ZAHRANA

ZAHRANA
Berbohong


__ADS_3

"Ada apa kak? kok mukanya kusut begitu? " tanya Ara melihat kakaknya baru datang sudah memasang wajah murung.


"Tuh si mantan! hadir lagi di kantor ini, " pungkas Lia netranya membelalak menyimpan kemarahan.


"Ya elah! cuma gara-gara mantan doang, tela sampai kayak benang kusut gitu, " timpal Ara merasa begitu konyol dengan tingkah Lia.


"Enteng banget tuh mulut bicaranya, menurut desas-desus yang aku dengar, dia bakalan gabungin perusahaannya dengan perusahaan kita... otomatis, dia bakalan selalu datang ke kantor ini! "


Lia bersungut, raut mukanya seperti memendam amarah atas rasa sakit dalam hatinya.


Ara memainkan ballpointnya, menatap nanar ke arah Lia, "Asiiik! bisa tebar pesona sama mantan dong kalau gitu... " mulai kumat lagi tingkah usil Ara yang membuat Lia terusik.



"Terserah! " Lia mengabaikan Ara, dia gegas berlalu keluar dari ruangan adiknya itu, jika di biarkan penyakit sensinya akan kambuh.



"Dih! sensian amat kakakku! " cibir Ara pelan, namun Lia masih bisa mendengarnya.



"Biarin! " sahut Lia



\=\=\=oooOooo\=\=\=



Abi mengumpulkan semua staf dan karyawan yang di aula kantor.


"Mendadak banget Pak Devan ngumpulin kita disini gerah nih, makeup jadi luntur, " protes Mbak Ella tidak lepas dari cermin kecil kesayangannya.


"Sabar Mbak... walaupun tidak memakai polesan make up wajah Mbak tetap cantik kok, sekebun binatang, "



Seperti biasa, guyonan Ara mengundang gelak tawa dari rekan-rekan kantornya.



"Ada apa lagi sih ini... "


"Tau! ada aja Pak bos ngumpulin kita di aula ini, mana tidak ada AC nya lagi gerah, "


"Pak bos lama amat sih datangnya! "


Ara yang panas mendengar ocehan demi ocehan itu di tambah dengan panasnya aula kantor itu membuat kemarahannya sedikit beringas.



"Heh dek! kalo tidak suka dengan aturan disini mendingan tidak usah kerja! " bentak Ara matanya melotot membuat ketiga staf divisi accounting itu tertunduk ketakutan.


"Udah Ar! namanya juga junior, " ujar Zahra menghalau pertengkaran sahabatnya dengan ketiga staf itu.


Suasana seketika menjadi hening, semua mata tertuju pada kedatangan Devan dan Gino membuat yang berada disitu keheranan.


Sungguh baik hati Devan, walau hampir setengah sahamnya di rebut Gino tapi tidak ada dendam sedikitpun.Hatinya bak seperti malaikat, walaupun untuk soal pekerjaan Devan tampak begitu serius.


"Maksud dan tujuan saya disini ingin memberitahukan... jika saya sepakat untuk menggabungkan perusahaan kita dengan perusahaan Gino,"


Devan mengumumkan itu di depan seluruh staf dan karyawan yang bekerja di kantor.

__ADS_1



Bukannya menanggapi positif, justru makian demi makian tidak segan mereka lontarkan kepada Gino.



Citra Gino menjadi buruk di mata semua rekan-rekannya semenjak berusaha merebut saham perusahaan milik Devan.


"Dasar! tidak tau malu! sudah meraib saham milik perusahaan, kini mau gabungin perusahaannya dengan perusahaan ini! "


"Oh... dia perebut saham milik Pak bos itu ya, makin berani sekali dia! "


"Mimpi dia! kita menolak lupa apa yang dia lakukan pada Pak bos! "


Begitulah makian demi makian sadis yang terucap dari mulut satu persatu staf dan karyawan.


Makian mereka tidak sedikitpun membuat Gino sakit hati, karena hanyalah seperti itu cara dia menebus kesalahannya pada Devan.


Devan menatap Gino dengan tatapan memelas, dia tidak sanggup melihat saudaranya di maki dan di cela oleh karyawannya sendiri.


Dengan suara lantang, Devan menegur mereka semua, "Sejahat apapun perbuatan dia terhadap saya, dia tetap saudara saya! " pungkasnya.


Teguran Devan mampu membuat semuanya terdiam, suasana menjadi hening kembali.



