ZAHRANA

ZAHRANA
Janjiku


__ADS_3

    


Bu Alika beranjak pergi dari kamar Devan, berjingkat-jingkat agar tidak menimbulkan suara.Pak Jefri juga terjaga di malam itu, dia tak mendapati bu Alika ada di sampingnya.


Pak Jefri bergegas keluar kamar ingin ambil seteguk air, untuk menyiram tenggorokannya yang sudah kering, pandangan mata pak Jefri tertuju pada kamar Devan, terlihat istrinya itu sedang berjingkat-jingkat di depan kamarnya Devan. "Ma, ngapain kesini? " tanya Pak Jefri.


Bu Alika tersentak kaget, melihat suaminya sudah berada di belakangnya "Ehm, Mama cuma mau liat Devan..., sudah tidur apa Nggak, " jawab Bu Alika berkilah, tak ingin rahasianya di ketahui oleh pak Jefri.


Pak Jefri melanjutkan langkahnya menuju dapur, melewati Bu Alika begitu saja, tanpa ada perasaan curiga sedikitpun. di tuangkan air dalam teko ke gelas dan di teguknya perlahan oleh pak Jefri.



Bu Alika menyusul pak Jefri ke dapur. "Pa, lagi ngapain? " tanya Bu Alika menghidupkan lampu, ingin tau apa yang sedang di lakukan suaminya di dapur



"Lagi minum .., haus, " jawab Pak Jefri, dia berbalik ke kamarnya untuk lanjutkan tidur lagi.Begitu penat hari ini, memikirkan semua masalah perusahaan yang tak kunjung kelar.


Bu Alika masih terdiam di dapur memikirkan semua yang sedang terjadi. "Apa dia akan curiga padaku, " Batin Bu Alika, berniat menyusul pak Jefri ke kamarnya.


****************


Jarum jam sudah menunjuk ke angka tujuh, Devan dan Gino turun dari kamar sudah berpakaian Rapi dan siap untuk berangkat ke kantor.Tak lupa, parfum khas aroma maskulin sudah mereka semprotkan untuk menambah kesegaran dan kepercayaan diri mereka.


Gino duduk di sebelah Devan, bersiap untuk menyantap makanan yang sudah di sajikan di atas meja.


Bu Alika terus menatap Gino, cara makan Gino sama seperti ayahnya dulu.Andai saja Irfan Adi Wijaya, ayahnya Gino itu tidak meninggal saat itu, dia tidak mungkin akan meninggalkan Gino sendirian saja.


Pak Jefri memegang pundak istrinya itu. "Ma, ada apa? " tanya Pak Jefri membuyarkan lamunan bu Alika seketika itu juga.


"Ah, nggak pa, Mama hanya senang sekali akhirnya, masalah perusahaan kita selesai juga..., terima kasih ya Gino, " ucap Bu Alika.


"Sama-sama Tante, pak Devan sudah begitu banyak membantu saya, kini giliran saya yang membantu pak Devan, " sahut Gino, ada rasa sesak di dada bu Alika ketika putranya itu memanggilnya dengan sebutan 'tante'


Devan melap mulutnya dan beranjak berdiri "Gin, aku sudah selesai, nanti kamu nyusul ke kantor, " pamit Devan, sambil bersalaman dengan pak Jefri dan juga Bu Alika.

__ADS_1


Devan berlalu pergi ke kantor.Sedangkan Gino, masih asyik melahap makanannya.."Gin, nama ibu kamu siapa? " tanya Bu Alika ajak Gino ngobrol agar tidak terlalu canggung.


"Nama ibu saya Al mahisa zafira maurenina Tante, " jawab Gino, bu Alika menelan salivanya kasar, yang di sebut Gino adalah Misha, adik bu Alika


"Tante, Om, saya berangkat dulu, hari ini ada meeting bersama pak Devan, " pamit Gino, bersalaman dengan pak Jefri dan bu Alika.


Bu Alika merasa terharu ketika Gino berani mencium punggung tangannya, rasanya ingin sekali memeluk putranya itu.Walau Gino tidak tahu bu Alika adalah ibu kandungnya, paling tidak bu Alika merasa bahagia bisa bertemu Gino kembali.


----------------


Usai meeting, Gino, Devan dan Zahra makan siang bareng di kantin "Saya tidak menyangka Gin, baru berapa bulan kamu meneruskan bisnis ayahmu, kini kamu sudah mahir dalam berbisnis, " gumam Devan, kagum terhadap Gino


"Iya pak, sejak kecil ayah mengajarkan saya ilmu berbisnis, " sahut Gino, menunduk malu karna sudah di puji Devan.


