ZAHRANA

ZAHRANA
surat dari Devan


__ADS_3

      Gino membersihkan lemari pakaiannya, matanya tertuju pada sebuah amplop yang tergeletak begitu saja. Karena penasaran, Gino mengambil amplop tersebut dan membukanya.


  Gin... Mungkin jika kamu membaca surat ini, aku sudah tiada lagi di dunia ini... Gin, aku tahu hidupku tidak akan lama lagi di dunia ini, sel kankerku sudah menggerogoti seluruh organ tubuhku... aku meminta dokter untuk merahasiakan ini semua ini dari semua orang.


   Gin... aku ingin pergi dengan tenang, aku ingin Zahra bahagia. Setelah aku pergi dari dunia ini, aku ingin, kamu bisa menikahi Zahra, sekalipun kamu tidak mencintainya.


  Aku tidak ingin Zahra terus menangisi kepergianku, aku ingin Zahra terus tersenyum walau tanpa hadirku di dunia ini... kamu mau kan gin menyanggupi permintaanku yang terakhir kalinya? aku tidak bisa menjaga Zahra lebih lama lagi, aku yakin suatu saat nanti kamu pasti mencintainya...


Devan.


     Tangan Gino gemetar membaca secarik surat dari Devan, tidak semudah itu membuat Zahra membuka hatinya yang masih rapuh berkeping-keping setelah di tinggal pergi Devan untuk selamanya.


    "Gin, kamu ngapain?. "


      Suara lembut itu membuyarkan lamunan Gino, segera ia menyimpan surat itu agar tidak ketauan Zahra.


 "Eh Zahra aku lagi bersihin lemari, kamu ngapain malam-malam kesini? " tanya balik Gino tersenyum masam ke arah Zahra.


  "Tidak, aku tidak bisa tidur terbayang Mas Devan, " jawab Zahra, mimik mukanya berubah ketika menyebut nama almarhum suaminya itu.


     "Gimana kalo kita ke balkon, malam begini... pemandangan langit begitu indah, " ajak Gino, suasana hatinya juga sedikit kalut, butuh sedikit ketenangan.


      "Boleh, "


    Zahra berjalan terlebih dahulu sebelum akhirnya di susul Gino.


         \=\=\=\=oooOooo\=\=\=


    Zahra memandang langit dari balkon dengan penuh takjub. Zahra dan Gino duduk berdua dengan punggung saling menyandar satu sama lain.


   "Ra..., "


  "Hm... "


   "Kamu tau kenapa bintang tampak indah ketika di malam hari? " tanya Gino netranya mendongak memandang keindahan bintang.


"Nggak tau... " jawab Zahra singkat


"Karena matahari... matahari bersinar terang benderang ketika di siang hari, makanya... bintang tetap bersinar terang walau langit sudah di tutupi kegelapan, " jelas Gino.



"Walaupun matahari tidak bersinar di saat gelapnya malam, namun tetap memberikan keindahan pada bintang... seperti dirimu Ra, walau Devan sudah tidak ada lagi di sisimu, tetaplah tersenyum, walau hati sedang di hujani kesedihan, " imbuh Gino.



"Sekuat apapun aku menutupi kesedihan ini, kesedihan ini selalu datang menerpa hatiku Gin... " timpal Zahra kembali menitikkan air matanya.



"Sampai kapan kamu terus larut dalam rasa sedihmu Ra... rasa sedihmu tidak akan mampu membuat Devan kembali " ucap Gino.



"*Andai kamu tahu Ra... Devan ingin sekali melihat kamu bahagia, walau kebahagiaanmu bukan dari Devan*. " Gino membatin.


Suara dengkuran halus terdengar dari belakang, rupanya Zahra ketiduran saat berbicara dengan Gino tadi.


Gino berbalik badan. Benar saja dugaannya, Zahra tertidur dengan posisi menyandar di punggung Gino.


Gino merebahkan Zahra perlahan di lantai, kemudian membopongnya masuk.

__ADS_1


Di bukanya pintu kamar Zahra, lalu Gino merebahkan Zahra di tempat tidur.


Gino menarik selimut Zahra hingga ke leher, dirinya berlalu meninggalkan Zahra sendirian.


\=\=\=\=ooooOooo\=\=\=\=



Zahra keheranan, bangun-bangun dia sudah di kamar dan memakai selimut, dia masih bertanya-tanya siapa yang membawanya ke kamar dan memakaikan selimutnya.


Dengan cepat, Zahra menyikap selimutnya, gegas ia menuju ke kamar mandi, pagi ini Zahra harus segera ke butik. Sudah tujuh hari semenjak kepergian Devan, Zahra tidak pernah ke butik.


