
l Devan terhipnotis dengan perkataan Gino, ucapan Gino ada benarnya juga. Jika tidak bisa berjuang demi dirinya sendiri, berjuanglah demi orang yang kita sayang.
Gino menatap Devan dengan tatapan memelas,pikirannya terbayang wajah cantik sang pujaan hati, membuatnya tidak gentar lagi untuk berjuang melawan penyakitnya.
Devan tidak tega jika harus meninggalkan Zahra sendirian terpuruk di dalam kesedihannya.
"Kamu benar gin, masih banyak orang yang sayang padaku terutama mama dan Zahra, mama pasti akan sedih bila harus kehilangan aku, " ucap Devan dengan tertunduk.
Tampak senyum merekah di bibir Gino, bangga pada seorang Devan yang tidak pernah menyerah untuk berjuang melewati semua ini.
Dokter kembali ke ruang UGD, memeriksa kondisi Devan, "Kondisinya mulai stabil, sudah di perbolehkan untuk pulang... " ujar sang Dokter
"Nanti akan saya buatkan resep sekaligus surat rujukan agar bisa kemoterapi di rumah sakit yang fasilitasnya cukup memadai, " imbuhnya, kemudian dokter itu berlalu keluar ruangan.
\=\=\=\=oooOooo\=\=\=
Bu Alika dan nenek Dena harap-harap cemas menunggu kedatangan Devan, netra bu Alika terus menjelajahi setiap sudut halaman rumah, berharap kedua putranya itu segera pulang.
Nenek Dena merasa terusik dengan putrinya yang sudah ada tujuh kali mondar-mandir di depannya, "Duduklah Nak, putramu akan baik-baik saja, " tukas Nenek Dena memperingatkan bu Alika.
"Aku belum bisa tenang Bu... kalau Devan dan Gino belum juga pulang, " timpal Bu Alika menggigit tangannya cemas.
Mobil yang di kendarai Gino dan Devan baru saja sampai di halaman rumah nenek Dena, sontak Bu Alika menghampiri mereka berdua.
"Nak... kamu baik-baik saja? " tanya bu Alika menelisik Devan dari atas ke bawah.
Dengan senyum yang mengembang, Devan menjawab lembut perkataan mamanya, "Devan tidak apa-apa kok Ma... Mama tidak perlu khawatirkan Devan, " jawabnya.
"Gimana Mama tidak khawatir Devan... kamu sering pingsan tiba-tiba, sebenarnya kamu sakit apa? kenapa kamu tidak pernah cerita? "
Pertanyaan menohok yang keluar dari mulut bu Alika seketika membuat Devan bergeming, tidak tau harus menjawab apa.
Devan menoel lengan Gino, "Emm... gini Ma, dokter bilang Devan cuma kecapekan saja, jika Devan sampai kelelahan lagi... Devan akan pingsan secara tiba-tiba, "
__ADS_1
Gino menemukan jawaban yang tepat untuk membantu Devan menjawab pertanyaan mamanya. Sebenarnya, Gino tidak bermaksud bohong. Tapi demi tidak ingin membuat mamanya sedih, dia terpaksa melakukannya.
"Kenapa kamu yang menjawab! " hardik Bu Alika membuat Gino dan Devan saling terpelongo.
"Devan Arprana... jawab jujur pertanyaan Mama, kamu sebenarnya sakit apa? " tanya Bu Alika sekali lagi penuh penekanan.
"Be-benar apa yang di katakan Gino Ma... " jawab Devan gugup menatap mamanya.
"Tuh kan! mama sih, tidak pernah percaya sama aku! padahal, aku kan masih putra mama juga, " tambah Gino suaranya menjadi parau.
Bu Alika menatap Gino dengan tatapan sendu, tidak tega rasanya mendengar putra sendiri berkata seperti itu.
Di belainya rambut Gino oleh Bu Alika, "Mama menyayangi kalian berdua... Mama hanya tidak ingin jika salah satu di antara kalian sampa terluka, " ucapnya lirih.
"*Maafin Gino ma... Gino tidak bermaksud membohongi mama, Gino hanya tidak mau mama sedih dan terluka atas penyakit yang di derita Devan*, " batin Gino penyesalan muncul di benaknya sudah berani berbohong.
