
Keluar dari ruangan Devan,Zahra langsung ke Ruangan Gino."Nih berkasnya.Lain kali,kalo berkasnya bertumpuk-tumpuk nggak usah nyuruh aku. Berat tau !"protes Zahra.
"Iya , tapi kamu senang kan bisa bertemu pak Devan?"tanya Gino, entah kenapa dirinya begitu suka sekai menggoda Zahra dan Devan
"Ck,kamu bisa aja"ujar Zahra mendengus kesal.Gino nyengir kegirangan melihat Zahra salah tingkah ketika di goda olehnya.
"Ya udah deh,Aku balik dulu"pamit Zahra.Ia bergegas membuka pintu.Namun,tak lama ia menutupnya kembali.Matanya mendelik tak percaya dengan apa yang di lihatnya,Zahra urungkan niatnya untuk keluar dari ruangan
"Ada apa Ra?"tanya Gino kebingungan, melihat Zahra yang begitu panik sekali.
"Anu_,"jawab Zahra kata-katanya terhenti begitu saja, seperti tercekat di tenggorokan.
."Anu apa sih?"Gino semakin kebingungan melihat tingkah Zahra."
Fani..., "Zahra menyebut nama seseorang.
"Oh,Fani karyawan baru itu,kamu mengenal dia?"tanya Gino lagi.zahra mengingat lagi momen 3 tahun lalu.dimana,Fani ungkapkan perasaannya pada Zahra di depan kelas dan di depan teman-temannya, sungguh malu sekali jika Zahra harus mengingat kejadian itu lagi.
"Iya,Fani adalah kakak kelasku jaman sekolah dulu.ia pernah mengungkap perasaannya di depan kelas juga di depan temanku"jawab Zahra, jujur kepada Gino.
Dulu, Zahra tak terima Fani sebagai pacarnya karena Fani terkenal tempramental dan bad boy. Zahra tidak menyukai pria type seperti itu, pria idamannya adalah pria yang keep calm dan baik.
"Wadidaw,pak Devan punya saingan nih Ra."celetuk Gino, membuat Zahra semakin penasaran sajadi buatnya.
"Maksudnya saingan apaan gin?"Zahra tak mengerti yang di maksud ucapan Gino tadi.
"udahlah,lupakan.Lagian gak penting juga kok, "jawab Gino, percuma saja menjelaskan, Zahra tidak akan pernah bisa mengerti dan percaya.
"Ya udah deh,Aku balik dulu ya"pamit zahra. iapun keluar dari ruangan Gino dengan perlahan takut berpapasan dengan Fani lagi.
Zahra berharap Fani tak mengingatnya.3 tahun yang lalu merupakan momen memalukan bagi Zahra.
"Zahra.."panggil Fani yang memergoki Zahra melewati ruang kerjanya.Zahra menghentikan langkahnya,Fani pun menghampiri Zahra.
__ADS_1
"Akhirnya,Aku menemukanmu Ra, " lanjut Fani girang bisa bertemu Zahra kembali setelah sekian lama lulus.
"Apaan nih orang,sok puitis banget "batin Zahra bergidik ngeri menatap Fani, dia berjaga jarak dengan Fani.
"Maaf Fan.Aku sibuk, aku pergi dulu."Zahra pergi ke ruang kerjanya dan meninggalkan Fani sendirian, Zahra terus berusaha untuk menghindar dari Fani.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Zahra."Masuk!"teriak Zahra, jantungnya berdetak lebih cepat, takut bila Fani s mengejarnya sampai ke ruang kerja.
Zahra mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.tampakdari sorot matanya ia gelisah,"Kamu kenapa kok gelisah gitu?"tanya Devan yang baru saja masuk setelah Zahra mempersilahkannya masuk.
"Nggak apa-apa pak.mungkin,saya kurang enak badan, " jawab Zahra beralasan, tak ingin Devan sampai tahu jika dirinya panik karena sengaja menghindar dari Fani.
Devan menempelkan punggung tangannya ke dahi Zahra."Nggak panas sih,"gumam Devan, memastikan kondisi Zahra apakah sedang demam.
"Ada apa kesini pak?"tanya Zahra, alihkan pembicaraan.