"Kalian tidak boleh memandang seseorang hanya dari sisi buruknya! termasuk yang senior! kalian juga harus ingat dulu kebaikan Gino, kalau tidak ada Gino mungkin perusahaan ini akan bangkrut. "



Para karyawan senior yang menghujat Gino langsung kicep mendapat nasihat menohok dari Devan.



Tegas dan bijak. Devan tidak ingin para pekerja disini berasumsi negatif pada Gino.


Devan pergi meninggalkan aula di ikuti Gino yang mengekor di belakangnya.


Gino terharu pada Devan sudah membelanya di hadapan semua karyawan.



Para staf dan karyawan membubarkan diri kembali ke ruangan masing-masing



\=\=\=oooOooo\=\=\=


"Gino tunggu! " Lia memanggil Gino dari koridor samping lift.


Merasa terpanggil, Gino menghentikan langkahnya, berbalik menoleh ke belakang.



Mata Gino berbinar bagai bintang bisa melihat kembali wajah Lia, wanita yang selalu membayangi pikirannya itu sudah berada di depannya.


"Lia... " suara Gino memekik seperti tercekat di tenggorokan.


"Apa benar kamu saudara Pak Devan? " tanya Lia.



Gino hanya membalas dengan anggukan, masih syok bertemu sang mantan kekasih kembali.

__ADS_1


"Oh begitu, aku kira itu hanya alasanmu saja agar bisa kembali merebut perusahaan ini, " ujar Lia berlalu menuju ruangannya.


Gino mencekal tangan Lia, menghalaunya untuk pergi, "Tolong jangan pergi lagi, maafkan aku.. maafkan semua kesalahanku, " ucap Gino


Lia bergeming, hatinya terasa sesak dan perih mendengar perkataan yang keluar dari mulut Gino.


Kenangannya dengan Gino memang tidak begitu lama, tapi mampu mengukir kesan terindah yang tidak mampu Lia lupakan.



Lia menepis tangan Gino dengan kasar, dirinya murka karena Gino berani menyentuhnya.


"Cukup! cintaku hancur karna pengkhianatanmu! " hardiknya.


Lia berusaha menyingkir dari Gino sebelum emosinya melunjak tanpa terkendali.



"*Apakah kamu tidak bisa memaafkan ku* *Lia*... " batin Gino, tatapannya begitu sayu memandang kepergian Lia.



\=\=\=oooOooo\=\=\=



Zahra menyerahkan laporan hasil rekap data keuangan kantor ke ruangan Devan.


"Pak, ini laporan hasil rekap data keuangan kantor yang Bapak minta, " tukas Zahra menyerahkan map hijau kepada Devan.


Devan menerimanya dan memeriksa kembali, kali ini tingkah Devan tidak seperti biasanya kepada Zahra, seseorang yang biasa merayunya itu, kink terkesan lebih sering mengabaikannya.



Devan tersenyum kecut, merasa puas dengan laporan yang sudah Zahra buat, Devan membubuhkan tanda tangannya di dalam laporan itu.



Zahra memandang wajah pria yang sedang ada di hadapannya lekat-lekat, tatapan matanya layu, bibirnya pucat, bagai seseorang tanpa gairah.


"Bapak sakit? "


pertanyaan Zahra sontak membuat Devan kaget dan menoleh, "Tidak, " jawabnya singkat.


"Wajah Bapak pucat soalnya,seperti orang lagi sakit " timpal Zahra tidak merasa curiga sedikitpun.


'tes' darah dari hidung Devan tiba-tiba saja menetes ke laptopnya.



Zahra terkesiap kaget, segera dia mencari tisu untuk membersihkan hidung Devan.


"Hidung Bapak berdarah, saya bersihkan ya... " kata Zahra bersiap menghapus darah dari hidung Devan.


Refleks,Devan memegang tangan Zahra , di ambilnya tisu yang barusan di pegang, "Sini, biar aku aja, " ucap Devan lirih.


Zahra masih terdiam mematung menatap Devan, batinnya menyeruak ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang di derita Devan.


"Bapak sakit apa?. "


Dengan mulut bergetar, Zahra beranikan diri menanyakan itu kepada Devan.


"Saya tidak apa-apa Ra, mungkin hanya kelelahan."

__ADS_1


Devan terpaksa berbohong pada Zahra, dia tidak sanggup bila sang pujaan hatinya itu bersedih bila mengetahui penyakitnya.


__ADS_2