ZAHRANA

ZAHRANA
Terluka


__ADS_3

Muka Devan tampak lesu setelah pulang dari rumah sakit, rasanya malu sekali untuk menemui Zahra atas perbuatannya.



"Mas? kok lesu gitu? Kecapekan ya? " tanya Zahra membantu membuka dasi Devan.


"Lumayan, kamu masak apa hari ini? " tanya Devan menatap Zahra dengan tatapan sayu.


Kemarin dia begitu terkesima melihat wajah cantik wanita yang baru saja menjadi istrinya itu, sekarang dia terlalu malu dan merasa tidak pantas di sayangi oleh Zahra.



Devan beringsut mundur ketika Zahra usai melepaskan dasinya, dia berjalan melewati Zahra membersihkan dirinya di kamar mandi.


Tak ada kecurigaan sedikitpun, Zahra kembali ke kamar dan bergegas untuk tidur di samping Devan, tubuhnya sudah sangat lelah seharian bekerja.


\=\=\=oooOooo\=\=\=



Pagi ini, Devan terbangun lebih dahulu, di mengerjapkan matanya, tatapannya sendu ke arah Zahra, "*Kamu membuat hatiku luluh, hingga membuatku tidak rela meninggalkanmu*. "


.


Devan membatin, dia membelai rambut Zahra yang sedang terpejam, tanpa terasa air mata menitikkan basahi pipi Devan, andai saja dia berhati-hati, mungkin dia tidak akan mengambil keputusan menikahi orang yang menolongnya tersebut.


Perlahan, Devan turun dari tempat tidur, kemudian berlalu menuju kamar mandi. Suasana pagi ini terlalu canggung, tidak seperti biasanya.


Usai sarapan, Zahra dan Devan berangkat ke kantor, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Devan sepanjang perjalanan.


\=\=\=oooOooo\=\=\=


"Hey Zahra! "


Lia menyambut kedatangan Zahra di kantor, Devan terus saja jalan tanpa hiraukan mereka berdua.


"Kalian ada masalah? " tanya Ara melirik sejenak ke arah Devan.


Zahra tentu saja menggeleng, karena memang tidak ada masalah antara dia dengan Devan.


"Oh! syukurlah kalau begitu... kalau begitu ayo kita masuk, " ajak Ara.


\=\=\=oooOooo\=\=\=



Zahra termenung di ruangannya, dia juga merasa Devan seperti menghindarinya, namun dia tidak ingin terlalu menunjukkan ekspresinya kepada Devan.



"*Apa ada yang Mas Devan sembunyikan* *dariku*? "



"Zahra! " gertak Abi, wanita yang ada di depannya itu terus melamun hingga tidak mendenngar sudah di panggil tiga kali.


"Eh Abi, ada apa? " tanya Zahra terhenyak kaget, melihat Abi sudah berada di depannya.


"Kamu kenapa sih Ra? Kok ngelamun gitu? Mikirin hutang negara?." Abi bertanya balik dengan nada bercanda.



Zahra memutar bola matanya jengah, "Ngapain aku mikirin hutang negara, hutang sendiri belum kelar! " jawab Zahra agak sedikit cetus.



Mendengar jawaban Zahra, Abi terkekeh, "Ya kali Ra, kamu ngelamun gara-gara mikirin hutang negara, " sahut Abi.


__ADS_1


"Trus kamu kesini mau ngapain? " tanya Zahra kembali menanyakan maksud kedatangan Abi.



"Aku mau ngambil laporan hasil rekap data keuangan perusahaan kemarin, " jawab Abi.


"Oh ini, " kata Zahra memberikan laporan yang di minta Abi.


"Abi tunggu! " teriak Zahra.



Abi yang merasa terpanggil berhenti, dia berbalik menoleh Zahra.



"Kamu kemarin meeting sama Mas Devan kan? "


Zahra bertanya dengan mimik muka serius, ingin mendapatkan jawaban sejujurnya dari Abi


Abi tidak bergeming, pertanyaan menohok Zahra membuat Abi bingung harus menjawab apa.



"Bi? "


"I-iya Ra kemarin aku memang meeting sama pak Devan, iya" jawab Abi.


Jawaban Abi membuat Zahra semakin yakin jika Devan memang menyimpan sesuatu.


"Oh ya sudah kalo gitu, " pungkas Zahra tidak ingin terlihat curiga pada Abi.



Biarlah, dia sendiri yang akan selidiki semuanya, tanpa melibatkan orang lain.




