ZAHRANA

ZAHRANA
menemani berjuang


__ADS_3

Zahra hanya menatap pria yang sudah lama menjadi kekasihnya itu lekat-lekat, rasa penasaran muncul di benak Zahra, apakah Devan menyembunyikan sesuatu darinya?



Tak ingin berfikiran buruk, Zahra membuang pikiran negatifnya, yakin pada dirinya sendiri Devan tidak akan sembunyikan apapun.



"Ya udah Ra, saya mau ke ruangan Abi dulu, ada urusan penting, " pamit Devan berusaha menghindar dari Zahra.



Devan beranjak berdiri dari duduknya, dia berlalu meninggalkan Zahra sendirian di dalam ruangannya.



Pandangan mata Zahra menyapu di setiap sudut lantai, tampak secarik kertas berhambur di lantai.



Zahra mengambil kertas itu dan membacanya dengan seksama, mimik muka Zahra berubah ketika membaca kertas itu, tangannya menjadi gemetar bulir bening perlahan menetes dari pelupuk matanya.



Harapan Zahra untuk bersama Devan seolah terkikis setelah mengetahui penyakit yang di derita Devan.



Zahra tidak bisa membayangkan jika Devan memendam semua ini sendiri, sungguh di luar ekspektasinya.



"Zahra, kamu ngapain disini? "



Suara Gino membuat Zahra tersentak kaget, di lipatnya kembali surat itu.



Dengan hati hancur, Zahra mendekat ke Gino, "Gino, apa kamu tau sesuatu tentang Devan? " tanya Zahra mengintrogasi Gino.



Di tanya seperti itu membuat Gino menjadi gelagapan, dahinya mengeluarkan keringat dingin yang mengucur di wajahnya.


"Ti-tidak "


Zahra semakin beringas, rasa iba di hatinya seolah memudar begitu saja.



"Apa kamu siap terima hukuman dariku jika aku kamu berbohong? "



Pertanyaan Zahra kali ini membuat Gino bergeming, di satu sisi dia berjanji pada Devan untuk tidak membocorkan tentang penyakitnya.



Zahra menarik kerah baju Gino dengan sarkas, dia menunjukkan secarik kertas dari rumah sakit kepada Gino.


"Ini apa Gino! kamu saudara Devan, tidak mungkin jika kamu tidak mengetahui semua ini! " jerit Zahra.


Kali ini Zahra begitu murka pada Gino, dia tidak suka di bohongi seperti ini.



"Ada apa ini! "



Devan yang baru saja kembali dari ruangan Abi, terbelalak kaget melihat Zahra sudah menarik kerah baju Gino dengan penuh amarah.



Melihat kedatangan Devan, hatinya semakin di hujami kekesalan, Zahra menghampiri Devan, menatapnya dengan tatapan yang nyaris tajam sekali.


"Pak Devan Arprana! kenapa anda tega sekali membohongi saya apakah saya tidak penting lagi bagi anda ? "


'Jleb' pertanyaan Zahra sukses membuat Devan membisu sejenak.



"Kamu sangat penting bagi saya, makanya... saya tidak ingin membuat kamu bersedih atas penyakit saya, " pungkas Devan pasrah.

__ADS_1


"Pilihan sekarang ada di tangan kamu Zahra, memilih bertahan dengan saya atau pergi mencari pria lain yang lebih baik dari saya... saya pun tidak akan memaksa, " tambahnya.


Ucapan menohok yang keluar dari mulut Devan membuat hati Zahra terasa sakit, bagaimana mungkin dia akan mencari pria lain, sedangkan dalam hatinya hanya ada Devan.



"Aku akan tetap memilih bertahan menunggu hingga kamu sembuh, " celetuk Zahra.



Devan merasa luluh dengan ucapan Zahra, kesetiaan Zahra memang tidak akan tergantikan dengan apapun.



"Bukankah seorang pasangan itu harus saling melengkapi... aku Zahra, tidak peduli gimanapun kondisi kamu, akan ku temani kamu berjuang melawan penyakitmu, " tukas Zahra penuh ketulusan.



Devan memeluk Zahra dengan erat, dia bersyukur memiliki wanita yang mau menerima segala kekurangannya.



Gino juga menitikkan air mata, hatinya tersentuh dengan ketulusan dan kesetiaan Zahra pada Devan.



\=\=\=\=oooOooo\=\=\=



Zahra menemani Devan kemoterapi di rumah sakit, suasana rumah sakit di siang itu tidak begitu ramai, hanya para perawat dan dokter berlalu lalang menangani pasien.



Zahra dan Devan duduk di kursi tunggu menunggu antrian untuk di panggil.



