ZAHRANA

ZAHRANA
memilih sendiri


__ADS_3

Zahra menyeka air matanya, melepaskan perlahan pegangan tangan Devan, kepalanya sudah tidak kuat lagi menahan pusing, pandangan matanya gelap , Zahra ambruk seketika.


Devan menoel pipi Zahra perlahan, berharap Zahra membuka matanya namun hasilnya nihil, Devan membopong Zahra ke mobilnya dan segera membawanya ke rumah sakit.



\=\=\=\=oooOooo\=\=\=



"Zahra bangun Ra! " teriak Devan, suster membantu membaringkan Zahra di brankar rumah sakit ikut mendorongnya.


"Pak, anda tunggu sini dulu ya... biar pasien kami bawa makuk dulu, " ucap suster meminta Devan untuk menunggu.


Devan hanya tercengang melihat Zahra dari balik pintu kaca.


"Zahr kenapa Van? " tanya Gino datang setelah di kabari Devan.



"Semua ini salahku Gin... aku yang membuat Zahra sakit, " pekik Devan rasanya sesak sekali meneruskan perkataannya.



"Maksud kamu apa? kamu ada salah apa sama dia? "


Gino masih belum mengerti perkataan Devan.


"Aku...,"


Devan mengurungkan niatnya untuk meneruskan perkataannya, karena dokter sudah keluar.


"Gimana keadaan Zahr dok? " tanya Devan dengan raut muka cemas, khawatir terjadi apa-apa pada Zahra.


"Keadaannya baik-baik saja, jangan sampai terlalu capek dan stres, " jawab dokter, Devan hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu, " pamit Dokter berlalu meninggalkan UGD.


"Iya, terima kasih Dok, " tukas Devan, menatap kepergian sang dokter.


Devan berjalan melangkahkan kakinya menuju ke dalam.


\=\=\=\=oooOooo\=\=\=



Devan hanya terdiam melihat istrinya terbaring di rumah sakit, semakin menyesal hatinya jika sampai keputusannya itu membawa Zahra dalam penderitaan.



"Sayang... maafkan aku, andai saja kamu tahu yang terjadi, kamu tidak akan begini, " jawab Devan merutuki kesalahannya tidak memberitahu Zahra sejak awal.


1 jam kemudian...


Zahra perlahan membuka mata, di lihatnya Devan yang masih tertidur di samping brankarnya.


"Mas... bangun Mas. " Zahra memukul pelan tangan Devan.



"Zahra... kamu sudah sadar... " kata Devan memegang tangan Zahra.



Zahra langsung menepis tangan Devan, "Jangan sentuh aku, biarkan aku pergi, " ujar Zahra, perkataannya sungguh memberi ultimatum di hati Devan.



"Kita baru menikah sayang, kamu mau pergi kemana? " tanya Devan.


"Aku ingin bercerai! akan ku mulai karirku dari nol lagi, " jawab Zahra memantapkan hati.


"Apa tiada maaf lagi Ra? " tanya Devan lirih, berusaha sebisa mungkin mendapatkan maaf Zahra.


Zahra menggeleng, perasaan yang dulu menggebu, kini sudah memudar seiring pengkhianatan yang Devan lakukan kali ini.


Entah mengapa, Zahra dulu percaya pada cinta Devan yang mungkin hanya sebatas rasa penasaran.

__ADS_1



Zahra turun perlahan dari brankarnya, dia jalan sempoyongan keluar dari UGD.


2 hari kemudian...


"Ini surat gugatan cerai dari pengadilan, aku harap kamu bisa tanda tangani, "



"Baiklah. " Devan tidak bisa egois, dia hanya pasrah menerima keputusan Zahra, walau sangat berat hati.


"Apa yang bisa aku lakukan sekarang, aku mencintai Zahra, tapi aku juga tidak bisa mengingkari janjiku untuk menikahi wanita itu, "


Devan mendongak, menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya.


\=\=\=oooOooo\=\=\=\=


Setelah resmi bercerai dari Devan, Zahra meneruskan bisnis milik ayahnya, Zahra memiliki butik yang cabangnya sudah berada dimana-mana.



"Mbak, saya mau bayar gaun ini ya, " panggil seorang konsumen yang sudah lama menunggu di meja kasir.



"Oh iya Mbak... Sebentar ya, " pungkas Zahra menghampirinya.


Zahr membuka laci, terpampang foto seseorang yang sudah tiga tahun ini tidak pernah ia dengar kabarnya.