"Ini,tolong kamu antarkan berkas ini kantor klien.Sekaligus,kamu minta tanda tangan ya, "jawab Devan memberikan sebuah map merah pada Zahra.
Zahra mengambil map yang di berikan devan, ia beranjak berdiri.Lalu,melangkah keluar ruangan.
"Nggak, "jawab Zahra datar.Zahra terus berjalan tanpa menggubris Fani, dia benci jika harus di kawal begitu bagai ratu saja.
Devan memantau Zahra dari jauh."Kenapa Fani terkesan dekat banget dengan Zahra? "batin Devan, dengan cepat ia menepis pikiran aneh tentang Zahra.
Devan menghampiri Fani yang mengantar Zahra sampai gerbang."Zahra.sampai kapanpun,Aku akan menunggu jawabanmu di depan kelas tiga tahun yang lalu."umpat Fani dalam hati.
Devan menepuk pundak Fani,"Kamu ngapain disini?"tanya Devan, menatap nyalang sekali ke Fani, dia tak suka Fani terus membuntuti Zahra.
"Itu pak, mengantar Zahra"jawab Fani, tak mungkin dia bilang jika sebenarnya ingin bersama Zahra disini, bahkan rela masuk perusahaan ini demi menemukan Zahra.
"Zahra bukan anak kecil yang perlu kamu Antar,cepat kembali kerja!"ketus Devan, ia berjalan mendahului Fani.
Fani masuk kembali ke dalam kantor itu. "Tunggu,"panggil Devan, menghentikan langkah Fani dan menghampirinya.
__ADS_1
Fani berhenti dan menoleh ke Devan,"Ada apa pak,"sahut Fani, berbalik menoleh ke arah Devan yang sedang memanggil dirinya.
"Kamu siapanya Zahra Kok ngintilin dia terus?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Devan, karna tak ingin menaruh perasaan curiga sedikitpun kepada Zahra.
"Aduh! harus jawab apa nih ke pak Devan.., gak mungkin kan, aku bilang kalo aku suka ke Zahra,"batin Fani, otaknya berfikir keras memikirkan jawaban apa yang akan di berikan pada bosnya itu.
"Saya temannya Zahra waktu SMP pak"jawab Fani berkilah, tak ingin Devan sampai tahu jika dirinya masuk perusahaan ini karena Zahra.
"Ingat ya! Kamu karyawan baru disini.Jaga Attitude kamu."Devan memberi peringatan pada Fani agar tidak seenaknya mengganggu karyawan yang sedang bekerja disini.
"Iya pak,"ucap Fani, terkesiap mendengar peringatan dari sang Bos. Devan pergi ke ruangannya meninggalkan Fani sendiri.
Devan sebenarnya belum puas dengan jawaban Fani, mana ada ngakunya teman tapi sedekat itu.Tapi ya sudahlah, Devan tidak ingin ikut campur urusan Fani maupun Zahra.
Fani tetap menunggu Zahra di ruangannya, dia cemas karena wanita pujaannya itu belum juga kembali ke kantor, takut terjadi apa-apa di luar sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zahra sengaja tidak cepat kembali ke kantor, dia tahu Fani pasti sedang menunggunya. Pria itu memang tak tahu malu, sudah berkali-kali di tolak, masih saja mengejarnya.
Zahra mengemudikan motornya dengan sangat begitu lambat, agar Fani bosan menunggunya dan cepat segera pergi.
Zahra mampir sejenak untuk ngopi, selain pusing memikirkan kerjaan, dia juga pening memikirkan Fani yang tidak ada hentinya mengejar dirinya.
Sebuah kopi hitam manis tersaji di meja Zahra, aromanya membuat Zahra agak sedikit lebih tenang pikirannya, Zahra menyesap kopi itu perlahan agar makin terasa nikmatnya.
"Ah, benar kata orang, kopi akan membuat jiwa semakin waras, " gumam Zahra, suka dengan takaran kopi yang di buat oleh pemilik kedai itu.
Zahra melirik jam tangannya, matanya membulat sempurna melihat jarum jam sudah menunjuk ke angka 11, dia cepat habiskan kopinya dan segera kembali ke kantor
__ADS_1
_Bersambung_