
Devan menatap nyalang ke arah Zahra. "Aku nggak peduli lagi! " ketus Devan, membuat Zahra ketakutan melihatnya.
Devan membawa Zahra ke sebuah Danau yang tak jauh dari kantor. "Zahra, kenapa kamu membuatku cemburu Zahra? " tanya Devan, begitu kesal, karena Zahra sukarela meninggalkannya demi Alex.
"Bukankah itu maumu Mas? kamu sudah bertunangan dengan Viola kan di belakang aku? kenapa hanya kamu yang boleh untuk menyakiti, sedangkan aku tidak? " tanya balik Zahra.
"Maaf, tapi aku tidak punya pilihan Ra, aku ingin perusahaanku tidak bangkrut..., " ucap Devan.
"Sudahlah Pak Devan, lupakan semua tentang kita, terima kasih untuk kenangan yang telah bapak berikan kepada saya, " kata Zahra pasrah begitu saja keputusan Devan.
Tangan Devan melingkar di punggung Zahra "Kamu mau meninggalkanku Ra? Bagaimana denganku?" tanya Devan.
"Kamu hanya menganggap ku barang Mas yang bisa kamu buang dan ambil seenaknya," tukas Zahra melepas cincin pertunangannya dan mengembalikan ke Devan.
Devan menggenggam cincin itu, dia terpaku menatap kepergian Zahra.Devan kembali menatap cincin Zahra, hatinya berkecamuk penyesalan, Devan sadar Zahra pergi karna kesalahannya sendiri.Devan hanya pasrah kehilangan Zahra.Sudah resiko yang harus Devan terima, berani bertindak berani juga bertanggung jawab.
...----------------...
Alex mempersiapkan pernikahannya dengan Zahra, ia begitu bahagia akan menikah dengan Zahra.Berbeda dengan Zahra, semakin mendekati hari H pernikahan, hanya kesedihan yang terbesit di hatinya.
Semua undangan sudah di sebar, tempat pernikahan pun sudah di siapkan.Namun tetap saja, tak ada raut wajah bahagia dari Zahra.
Jika menjelang pernikahan menjadi hari-hari yang bahagia bagi semua para pengantin, tapi tidak bagi Zahra, karna dia menikah dengan orang yang sama sekali tidak pernah dia cintai sama sekali, Zahra tidak merasa bahagia dengan pernikahan ini.
...****************...
.
Devan menatap undangan dari Zahra, hatinya hancur bukan namanya yang tertera disitu.Bukan dirinya yang akan menemani Zahra di pelaminan nanti.Devan menghela nafas panjang.
"Dulu, aku bermimpi untuk bersanding denganmu di pelaminan, dulu diriku berjanji menemanimu hingga akhir hayat mu,kini kamu hanya menjadi kenangan di hidupku, kamu datang membawa harapan baru untukky kini kau meninggalkan bekas luka terdalam di hatiku " batin Devan.
Dadanya sesak dan perih membaca undangan pernikahan dari Zahra.Bu Alika membawakan secangkir kopi untuk Devan, dia ikut duduk bersama putranya itu.
Bu Alika tak tega melihat Devan harus tersiksa begini, tangannya tergelitik untuk mengelus pundak Devan. "Kamu harus merelakan dia nak, kamu pasti menemukan yang lebih baik dari Zahra, " ucap Bu Alika
Devan memeluk bu Alika. "Terima kasih Ma, putramu ini tidak akan kuat tanpa Mama, " tukas Devan, dia bersyukur memiliki ibu yang selalu perhatian dan mengerti perasaannya.
Setelah puas bicara dengan Devan, bu Alika meninggalkan Devan masuk ke dalam kamar, Devan masih menatap undangan itu, matanya terpejam, Devan tertidur dengan posisi bersandar di sofa ruang tamu
...----------------...
Zahra menatap wajahnya yang baru saja di rias ke depan cermin, Zahra tampak cantik memakai kebaya pengantin berwarna putih kebiruan model Dress dengan balutan make up yang natural dan tidak medok , di sertai singer yang ringan menambah aura kecantikan Zahra.
__ADS_1
"Andai saja aku menikah dengan orang yang ku cintai, aku pasti bahagia, " batin Zahra, Ara masuk ke dalam kamar Zahra.
"Hey, udah cantik kok nangis? " tanya Ara,
tidak tega melihat Zahra menangis sedih.
"Aku sedih karena tidak bisa menikah dengan pria yang aku cintai saat ini, " ujar Zahra menunduk untuk menyembunyikan tangisannya, Ara memeluk sahabatnya itu.