Zahra hanya tersenyum kecut memandang foto itu, kemudian membaliknya, dia sangat ingin melepaskan diri dari belenggu masa lalunya tersebut.



Zahra melirik arloji di tangannya, "Wah... Ternyat sudah waktunya jam makan siang, pantas perutku lapar, " gumam Zahra bermonolog sendiri.



Zahra memutuskan keluar dari butiknya dan mencari makan di luar.




"Pak! kopi pahitnya satu! " teriak Zahra bersamaan dengan seorang pria.



"Saya duluan ya pak, " tukas Zahra memainkan ponselnya.



"Saya pak! Saya yang sedari tadi duduk sini! " timpal pria itu seperti tidak mau kalah.



Zahra membuka kacamatanya, "Kamu! " serentak Zahra dan pria itu bersamaan.



" Tidak bisa! aku dulu yang memesan! "



"Ribet amat! orang aku duluan juga yang dari tadi disini! "


"Heh! udah tidak mau ngalah lagi! kalo udah dari tadi ngapain nggak pesan dari tadi! "


Begitulah perdebatan Zahra dengan pria itu, pria yang dulu pernah mengisi kekosongan hatinya, dia adalah Devan.



"Pokoknya aku duluan titik! " kecam Devan memicingkan matanya.



"Ada apa ini! " gertak seorang lelaki yang sedari tadi bersama Devan.

__ADS_1



"Itu tuh, cewek itu nggak mau ngalah! " jawab Devan menunjuk ke Zahra.



"Zahra... ya ampun, apa kabar, tidak menyangka, tiga tahun tidak bertemu kamu makin cantik aja, pasti udah sukses ya sekarang... " sapa Gino.



"Ya... lumayan Gin, kamu apa kabar? " tanya balik Zahra.



"Kabar baik Ra... Oh ya, kamu gimana udah nikah belum? " tanya Gino mengulik status Zahra.


"Aku masih single parents gin... " jawab Zahra masih asyik memainkan ponselnya tanpa menghiraukan Devan.


Mengetahui mantan istrinya itu masih single parents, Devan seperti mendapat angin segar, dia bisa mendekati Zahra dan mengajaknya untuk rujuk kembali.


*Flashback on*


Satu jam sebelum pernikahan Devan dengan wanita yang menolongnya itu, wanita itu sudah siap di rias untuk segera melangsungkan akad nikah.



"Riva! Riva bangun nak! " panggil seorang ibu yang memanggil nama putrinya yang akan menikah tersebut. Suaranya menggema hingga ke seluruh ruangan.



Dokter datang dan memeriksa kondisi Riva.



"Maaf Bu, pasien sudah tiada... " ucap Dokter.


Semua yang hadir disana membubarkan diri dan mengurus pemakaman wanita itu.


Ibu wanita itu meminta maaf pada keluarga Devan, jika pernikahannya di batalkan.



Walau pernikahan di batalkan, masih ada sedikit kepedihan mendalam di hati Devan, karena orang yang di cintainya sudah pergi entah kemana


*Flashback Off*


"Maaf gin, aku ada urusan, pak! kopinya buat dia aja ya pak! " teriak Zahra menunjuk Devan, enggan untuk menyebut namanya.


Zahra bergegas berlalu dari cafe itu.


Hati Devan tergelitik untuk mencari tahu Zahra kerja dimana sekarang, "Gin! ayo ikuti Dia! " ajak Devan.



"Tapi..., "


"Sudahlah ayo! Kita tidak punya banyak waktu lagi! " sela Devan mengikuti Zahra dengan mobilnya.


\=\=\=oooOooo\=\=\=



"Kamu ngapain sih ngikutin dia lagi, udah jelas Zahra tadi masih marah tuh, " celetuk Gino di dalam mobilnya.


Devan menonyor kepala Gino, "Aku tidak akan menyerah begitu saja gin... akan ku tebus semua kesalahanku padanya, " tukas Devan, matanya berbinar setelah melihat Zahra.


Gairah hidup Devan seolah kembali setelah bertemu Zahra, sudah tiga tahun Devan begitu merindukan wanita itu, kini tidak lagi menyiakan kesempatan emas ini.



"Van! Itu bukannya mobil Zahra ya... " ucap Gino.



Devan nyelinguk ke arah yang di tunjuk Gino.


"Iya, kamu benar Gin... ternyata dia udah punya butik sekarang, " gumam Devan sembari menghentikan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2