"Kamu semangat ya Mas.. aku berdoa semoga kamu cepat sembuh, " ucap Zahra memegang lembut tangan Devan memberinya semangat.



Devan membalasnya dengan senyuman, dirinya tidak merasa khawatir lagi, karena Zahra berada di sampingnya.




Rambutnya pun sudah botak karena terkena Zat kimia pada yang terkandung pada obat kemoterapi.



"Bagaimana jika nanti aku jadi seperti itu, "



Celetuk Devan jari telunjuknya menunjuk pasien itu, Zahra pun ikut menoleh ke arah yang di tunjuk Devan.



Zahra berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan Devan, Zahra tidak ingin semangat Devan untuk sembuh terkikis hanya karena melihatnya menangis.



"Tenanglah, kamu akan sembuh, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, " tukas Zahra mengelus bahu Devan.



Decitan suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Devan "Tuan Devan Arprana silahkan masuk! " panggil seorang suster.


Devan masuk ke ruangan itu di ikuti Zahra, batinnya menyeruak saat memasuki ruang kemoterapi.


Melihat Devan yang sangat gelisah, Zahra menggenggam tangan Devan, berharap Devan bisa tenang menjalani kemoterapi.


Genggaman tangan Zahra membawa ketenangan di hati Devan, dirinya yang semula di Landa kegelisahan, kini memudar setelah tangannya di genggam Zahra.


1 jam kemudian...


Kemoterapi sudah selesai, Dokter memberikan resep obat khusus untuk Devan konsumsi setiap hari.



Devan dan Zahra beranjak keluar dari ruangan kemoterapi.


__ADS_1


"Tunggu sini ya Mas... biar aku tebuskan obatnya di apotik, " ujar Zahra berlalu meninggalkan Devan menuju apotik.



"Ah, lebih baik aku nunggu di mobil saja, "


Devan bermonolog sendiri, dia paling tidak bisa bila harus menunggu, menunggu itu bagi Devan adalah hal yang paling membosankan.


\=\=\=oooOooo\=\=\=



Usai menebus obat di apotik, Zahra kembali ke tempat Devan berada.Namun sayangnya, Zahra tidak mendapati Devan berada disana.



Zahra tentu saja panik, berlarian kesana kemari mencari Devan hingga sore hari.



"*Apa yang aku katakan pada mama**nya Devan jika tidak pulang bersamanya*? "


Zahra membatin, dia yang turut mengantar Devan, dia juga yang bertanggung jawab membawa Devan kembali.


Tak kunjung menemukan Devan, Zahra memutuskan kembali ke mobil.



\=\=\=\=oooOooo\=\=\=


"Pak Devan! astaga! " Zahra tersentak kaget saat melihat Devan sudah berada di mobil


Cemas sekali, Zahra mentoel pipi Devan "Pak Devan bangun Pak, " pungkas Zahra khawatir jika Devan sampai pingsan lagi.



"Hmm.... " Devan menyahut, matanya masih berat sekali untuk terbuka. Pelan tapi pasti, Devan membuka matanya.



Zahra bernafas lega, ternyata Devan masih baik-baik saja.



"Kenapa? " tanya Devan mengerjapkan matanya.



"Tidak apa-apa, aku kira kamu pingsan tadi... " jawab Zahra melirik ke arah Devan



Devan tersenyum melihat sang pujaan hatinya begitu khawatir.


"Kenapa senyum gitu? "


Zahra mengernyitkan dahinya, yang di khawatirkan malah tersenyum seolah enteng tanpa beban sedikitpun.



"Muka kamu gemesin kalau lagi panik....." Devan menanggapi kepanikan Zahra dengan candaan.



"Aaargh! "


Devan meringis kesakitan karena Zahra mencubit perutnya.


"Biarin! suruh siapa bikin orang panik! mana udah tujuh kali muterin rumah sakit, eh yang di cari malah disini dasar!. " Zahra menggerutu kesal.


Devan menunggingkan senyum kepada Zahra, "Senyum dong... belum tentu aku bisa lihat senyummu lagi, " goda Devan, senang sekali mengusili Zahra.



"Ck! apaan sih kamu! "



Zahra berdecak, dia tidak suka sifat pesimis Devan. Padahal, kesembuhan Devan adalah yang utama bagi Zahra.



"Makanya... senyum dong, biar aku tidak pesimis lagi, " celetuk Devan.


__ADS_1


Zahra pun mengulum senyum kepada Devan walaupun hatinya masih di selimuti kesedihan.


Devan melajukan mobilnya mengantar Zahra pulang.


__ADS_2