Bukan untuk apa, Zahra ingin kerja agar dirinya ada kesibukan sehingga lepas dari bayang-bayang almarhum Devan.



"Mau kemana Ra? " tanya Gino yang baru saja ikut gabung sarapan bersama mamanya dan Zahra.



"Aku mau ke butik Gin, biar tidak suntuk berada di rumah terus, " jawab Zahra sembari mengolesi selai di atas roti tawarnya.



"Syukurlah kalau begitu... aku harap perlahan bisa terima semuanya... " kata Gino mengulum senyum ke arah Zahra.


"Aamiin. "


Zahra mengangkat kedua tangannya mengaminkan harapan dan Do'a Gino.



"Ya udah Ma, Zahra berangkat dulu ya, " pamit Zahra menyalami punggung tangan bu Alika.


"Ra tunggu! " panggil Gino mengejar Zahra keluar rumah.


Zahra yang merasa terpanggil, menghentikan langkahnya.


"Aku antar ya... "tawar Gino tidak tega membiarkan Zahra berangkat sendiri ke butik.


"Nggak usah gin, aku bisa naik mobil sendiri kok, " tolak Zahra merasa tidak enak hati.



"untuk kali ini, aku tidak terima penolakan Zahra, " timpal Gino


Zahra terpaksa mengangguk, dia segera turun dari mobil Gino.


"Aku kerja dulu ya Gin," pamit Zahra membuka pintu mobil setelah itu turun perlahan.



\=\=\=\=oooOoooo\=\=\=



"Syukurlah kalau Mbak Zahra datang ke butik hari ini, butik sedang membutuhkan Mbak, " sambut Sandra, salah seorang karyawan yang sudah sekitar dua tahun bekerja di butik Zahra.



"ada apa memangnya San? " tanya Zahra, dia memang sudah lama tidak menengok butik, jadi tidak tahu apa-apa.

__ADS_1



"Ini loh Mbak, kita kekurangan stok bahan kain untuk membuat pakaian mode terbaru dan best seller, " jawab Rani menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut.



Zahra membuka M-banking di ponselnya lalu menstransfer uang ke rekening Rani.



"Dana untuk membeli bahannya sudah saya transfer ke kamu cepat beli bahannya ya... Saya tidak mau customer saya jadi kecewa, " pungkas Zahra memasukkan kembali ponselnya.



"Hay Ra! " sapa seseorang yang baru saja masuk ke butik Zahra.



"Ara!. " Zahra senang,Ara mau mampir ke butiknya.



Ara dan Zahra berpelukan sejenak melepas kerinduannya kepada sang sahabat.



"Apa kabar Ra? " tanya Ara sambil melihat Gaun pengantin di temani Zahra.



"Kamu mau beli gaun pengantin? mau nikah lagi? " tanya Zahra masih saja suka iseng kepada Ara.



"Boro-boro suami dua, satu suami aja ribet ngurusinnya, untung sayang... " timpal Ara menanggapi candaan Zahra.



Zahra terkekeh, sejenak kesedihannya di tinggal pergi Devan sedikit hilang melihat kebanyolan Ara.



"Aku kesini tuh cari gaun pengantin buat kakakku yang mau nikah bulan depan, pengennya sih... gaun pengantin hasil desain kamu sendiri, tapi karena kamu masih berkabung, ya udah deh, beli yang udah jadi aja, "



Ara memang ekstra sibuk hari-hari ini mempersiapkan pernikahan Lia, dirinya senang akhirnya kakaknya sold out juga.


"Lia... nikah sama siapa dia? " tanya Ara penasaran karena dia sudah lama tidak mendengar kabar tentang Lia.


"Sama Abi... awalnya sih, Abi belum bisa move on dari kekasihnya yang di Amerika itu, tapi setelah mendengar kekasihnya sudah menikah, perlahan Abi mau membuka hati buat kak Lia dan langsung melamarnya, "



"Alhamdulillah deh, Lia sudah menemukan jodoh yang tepat kalau gitu..." ucap Zahra ikut senang dengan kebahagiaan Lia.



"Kamu kapan bahagianya? masa mau jadi single parents melulu? " tanya Ara.


Zahra menonyor pipi Ara, "Suami belum empat puluh hari meninggal, udah di suruh nikah lagi, Ya udah deh! nanti kalo gaunnya sudah selesai aku kabarin, " jawab Zahra memutar kedua bola matanya jengah.

__ADS_1


Ara terkekeh, "Iya maaf, biar kamu tidak sedih terus, " ucap Ara, gegas ia keluar dari butik itu.


Akankah Gino bersedia memenuhi permintaan terakhir almarhum Devan untuk menikahi Zahra? Ikuti terus ceritanya ya 😊🙏


__ADS_2