak bos, apa pacarnya pak bos kerja disini juga? " tanya Friska
"Nggak kok, "Zahra tiba- tiba keceplosan ikutan menjawabnya.
Semua perhatian beralih ke Zahra. "Kamu kenal Ra ke pacar pak bos itu? " tanya Friska, Ara paham sahabatnya lagi terpojok.
"Ya, bisa aja itu sahabatnya Zahra kali, " Ara ikut bantu Zahra menjawab pertanyaan Friska.
"Iya, dia sahabatku, " jawab Zahra
"Duh, gak ada harapan lagi nih, deketin si bos.. "celetuk Friska.
"Sabar fris, kan ada ayang Doni tuh, yang jadi garda terdepan buat kamu, " Mbak Ella berusaha menenangkan Friska.
"Ya udah deh, gak ada si bos, bujang lapuk pun jadi, " ujar Friska semua tertawa terbahak- bahak
"
__ADS_1