"Saya harap, semoga kamu tidak kecewakan saya, " timpal Devan, menaruh harapan besar pada Gino atas keberhasilan kerjasama ini.


Ara dan Lia menghampiri mereka bertiga


"Makan sendiri..., bagi dong, " celetuk Ara, langsung duduk di sebelah Zahra.


"Mas, kamu nggak balik lagi ke luar negeri lanjutin pendidikannya? " tanya Zahra sambil mengunyah sesuatu.


"Nggak, aku mau disini saja dengan kamu, menjalin hubungan LDR itu tidak mudah.., kita sudah berkomitmen, trus kapan dong nikah kalo terus-terusan LDR? " tanya balik Devan,


'Uhuk-uhuk, ' Gino tersedak sesuatu. "Gin, kamu kenapa? " tanya Devan dengan raut mukan panik, semua yang ada disitu ikutan panik


"Bakso, baksonya besar sekali, tenggorokan saya tidak muat pak, " jawab Gino terbata-bata menahan beban berat yang tercekat di kerongkongannya.


Devan berdiri menghampiri Gino, di pegangnya dahi Gino dengan tangan kanan, "Maaf ya Gin, tahan sebentar aja ya, " ucap Devan.


Devan menarik dahi Gino, dengkul Devan menendang punggung Gino.Alhasil, bakso itu keluar dari mulut Gino mendarat mengenai mbak Ella


Muka mbak Ella memerah padam, siapa yang berani melemparnya dengan bakso, sejenak mbak Ella melirik ke belakang "Ginooo! " teriak Mbak Ella, ketiganya berlari ngibrit meninggalkan kantin


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


"Kamu ini, untung saja mbak Ella nggak ngejar kita, " celetuk Zahra, mengatur deru nafasnya yang tak karuan setelah berlari.


"Udah aku pulang dulu ya, nanti ini aku kerjain di rumah," pamit Gino, izin pulang karna meetingnya telah selesai.


"Hati-hati Gin, " ucap Devan, Gino membalas dengan acungan kedua jari jempolnya.


................


Tangan Devan di cekal oleh seorang wanita "Devan, kenapa kamu cuekin aku? " tanya Viola tiba-tiba muncul di hadapan Devan.


Zahra ingin pergi, tak mau mengganggu mereka.Namun tangannya di genggam erat oleh Devan, Devan mengisyaratkan agar Zahra tidak pergi


"Ada apa lagi Vio, dulu kamu menolakku, sekarang kamu. mau gimana? " tanya balik Devan tak ingin Viola terus mengganggu hidupnya.


"Aku ingin kamu melamarku di depan orang tuaku, " jawab Viola, terlalu percaya diri jika Devan masih mengharapkannya seperti dulu.


"Apa? melamar katamu? hey! vio, dari dulu kamu kemana aja, bukannya katamu ini aku cupu, gak pantes buat kamu? " cecar Devan.


"Itu dulu, sekarang nggak lagi..., aku sangat menyesal menolak kamu, dan sekarang aku ingin memperbaiki semuanya denganmu, " tukas Vio, gaya bicaranya yang begitu manja membuat Devan semakin muak sekali.


"Maaf Vio..., bagiku, dulu dan sekarang masihlah sama, aku memang tak pantas untukmu, dia tunanganku, jangan ganggu kami lagi, " tegas Devan, menolak viola secara terang-terangan.


"Tapi Van_" kata Viola terjeda begitu saja


"Aku sudah tidak ada perasaan apapun lagi kepadamu Vio, jangan pernah cari masalah denganku, "ucap Devan menarik tangan Zahra meninggalkan Viola.


----------------


"Kenapa kamu menolaknya Mas, kamu mencintainya kan? " tanya Zahra, Viola gadis cantik dan good looking, mustahil sekali jika lelaki tidak tertarik padanya.


"Dulu aku mencintainya, tapi perlahan aku menyadari, jika cinta itu tidak bisa di paksa, cinta tau kemana hati akan berlabuh, " jawab Devan, tangannya terus menggandeng tangan Zahra.


Mata Zahra berkaca-kaca, Devan benar-benar menjaga kesetiannya, walau pertengkaran, cemburu, halangan dan rintangan datang, kesetiaannya tak pernah berubah sedikitpun.


"Aku berjanji mas, tidak akan menyakiti dirimu sekecil apapun itu.., " batin Zahra

__ADS_1


Hallo Hay semuanya,Author ucapin terima kasih sebanyak-banyaknya buat yang udah baca novel ini, maaf jika masih banyak kekurangan dalam novel ini, author doain semoga yang baca novel ini di beri kesehatan, banyak Rezeki, amiinn..., jangan lupa like and koment ya, untuk kritik dan saran yang mendukung terima kasih😊🙏


__ADS_2