\=\=\=\=oooOooo\=\=\=\=



Di kantin, rupanya Zahra tidak fokus pada makanannya, dia hanya \*\*\*\*\*\*\*-\*\*\*\*\* makanannya tanpa memasukkan ke dalam mulut.


"Aduh makanan... yang sabar ya, kamu masih di mainkan dulu belum bisa masuk ke mulut, " ucap Ara menyindir Zahra yang terus memainkan makanannya.


"Apaan sih! " timpal Zahra merasa tersindir dengan ucapan Ara.


"Tidak kok, tidak apa-apa, aku ke ruang kerja dulu ya, " pamit Zahra


"Habisnya sih, tuh makanan di mainin aja tidak di makan, mending di kasih ke aku, langsung aku habisin! " kata Ara.



"Ada masalah apa sih? " tanya Ara, walaupun sahabatnya itu sudah menikah, tapi Ara tidak akan jengah mendengar keluh kesahnya.



Kapanpun Zahra membutuhkan teman curhat, Ara siap mendengarkan curhatan Zahra.


"Tidak kok, ya udah... aku mau kembali dulu ya, " pamit Zahra, meninggalkan Ara sendirian di ruangan.


\=\=\=oooOooo\=\=\=



Jam pulang kantor telah tiba, semua karyawan berkemas untuk segera pulang.

__ADS_1


"Sayang, maaf ya, aku tidak bisa pulang bersama kamu, aku harus ke rumah sakit jenguk teman aku, " pungkas Devan, dia sebenarnya ingin menjenguk wanita yang telah menolongnya itu.


Zahra menganggukkan kepalanya, dengan begini, dia bisa leluasa mengikuti. Devan.


\=\=\=oooOooo\=\=\=



Sampailah Devan di rumah sakit, dia menjenguk wanita yang menolongnya tersebut.



Zahra hanya bisa memantau Devan dari balik pintu kaca, "Siapa dia, kenapa Mas Devan begitu dekat dengan wanita itu? " Zahra bermonolog sendiri, ada rasa kekhawatiran di dalam benaknya.


Ini memanglah bukan kali pertama cinta Devan dan Zahra di uji, tapi kali ini Zahra khawatir akan berimbas pada perceraian, padahal pernikahan mereka baru seumur jagung.


Zahra mencoba mendengarkan dengan seksama apa yang Devan bicarakan dengan wanita itu.



"Iya, kamu tenang aja, aku akan menikahi mu, terima kasih sudah menolongku saat itu, jika tidak ada kamu... Mungkin aku yang terbaring disini, " ucap Devan.


'Jleb'


Hati Zahra serasa perih seperti tertusuk belati, teriris-iris hingga hancur berkeping-keping.


Sekarang, dia tahu Devan yang sebenarnya. Devan yang sekarang tidak sebaik yang dulu dia kenal.


'Praang!'


Zahra menginjak sesuatu yang ada di dekat pintu, membuat semua orang yang berada di dalam menoleh.



"Zahra..." tukas Devan lirih, dia berlari mengejar Zahra yang masih belum jauh.



\=\=\=oooOooo\=\=\=


"Ra, dengerin dulu penjelasan aku, " Devan mencekal tangan Zahra agar tidak pergi meninggalkannya.


"Cukup Mas! berapa kali kamu nyakitin aku, untuk kali ini aku benar-benar kecewa sama kamu Mas! " suara Zahra memekik seolah tercekat di tenggorokan.


Zahra melanjutkan langkahnya meninggalkan Devan, air matanya masih mengucur deras di pipinya dadanya terasa perih akibat luka yang Devan torehkan selama ini.


"*Jika memang cinta bagimu adalah permainan, untuk apa kau hadir dalam hidupku membawa beribu luka yang mendalam*... "



Zahra hanya bisa memendam lukanya sendiri, dia tidak tahu harus berbuat apa, lukanya sudah semakin dalam hingga menusuk ke dalam relung hatinya.



Zahra segera mengemas pakaiannya, Devan masuk dan memeluk Zahra dari belakang, Zahra ingin memberontak, sayangnya pelukan Devan semakin erat.



"Lepaskan aku... " ucap Zahra berusaha melepaskan tangan Devan dari perutnya.


"Tidak! dengarkan aku dulu, " tolak Devan, tidak ingin kehilangan Zahra lagi.


"Ap sebenarnya yang kau inginkan! " teriak Zahra.


"Aku hanya ingin bersamamu, "



"Tidak! "

__ADS_1


"Berikan aku kesempatan untuk menjelaskannya Zahra, aku mohon... sekali ini saja, " mohon Devan.


Zahra tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kepalanya terasa sangat pusing


__ADS_2