"Sudah Ma... ayo kita pulang, besok Devan harus kembali bekerja, " ajak Devan memecah keheningan.
"Yakin kamu bisa nyetir sendiri?. " Bu Alika bertanya sekali lagi pada Devan, khawatir jika putranya pusing kembali di tengah perjalanan.
"Yakin Ma, tenang aja... " Devan tidak berhenti meyakinkan mamanya.
Devan, Gino dan Bu Alika pun masuk ke dalam mobil masing-masing.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Langit yang semula gelap berubah menjadi cerah menandakan bahwa sang fajar akan segera tiba.
Pagi begini, bu Alika sudah berada di dapur menyelesaikan kegiatan masaknya untuk sarapan.
Devan dan Gino berebutan untuk menuruni tangga, semenjak bu Misha dan suaminya meninggal, Gino memutuskan untuk tinggal bersama Devan dan bu Alika.
"Kalian ini, kalau muncul pasti rame! tidak ada kerjaan apa pakai rebutan turun tangga segala! " sindir Bu Alika sembari menata makanan di meja.
Devan dan Gino hanya nyengir kuda, "Van... Aku pikir gimana kalo kita gabungkan saja kedua perusahaan kita, " usul Gino.
"Maksudmu?. " Devan mengernyit kebingungan tidak mengerti maksud Gino.
"Gini... Alhamdulillah nih, bisnisku berkembang pesat ... aku juga berhasil mendirikan perusahaan sendiri dengan sepuluh anak cabang di kota-kota besar, " jelas Gino
"Aku ingin menggabungkan perusahaanku dengan perusahaanmu agar kita bisa mengelola bersama, " tambah Gino menjelaskan panjang kali lebar pada Devan.
__ADS_1
"Boleh juga, oh... aku tahu kenapa kamu ingin gabungkan perusahaan kita, pasti kamu ingin bertemu Lia kan... " tukas Devan menggoda Gino.
'Degh!' mendengar nama Lia di sebut, entah kenapa hati Gino berubah menjadi sesak, dia belum punya nyali untuk bertemu Lia. Walau, dalam hati ingin sekali meminta maaf pada mantan kekasihnya itu.
"Lia? Lia siapa? " tanya Bu Alika penasaran.
"Itu loh Ma... stafku di kantor, pacar Gino, " jawab Devan sesekali melirik ke arah saudaranya itu.
Gino bersungut, ia jengkel karena Devan berani buka kartu di depan mamanya, ingin sekali Gino membungkam mulut Devan.
Gino dan Devan segera menyelesaikan makannya, bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Ma, Devan dan Gino berangkat dulu ya, " pamit Devan mencium punggung tangan mamanya di ikuti Gino.
"Iya... hati-hati kalian berdua, " kata Bu Alika.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Mobil keduanya sudah sampai di parkiran kantor. Devan dan Gino masuk bersamaan ke dalam kantor.
Semua staf dan karyawan di sana menghibah Gino. Maklum, karena kabar Gino yang sudah merebut hampir setengah saham perusahaan Devan terdengar ke telinga semua orang yang bekerja disana.
"Ih, apaan lagi sih tuh orang! tidak puas apa, udah bikin papanya pak Devan meninggal! " celetuk salah satu divisi accounting yang sedang berada di Aula kantor.
"Iya... kurang apa coba pak bos kepadanya, malah balasannya begitu! di kasih jantung malah minta hati! " timpal temannya yang juga berada disana.
Gino memilih mengabaikan perkataan mereka, dia menerima konsekuensinya karena memang dirinya sendirilah yang bersalah.
"Kalian ngomongin apa? " tanya Lia nyeletuk begitu saja mendengar mereka serius bicara.
"Itu loh Mbak Lia... Gino datang lagi ke kantor ini, pasti dia mau merebut lagi seluruh saham perusahaan ini, " jawab salah satu dari divisi accounting itu dengan mulut mleyot begitu semangatnya membicarakan keburukan Gino.
"*Apa? Gino datang kembali ke kantor ini? kok bisa*? " batin Lia dia juga penasaran kenapa Devan begitu mudahnya membawa Gino ke kantor ini setelah merebut setengah saham dari perusahaan.
__ADS_1
**Apakah Lia akan memaafkan Gino dan kembali kepadanya? Ikuti terus ya! Terima kasih 😊🙏**