"Ra, cinta itu tidak harus saling memiliki, cinta itu bukan tentang siapa yang buatmu nyaman ketika bersamanya, tapi cinta itu merelakan segalanya demi membuat orang yang kita cintai tetap bahagia, walaupun harus menyakiti diri sendiri, cinta tidak akan biarkan orang yang kita sayang tersakiti, " ucap Ara berusaha menenangkan Zahra.
Ara keluar kamar meninggalkan Zahra, dia ingin melihat apakah keluarga Alex sudah datang atau belum.
...----------------...
Semua sudah berkumpul di ruang tengah rumah Zahra, Alex hanya membawa paman dan bibinya, karena orang tuanya ada di Amerika.
Alex sudah berjabat tangan dengan penghulu bersiap mengucap ijab qobul "Saya terima nikah dan kawinnya_, " Alex jeda sejenak.
"Tunggu! pernikahan ini tidak bisa di lanjutkan, aku masih belum bercerai dari suamiku! " teriak Ulfania berusaha untuk membatalkan pernikahan Zahra dan Alex.
Alex berdiri menghampiri Ulfania "Aku hamil Mas, " ucap Ulfania menarik tangan Alex dan meletakkan di perutnya.
"Maaf pak, saya tidak bisa menikahkan keduanya bila pengantin pria masih belum berstatus talak, " ujar pak penghulu mohon pamit bersama pak Ardi, di ikuti seluruh tamu undangan
Zahra keluar kamar. "Ada apa Pa? " tanya Zahra, melihat suasana rumah sudah sepi tinggal Ara, Abi dan Devan saja yang ada disitu.
Tidak munafik, Zahra senang pernikahan ini bisa di batalkan, dia tidak mau menikah dengan Alex yang tak cukup dengan satu wanita.
"Maaf Pa, kalau boleh, biar saya aja yang menggantikan pengantin lelakinya, " celetuk Devan, dengan nada bercanda
Semua mata tertuju ke arah Devan, pak Ardi heran, bisa-bisanya berkata seperti itu, bu Alika maju menghampiri anaknya, "Kalau kamu, acaranya akan di adakan secara mewah iya kan, Pak? " tanya Bu Alika
"Iya Bu, " jawab Pak Ardi tersenyum pada calon besannya.
Zahra hanyamenundutersipu malu dengan ucapan bu Alika "Ciee, yang udah nggak nangis lagi, kalau jodoh nggak bakal kemana," timpal Ara, Zahra hanya membalas dengan senyuman
Devan menghampiri Zahra. "Kamu mau kan, pakai cincin ini lagi? " tanya Devan.
Zahra mundur selangkah agak menjauh dari Devan. "Bagaimana dengan Viola? " tanya Zahra.
__ADS_1
"Jangan kamu pikirkan, aku hanya pura-pura saja dengannya " jawab Devan nyengir kuda.
Zahra anggukkan kepalanya, dia mau pakai cincinnya kembali, Devan menyematkan cincin itu ke jari manis Zahra sebelah kiri.
"Bi, kok bisa kakak iparmu kesini? " tanya Ara penasaran apa yang terjadi sebenarnya.
*Flashback On*
Abi mondar-mandir di dalam rumahnya, dia memikirkan bagaimana caranya agar bisa membatalkan pernikahan abangnya dan Zahra.
Seketika itu, muncul ide brilian di otak Abi agar mommy dan Daddynya mengalihkan hak perusahaan ke Ulfania, kakak iparnya.
Awalnya Mommy dan Daddynya tidak setuju, tapi Abi menceritakan tujuannya mengalihkan perusahaannya ke Ulfania, akhirnya kedua orang tuanya memenuhi keinginan Abi.
Tak perlu menunggu lama, Abipun menelfon Ulfania, di carinya kontak nomor WhatsApp kakak iparnya itu di ponsel
Ulfania:Hallo bi, ada apa? tumben,
Abi:kak Ulfa sedang dimana kak?
Ulfania:Aku di rumah sakit, cek kehamilan Bi,
Abi:Gimana hasilnya kak? kakak hamil kan?
Ulfania:Ya bi, you' re right bi, aku hamil..
Abi: Kak, lebih baik kakak ke rumah Zahra
Ulfania:Zahra tunangan bosmu itu? ada apa?
Abi: Iya kak, jangan biarkan bang Alex nikahin zahra
Ulfania:Yes, I Will come there bi, aku akan segera kesana
*flashback off*
Ara mengangguk "Oh..., jadi begitu, " timpal Ara
"Iya, Pak Devan tidak perlu khawatir lagi, perusahaan Abang saya di bawah kendali istrinya sekarang, " sahut Abi
__ADS_1
"Terima kasih Bi, "ucap Devan
_Bersambung_